Rabu, 17 April 2019

Jelita Hikmah Pemilu


Hari ini kita mengambil banyak hikmah. Kita mengambil nomor urut dan tahu di waktu ke berapa nama kita disebut. Pun tahu bekal apa yang telah kita siapkan. Semisal nama-nama capres dan cawapres yang sudah jauh lama terkantung di ingatan. Atau nama calon anggota legislagif yang telah kita tentukan untuk mendapatan hak suara kita.

Perhatikan. Hari ini kita belajar banyak.

Bahwa sejatinya, kita hanya menunggu giliran. Kapan panggilan Allah akan datang melalui malaikatnya, Israfil. Kita tidak tahu pula ada pada urutan ke berapa. Ia ghaib. Di akhirat kelak, saat penghitungan amal, kita juga tidak memiliki hak untuk bersuara sehurufpun. Kita memiliki pilihan untuk ditempatkan di Surga. Tetapi segalanya berpulang pada Allah, Dialah yang hak menempatkan kita bergantung pada ketakwaan.

Tetapi pula, kita sejatinya memiliki kesempatan yang sama. Kesempatan untuk mempersiapkan diri untuk dipilihkan tempat terbaik di sisiNya. 💕

#JelitaHikmahPemilu #Pemilu2019 #PAS

Sabtu, 06 April 2019

Kaki Kita, Kelak


Kelak, kaki-kaki kita akan bermulut tajam, tak berhati. Ia akan mengungkapkan seluruh perasaan kepada Tuhannya. Ia akan begitu kuat menyampaikan perihal rasa tidak sukanya dijadikan sebagai alat untuk berangkat menuju ke sebuah tempat yang sejatinya tidak pernah ia inginkan. Kelak, kaki-kaki kita, dengan langkah-langkahnya akan bersaksi dan bermulut manis, punya banyak hati. Ia akan mengungkapkan seluruh rasa bahagianya kepada Tuhannya, kepada seluruh yang ada. Ia akan begitu kuat menyampaikan tentang rasa harunya dijadikan sebagai alat untuk datang mengunjungi majelis-majelis surga, mengunjungi tempat-tempat terbaik di seluruh muka bumi, menemui orang-orang baik, orang-orang shalih-shalihah lalu saling berbagi dan bertukar ilmu. Hari ini, kita mendaku sebagai tuannya, mengaku sebagai pemiliknya yang sah. Merasa berhak atas segala langkah kaki, ia akan dibawa kemana, kepada siapa, untuk apa.

Kelak, kaki-kaki kita akan mampu mengungkapkan seluruh apa yang pernah ia pendam dalam-dalam, ia simpan lama-lama. Ia tidak akan merasa takut pada kita sebab ketakutannya hanya pada Tuhannya. Padahal saat itu kita hanya diam, menunduk malu. Padahal mulut kita sedang terkunci kuat-kuat.

Ilmu Sebaiknya Telaga Kautsar

Rugi sekali kita jika ilmu di dalam kepala tidak dijadikan ilmu di dalam tingkah. Betapa amat kasihan bila kita enggan menjadikan ilmu mi menjadi amal. Betapa hina sekali kita bila ilmu yang sedikit lantas yang datang di dada adalah keangkuhan yang banyak. Padahal bahkan, jika sebiji angkuh saja di sana, tak bisa menjadikan kita bisa membersamai Allah kelak di surgaNya. Padahal bahkan, ilmu itu adalah milik Allah dan akan sangat mudah bagiNya untuk menarik kembali titipan mulia itu. Ilmu seharusnya adalah amal, iman, telaga kautsar, dan Firdaus.

Perempuan Penuh Doa; Mamak



Setiap kali mata saya memejam, yang pertama terlintas adalah wajah Mamak dan Bapak. Lengkap dengan raut wajah mereka yang kulit wajahnya sudah terjatuh. Pun rambut kepala dan alisnya, penuh dengan warna putih mengkilat. Mereka tak lagi terlihat seperti usia tiga puluh atau empat puluh tahun.

Mamak adalah kekasih paling setia di dunia. Hatinya, bahkan seluruh bagian tubuhnya ia mampu relakan untuk kami, anak-anaknya. Ketika kudapati ia bekerja demikian giat dan keras, demikian juga kami memahami betapa cintanya tiada henti. Betapa kasih sayangnya luas tak bisa dibendung. Mamak yang tidak pernah membiarkan kami berjuang sendiri-sendiri, doanya selalu ikut bekerja, menemani langkah kaki kami. "Biarpun tidak meminta, doaku selalu mengiringi." Demikian selalu katanya ketika kami memohon doa restu atas langkah kaki. Lantas, setelah doa Mamak bekerja, kami dapat menata langkah-langkah. Allah membuatnya mudah.

Pernah, pada waktu beberapa malam, ketabahan saya hilang. Pergi entah ke mana. Tangan saya terus memegangi perut yang sakit hingga cucur keringat tak mampu lagi menahan dirinya untuk keluar dari pori-pori kulit. Seluruh bagian kepala saya seperti penuh, akan pecah, akan tumpah. Pada beberapa malam itu, ada seseorang yang dengan giat memberikan pemahaman, memberikan banyak perhatian. Seseorang yang sejak masih usia awal mengandungnya, kasih dan sayangnya selalu bertumpuk banyak, berlapis, hingga memberikan banyak kebaikan. Menjadi atap dan rumah yang paling aman dan nyaman untuk menaruh panas air mata. Ketabahannya selalu menguatkan menguat dan menguatkan. Seperti akar yang mengokoh kuat di bawah tanah, lalu menumbuhkan batang, ranting, dedaunan, bunga, hingga buah yang ranum rasa dan wanginya.

Pernah, pada beberapa waktu, saat berjuang pada kehidupan, tekad saya yang pernah kuat entah lenyap ke bagian bumi mana. Semangat saya ciut. Mirip seperti kerupuk yang lama terkena udara, atau seperti kertas tissue yang terendam air. Pada beberapa waktu itu, ada seseorang yang menjadi penguat. Seseorang yang doanya sungguh melangit hingga berkata, “Tenang saja, Nak. Doa kami (juga Bapak) tak pernah lepas sejengkalpun.” Seseorang itu adalah sosok yang menjadi anugerah terindah dalam hidup saya. Seseorang yang dengan kalimatnya yang bijak, mampu memberi rasa sakinah di dalam dada hingga mampu menjadikan hal-hal yang sebelumnya membuat pikiran penuh dengan buruk menjadi baik laiknya ombak yang menelan buih di lautan. Hilang sekejap, seketika.

Saya selalu percaya bahwa Allah adalah sumber seluruh kebaikan itu berasal. Saya senatiasa memercayai, bahwa Allah tidak akan pernah diam dan membiarkan hambaNya hanya duduk diam dan tidak diberikan apa-apa. Saya selalu percaya bahwa doa Mamak tidak pernah lepas dan adalah doa-doa yang tidak ada batas, tidak ada penghalang, tidak bersekat dengan kabulan dari Allah. Doa Mamak adalah perisai, adalah tombak. Hingga kalimat yang pernah saya baca, “Suksesmu saat ini adalah buah yang tidak lepas dari doa-doa Mamakmu” pun saya benarkan adanya.

Isi dari doa-doa Mamak memang jarang bahkan hampir tidak pernah didengar telinga. Isi dari doa-doanya adalah cinta yang disimpan dan diminta untuk dikabulkan oleh Allah. Bahkan semenjak masih rahim, sejak bulan demi bulan usia kandungan, sejak tangisan pertama terdengar, sejak menumbuh, sejak dunia memulai dirinya untuk memenuhi hidup kami. Doa-doa Mamak adalah doa yang penuh dengan harapan kebaikan bagi keluarganya, bagi anak-anaknya. Doa-doa itulah yang mampu menembus langit hingga lapis ke tujuh. Sebab doa-doa itulah yang Allah bisa jadikan sebagai salah satu takdir kebaikan. Sebab, jika ada takdir yang tidak berpihak, maka doa menjadi satu-satunya cara untuk mengubah takdir. "Tidak ada yang dapat menolak takdir terkecuali doa." Demikianlah bunyi hadis yang pernah Rasulallah saw. sampaikan kemudian dicatat oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Pernah,  saya meminta restu dan doa Mamak. Saya lupa pada kejadian yang mana, tetiba saya penasaran setelah doa-doa itu benar terkabul, “Mak, apa doa Mamak untuk saya? Bagaimana isinya?” Maka pertanyaan saya dijawab begini, “Rahasia. Intinya, doa-doa itu penuh dengan kebaikan.”

Demikianlah Mamak saya. Perempuan yang sederhana, yang penuh dengan harapan dan doa terbaik untuk keluarga dan anaknya. Perempuan yang penuh dengan doa-doa di isi hati dan kepalanya. Saya ingin seperti Mamak. Menjadi perempuan yang penuh doa untuk anak, keluarga, dan banyak orang.

Love you, Mamak. Love you so much!

Makassar, 23 Desember 2018

Kita yang Bukan Langit


Kita tidak pernah lebih daripada tanah tetapi berusaha untuk menjadi penghuni langit kelak adalah sebuah hal yang sama-sama akan terus kita juangkan. Kita tidak pernah lebih besar daripada amanah yang Allah embankan kepada Nabiullah Muhammad Shallallahu 'alaihi wassallam. Tetapi menjalankan sunnah serta hukum islam yang beliau jaga dan terap hingga akhir usia adalah juga amanah kita sebab telah mengikrar sumpah dengan syahadat. Kita tidak pernah lebih daripada lalat yang jika terjatuh dalam bejana berisi air, maka sebagian dari sayapnya adalah racun dan sebagian yang lain adalah penawar atau obatnya. Kita, manusia yang penuh buruk juga baik, yang penuh putih juga kadang hitam hatinya. Manusia yang kadang bermanfaat dan kadang memberi luka kepada saudara. Tetapi, Allah yang Maha Baik, telah menjadikan kita fitrah sejak lahir dan selalu memberikan kita petunjuk untuk selalu mengingatNya dengan shalat dan dzikir. Kita harus pandai benar membaca tanda-tandaNya sebagai bukti cinta yang agung dariNya.

Take care, Muslimah!


Take care, berdakwah tidak selalu mulus. Selalu ada orang-orang yang penuh dengki dalam hatinya, lalu mengolok dan mengejek. Take care, berdakwah tidak selalu mengalami penerimaan. Selalu saja ada yang menolak dan berpaling. Take care, tetapi jangan lengah dari rintangan dakwah yang cukup banyak. Take care, we have to be strong! Allah is always with us.


Belajar Banyak Hal dari Film "The Book Thief"


Setelah menonton film "The Book Thief" (2013) yang menggambarkan seorang remaja keturunan Yahudi yang ketagihan membaca dan mencuri buku untuk membacakannya kepada seorang Yahudi yang jatuh sakit dan disembunyikan di bawah tanah rumahnya, di film itu, saya justru lebih tertarik dengan kisah Hitler dan tentara Nazi-nya yang mengecam seluruh Yahudi untuk keluar dari negaranya, Jerman. Saya tetiba penasaran dan bertanya tentang: mengapa Hitler sangat membenci Yahudi? Hal ini pernah saya tanyakan kepada seorang teman dan tidak menemui jawaban.

Rupanya, setelah membaca buku "Armageddon, Peperangan Akhir Zaman" (Gema Insani, 2003), pertanyaan saya terjawab. Bahwa pada 31 Agustus 1949, Ben Gurion yang merupakan pemimpin Zionis Israel, dihadapan delegasi Amerika yang sedang berkunjung ke Israel menyatakan, "Walaupun kami merealisasikam mimpi kami untuk menciptakan sebuah negara Yahudi, kami masih berada dalam tahap permulaan. Sekarang hanya ada 900 ribu orang Yahudi di Israel, sementara itu mayoritas orang Yahudi masih berada di luar negeri. Tugas masa depan kami adalah membawa seluruh orang Yahudi ke Israel."
Nah, untuk merealisasikan kembalinya bangsa Yahudi ke Israel, maka para pemimpin Zionis membuat program pemaksaan agar seluruh Yahudi yang berada di luar Israel segera kembali ke Israel. Di antaranya adalah kerja sama atau kesepakatan rahasia antara Zionis dan Nazi Jerman agar dengan kekejaman tentara Nazi tersebut, maka Yahudi di Jerman segera pergi ke Palestina.

Dalam film "The Book Thief" yang mengklaim sebagai kisah nyata yang terjadi pada Februari 1938, orang-orang Yahudi diusir dari Jerman dimana mereka telah banyak bermukim di sana. Siapa saja yang membela Yahudi, siapa saja yang ketahuan menyembunyikan seorang Yahudi di rumahnya, maka akan dihukum berat bahkan dibunuh. Kekejaman yang dilakukan oleh tentara Nazi untuk menciptakan kondisi tidak nyaman dan orang Yahudi memilih kembali ke negaranya.
Selain di Jerman, juga dilakukan teror untuk mengganggu orang Yahudi di Polandia dan Irak yang disebut sebagai teror Haganah, dikomandani oleh Ben Gurion sendiri yang bertujuan sama yaitu agar orang Yahudi kembali ke Israel.
Hal ini tentu beralasan, mengumpulnya Yahudi di Israel, merupakan janji Allah yang terakhir dan akan memicu mereka berkumpul di Yerussalem sebagai tempat mereka akan diazab dengan azab yang pedih. Mereka yang berasal dari berbagai negara telah menyebabkan berbagai perubahan kultur, bahasa, dll, sehingga keadaan mereka saat dikumpulkan seperti logam yang bercampur baur/berlainan jenis.

"Dan kami berfirman setelah itu kepada bani Israel, 'Berdiamlah kalian di bumi ini dan apabila datang Wa'dul Akhiroh (janji akhir), niscaya kami akan mendatangkan kalian dalam keadaan bercampur baur.'" (Q.S Al-Israa: 104)
.
.
.
.
Makassar, 10 Juni 2016

Jelita Hikmah Pemilu

Hari ini kita mengambil banyak hikmah. Kita mengambil nomor urut dan tahu di waktu ke berapa nama kita disebut. Pun tahu bekal apa yang t...