Senin, 17 Juni 2013

Cerita Pagi Tadi


Pagi ini hujan mengguyur ke bumi. Baru kali ini tampak begitu akan malam saja yang ingin hadir. Awan begitu gelap. Menggumpal dan terlihat penuh. Air yang ia tampung. Begitulah yang kuketahui. Bahwa hitamnya awan karena ada air hujan padanya.

Masih jam stengah 8, terlihat seperti akan malam. Aku masih bermalas-malasan di kamar. Keadaan tak memungkinkan untuk ku terbangun. Menyiapkan bekal yang sudah kuwanti-wanti sejak semalampun belum terlalu kupedulikan. Suara ayah dan ibu bergantian untuk didengarkan.

"Sekarang sudah jam berapa?" Ibu meneriakiku.

"Kamu sebenarnya masuk jam berapa kuliahnya?" Gantian suara ayah yang terdengar.

Aku kalut saja, tak kupedulikan seruan mereka. "Masih ngantuk..." Kataku.

Pagi yang begitu sejuk membuatku tetap bertahan di atas kasuk empuk pemberian ayah untuk ibu pada lebaran tahun kemarin. Betapa bahagianya perasaan ibu saat itu. Diberikan surprise oleh ayah meski hanya sebuah kasur yang orang-orang biasa katakan "Spring Bed".

Rencanaku ke kampus hari ini pukul 10 pagi. Mancari tugas kuliah Sejarah Peradaban Islam. Juga untuk menghadiri rapat salah satu organisasiku. Aku tak kuliah. Yah, aku ke kampus hanya untuk urusan mereka berdua. Tugas yang semestinya aku emban dan mempertanggung jawabkannya.

Maka, dengan rasa penuh tanggung jawab, kuangkat kepala ini pelan-pelan karena terasa berat kurasa. Bukan berat karena sakit kepala, tapi karena mataku masih mengajak untuk ditutup. Masih mau tidur tepatnya. Gara-garanya hujan yang datang tanpa berkata terlebih dulu.

Kubuat nasi goreng ala resepku yang biasa saja, tapi mungkin bagi orang lain luar biasa rasanya. Aku bukannya geer, tapi memang begitu kata mereka. hehe.

Singkat cerita, nasi gorengku pun jadi. Enak rasanya, memang enak. hehe. Orang-orang bugis biasanya berkata "Puji Ale", artinya memuji dirinya sendiri.

Singkat cerita lagi au sarapan, mandi lalu berangkat :D
Ah, gitu aja ceritanya. Nanti dilanjut :D
#Gak seru heheh :D


Jumat, 24 Mei 2013

Happy Birthday My Self

Hari ini usiaku telah terjejaki di anak tangga 21. Sebuah usia yang katanya telah menginjak usia dewasa. Sebuah usia yang tanggung jawabnya tak main-main. Sebuah usia yang sangat dan sangat memberikan eksempatan untukku berpikir lebih baik dan lebih produktif lagi.

Terima kasih, ya Allah. Engkau Masih memberi kesempatan hari ini untuk hadir. Memberiku kesediaan untuk tetap mendengar dan membaca ucapan-ucapan "Mel Ultah" dari Sahabat-sahabatku, Kakak dan adi-adikku. Memberiku kesempatan untuk tetap menatap wajah kedua orang tuaku. Memberi esempatan untuk tetap menghirup udara gratis darimu.

Tuhan, hari ini akan aku ingat dan aku ukir dalam tiap bait hidupku. Tak ingin aku menggoreskan secelah cacat setelahnya. Kalaupun ada, mungkin aku khilaf ya Allah. Sebagai manusia iasa, itu fitrah.

Happy birthday My Self, Wish me luck and Success. Satu lagi, semoga cita-cita dan harapan terbesarku untuk menjadi seorang penulis bisa tercapai. AAMIIN :)



Sabtu, 11 Mei 2013

Cleopatra, Aku Sudah Tahu!

Cleopatra. adalah nama yang sebelumnya asing buatku. Nama Cleopatra baru kudengar dan kukenal belakangan ini. Bisa dibilang masih beberapa bulan yang lalu. Pertama kali kudengar, nama Cleopatra belum menjadi daya tarik buatku. Yang kutahu sebelumnya hanyalah bahwa Cleopatra adalah seorang putri dari Mesir. Hanya itu. Aku belum pernah mencoba untuk mencari tahu tentangnya secara menyeluruh. Apalagi untuk membeli buku atau sekedar meminjamnya di Perpustakaan lalu membacanya. Aku belum tertarik saat itu.

Di bulan-bulan berikutnya, nama itu selalu saja terdengar di telingaku. Entah itu melalui kawan, cerita-cerita pendek yang menyinggug sedikit nama Cleopatra, ataupun suara di televisi yang kebetulan hanya kudengar saja lalu berlalu. Muncullah rasa penasaranku terhadap nama yang menurutku mungkin fenomenal seantero dunia.

Sore kemarin, aku kembali didengarkan dengan nama itu. Di salah satu TV Swasta, dimana Olga Syahputra berperan sebagai Cleopatra, versi acara itu. Yah, aku tahu kalau Cleo adalah seorang wanita. Tetapi aku tahu juga kalau Olga adalah lelaki, tetapi masyarakat tahu betul kalau Olga itu bagaimana orangnya. Segeralah aku menyimak cerita itu yang diselipi banyak humor. Nah, muncullah keinginanku untuk segera mengetahui, Siapa sebenarnya si CLEOPATRA itu. Kenapa dia begitu fenomenal. Karena namanya seringkali menjadi bahan cerita di telingaku.

Aku tak ingin membeli buku, ataupun meminjam buku yag berbicara tentangnya. Karena aku juga tak tahu harus beli di mana. Di Gramedia rata-raat bukunya adalah buku baru. Jarang ada buku yang mengangkat tokoh,  peristiwa atau kejadian antik seperti Cleopatra itu. Apalagi di perpustakaan kampus. Mana mungkin ada buku yang menyingggung tentang sejarah Cleopatra. Kalaupun ada, mungkin namanya hanya  akan disinggung sedikit karena bercerita tentang ayahnya, Firaun. Si raja Mesir yang terkutuk itu. Maka, beralihlah aku ke Google. Si buku dunia yang selalu menyediakan waktu untuk memberikan ilmunya 0,00001 sekian ilmu perharinya.

Setelah bergelut dengan tuts-tuts di keyboard. Mengetikkan "Siapa sih, Cleopatra?" Maka, kuperoleh ini: Cleopatra adalah ratu Mesir sekitar 2.000 tahun yang lalu. Dia cerdas, bangga, berkemauan keras, dan dia bertekad untuk menjaga dirinya bebas dari negara penjajah. Ketika tentara Mesir dikalahkan oleh orang Romawi, Cleopatra memutuskan dia lebih suka mati daripada diambil tawanan. Menurut legenda, ia memegang ular beracun pada tubuhnya. Cleo lalu digigit ular, dan ia meninggal.

Dari situlah aku mengambil kesimpulan bahwa wanita yang satu ini adalah wanita yang mempelopori perjuangan wanita terhadap penjajahan kaum lelaki yang menguasainya. Dengan semangat yang tiggi, dengan perjuangan yang tinggi, dan kemauan yang keras. Makanya ia dijadikan sebagai salah satu inspirasi dan termasuk salah satu wanita yang berpengaruh di dunia.

Rasa penasaranku kini telah terusaikan. Aku telah mengenal si Cleo. Si wanita yang memberi tanda tanya dan telah terjawabkan.

Pelajaran dapat iperolah di mana saja dan apapun itu. Jika kebanyakan mata memandang memandangnya negatif. Maka, dari diri sendirilah bagaimaan kita mamapu menyikapi hal tersebut. Misalnya, mengambil pelajaran hidup darinya.

KENALILAH DUNIAMU, MAKA DUNIA AKAN MENGENALMU. ;)

Rabu, 17 April 2013

Knowledge is Step by Step

Banyak hikmah yang bisa kita peroleh dari bangku kuliah, dari dosen-dosen yang mempunyai dedikasi tinggi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan akhlak para mahasiswanya, bahkan pada mahasiswa itu sendiri dimana yang didapatkan bukan hanya ilmu tapi pengalaman yang begitu dan begitu berharga. Seperti halnya oleh dosen Etika Profesi Keguruan (ku), sebut saja namanya Pak Rusli Malik. Beliau adalah salah seorang politikus di salah satu partai baru saja dilegalisasi di Indonesia. Umurnya yang sudah kepala 5 tak pantas menjadi gambaran wajah dan pribadnya yang terlihat oleh kasat mata sangat muda seperti masih kepala 3. Beliau seringkali bolak-balik Jakarta-Makassar, katanya sebagai persiapan pencalonannya sebagai anggota DPR-RI.

Materi kuliah yang diberi pada kesempatan itu adalah "Kompetensi yang Harus Dimiliki Dalam Mengajar". Yang pertama beliau menjelaskan tentang Kompetensi Individual. Kompetensi Individual tidak hanya harus dimiliki oleh seorang pendidik, tetapi juga harus dimiliki oleh peserta didik. Akan tetapi seorang pendidik harus memiliki setiap karakter dalam dirinya, bukan berarti berkepribadian ganda, ya, ini dikarenakan agar pendidik mampu memahami setiap karakter yang berbeda-beda dari setiap peserta didik.
Kompetensi ini juga berdasar pada bakat dan minat yang dimiliki oleh peserta didik. Agar mampu dikembangkan dan dilestarikan.

Yang kedua, Kompetensi Paedagogik atau lebih populer dengan Kompetensi Pendidikan. Pada kompetensi ini, beliau membahas tentang "Orang yang ketika kecil rajin, maka besarnya ia akan malas. Sebaliknya, apabila kecilnya malas, maka besarnya ia akan rajin." Sebelumnya kami bertanya-tanya maksud dari kalimat tersebut. Lama kami bingung, beliau lalu menjelaskannya. "Maksudnya begini,, mereka yang ketika kecil rajin belajar, besarnya akan menjadi malas, bukan malas karena apa, tapi hidupnya tak lagi dirundung pilu, hanya bisa ongkang-ongkang kaki di kursi jabatan, mengendarai mobil mewah dan memiliki rumah sendiri. Nah, kalau yang kedua, mereka yang malas ketika kecil maka besarnya ia akan rajin. Maksudnya, rajin mencari pekerjaan ke sana ke mari karena tidak ada yang menerimanya, sehingga jadi tukang becak pun adalah pilihan terakhir." Jelasnya sambil tertawa sedikit. "Oleh karena itu adik-adik (begitu panggilannya pada Mahasiswa) sedari kecil dan sekarang kalian harus giat belajar. Karena rajin pangkal pandai." Begitu lanjutnya. Kembali lagi kami teringat memori pada puluhan tahun silam saat masih terbungkus baju seragam merah putih. Peribahasa yang menjadi sarapan tiap hari di koridor sekolah.

Ketiga adalah Kompetensi Sosial, seorang pendidik dan peserta didik selain harus memiliki kompetensi individu, juga harus memiliki kompetensi sosial. Dimana melalui kompetensi ini mampu terjalin komunikasi yang baik antar satu orang dengan yang lainnya. Lalu yang dibutuhkan dalam kompetensi ini adalah kemampuan mengendalikan Emosional Question (EQ) karena jika yang ada hanya Intelektual yang bermain, maka sangat sulit menjalin komunikasi yang baik sehingga akan menghambat Kompetensi Sosial yang sebenarnya sangat perlu ditanamkan. Dibawa seru saja, kami terhanyut pada wibawa beliau yang santun dan tenang dalam bertutur. Sesosok pendidik yang membuat tenang jiwa para peserta didiknya.

Nah, yang terakhir adalah Kompetensi Kepribadian. Masih segar dipikiranku, kurang lebih mengenai kompetensi ini, beliau bertutur bahwa Din Syamsuddin dalam Milad Enrekang beberapa bulan lalu  berkata bahwa anak-anak usia sekolah di Jepang telah dididik dalam bersosialisasi dan mampu mandiri sejak kecil. Sebagai contoh, saat SD mereka dibiasakan membawa 2 gelas kosong ke Sekolah. Ketika mereka bertanya untuk apa?, jawabannya singkat, gelas pertama untuk mencari air minum yang memang sudah tersedia di lingkungan sekolah. Gelas kedua untuk mencari air dengan usaha sendiri. Jadi intinya mereka telah didik untuk mandiri sejak kecil. Maka lihatlah sekarang Jepang bagaimana, tak perlu ku jelaskan, kalian sudah tahu.

Sebuah kompetensi adalah hal yang menjadi dasar bagaimana manusia terdidik sebagaimana mestinya, sebenarnya, dan seharusnya. Karena tujuan dari pendidikan itu sendiri adalah Memanusiakan Manusia sesuai dengan pemikiran para pakar Psikologi. Tetapi dalam hal ini tergantung bagaimana seorang individu itu mampu memanfaatkan setiap kompetensi lahiriah maupun kompetensi kebiasaan yang ada pada dirinya

Inilah cerita singkat yang mungkin bermanfaat dari bangku kuliah yang menampungkan ilmunya kepada saya, kepada kamu, dia, kalian, dan mereka.

Salam Senyum :) :) :) :)

Senin, 15 April 2013

Jam dan Tuhan?

Ada hal lucu tadi siang, oleh Dosen Aqidah Akhlak yang menjelaskan mengenai materi kuliah "Akhlak terhadap Allah". Sebenarnya sih tidak terlalu lucu atau lucu-lucu amat. Atau mungkin bisa dibilang tidak lucu sama sekali. Ini mengenai pemikiran Jabariah, seorang filsuf  yang mengadakan penyamaan pengawasan Tuhan dengan Jam. Iya, jam. Katanya, jam adalah buatan manusia, memang. Tetapi ketika jam itu telah jadi, maka jam itu akan dibiarkan jalan sendiri, si pembuat tidak lagi peduli. Artinya, jarum jamnya bebas berputar ke arah jam mana saja. Jabariah mengumpamakan hal itu dengan pengawasan Tuhan yang katanya seperti itu juga. Jika telah menciptakan manusia di bumi, maka Tuhan lepas tangan. Jalan dan hidupahlah manusia sesuai dengan kehendak manusia itu masing-masing.

Sebuah pemikiran yang sebenarnya logis, tetapi tak patut untuk di konsumsi. Logisnya, jam memang tak perlu lagi butuh si empunya tangan yang membuatnya, karena ada mesin yag menggerakkannya. Nah, yang tidak patut untuk dikonsumsi, adalah menyamakan si pembuat jam denga Tuhan. Bisa tidak?. Tentu tidak.

Terkadang setiap hal yang kita pikirkan adalah hal yang sebenarnya masuk akan tetapi tidak semua hal bisa dilogikakan. Begitupun dengan Tuhan. Aku pernah ditanyai oleh seorang teman. Beberapa minggu lalu tepatnya. Menurutku ini aneh kedengarannya. Tepatnya pernyataannya yang membuat saya sedikit bingung dan hanya bisa tersenyum mendengarnya. Katanya begini: "Saya mau bertanya. Siapa yang menciptakan batu?". Tuhan, jawabku. Lalu ia kembali bertanya, "Kalau tuhan yang menciptakan batu. Sekarang Tuhan di mana? Kenapa dia tidak bisa mengangkat batu? Tampaknya pun tidak ada." Katanya dalam yakin sambil terus menatapku.
 

Aku hanya bisa tersenyum dan terus berpikir kenapa bisa-bisanya dia berkata seperti itu. Aku hanya berlalu, bukan karena aku tak peduli pada pendapatnya, apalagi jika ingin berpikir bahwa pendapatnya sama sekali tak kuhargai. Tetapi aku hanya malas berdebat dengan hal yang semestinya tak kesemua hal bisa diartikan dalam logis. Manusia memang diberi bekal akal tak ayalnya hewan. Tetapi, bukankah semua hal itu tak bisa dilogikakan?. Bukankah semua hal itu tak nyata?. Ada kalanya sesuatu itu bisa dirasakan melalui hati. Bukan mata melalui pikiran yang sebenarnya hanya diberi oleh Tuhan. Maka, Bersyukurlah.

Tentu kita tahu, bahwa yang menciptakan dunia dengan nikmat yang tiada banding adalah Allah SWT semata. Tak ada yang mampu menyamainya. Bahkan untuk mereka yang sombong, bangga karena memiliki ideologi yang tinggi sekalipun. Jika ditanya kenapa, ya karena yang menciptakan manusia adalah Allah. Mungkinkah sifat dan wujud Tuhan (Allah) bisa disamakan dengan manusia?. Yang seenak jagung mengangkat batu yang bertebaran di dunia, seenak jigong menyombongkan diri di pijakan bumi?. Tidak, tentu tidak. Tidak ada yang menyamainya. Apalagi manusia yang hanya ciptaannya.
Ingat... "Allah Maha Esa."

"Maka nikmat TuhanmMu yang manakah yang engkau dustakan?" (Q.S Ar-Rahman (55) :13)



Kamis, 11 April 2013

Teguran di Setiap Detik

Begitu banyak nikmat Allah yang begitu mahalnya jika dihargakan dengan uang. Udara untuk bernafas, makanan yang adanya dimana-mana, air yang melimpah ruah, rumah untuk berteduh, dan masih banyak lagi nikmat-nikmat lainnya yang tak dapat dibayarkan dengan rupiah bahkan untuk ukuran dollar sekalipun yang nilai indeksnya terus menjauh dari nilai rupiah. Sungguh sebuah berkah yang tiada batas untuk kita syukuri.

Seperti tadi siang, Kota Makassar yang mataharinya begitu terik hingga terasa masuk sampai ke ubun-ubun, menyambut kami sesaat setelah jam kuliah selesai. BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) belakangan ini menyatakan bahwa tingkat derajat suhu panas di kota Makassar mencapai 35 derajat. Tepat di Jl. AP Pettarani, aku menaiki angkot (Pete-pete; red) bersama seorang teman, sebut saja namanya Kiki. Aku terkadang menertawai diri sendiri karena inilah resiko karena tidak bisa mengendarai motor. Memang sudah beberapa kali kumencoba untuk belajar, tetapi gagal. Badanku pegal-pegal dibuatnya. Sama halnya dengan Kiki, tapi bedanya dia sama sekali tidak pernah belajar, tidak ada yang mengajarinya, katanya.

"Panas sekali, ya." Eluhku sambil melap peluh yang tak segan mengalir di wajah.
"Iya, angkotnya juga lama sekali jalannya." Tambah Kiki mendukung argumenku.

Terlihat sopir angkot sedang mencari-cari penumpang. Hingga membuat angkotnya maju mundur, mundur maju. Sementara penumpang awal hanya kami berdua, terpaksa kami menunggu hingga pak Sopir puas dengan jumlah penumpang yang memang diinginkannya untuk sekedar memenuhi kebutuhan pokok untuk istri dan anak-anaknya di rumah.

Satu dua penumpang mulai menampakkan diri, semakin menambah rasa ketidaksabaran untuk angkot segera melaju meninggalkan sedikit rasa panas yang tak lagi hanya di ubun-ubun tetapi sudah menjalar hingga ke pembuluh darah di otak. "Ya Allah, panas sekali." Eluhku lagi. Kiki hanya tertawa lirih.

Pak sopir sepertinya belum puas dengan penumpang yang masih bisa dihitung jari, 4 penumpang. Ya, mungkin Pak sopir berpikir kalau itu belum cukup. Sesekali ia menengok kami dibelakang yang haus akan angin untuk sekedar meredam sedikit rasa panas yag membabi buta. Ku lihat ia sama sekali tak peduli. "4 dikali 3000, dapatnya hanya 12.000. Tunggu saja dulu, pasti masih ada penumpang lagi." Mungkin itulah yang ada dibenaknya, pikirku.

"Pak, Allah itu Maha Baik. Kalau bapak jalan, di depan pasti ada penumpang yang menunggu. Rejeki tidak lari ke mana, kok, Pak." Kataku membisik sedikit pada Kiki yang ikut tertawa karena memang aku hanya bercanda tapi sedikit serius.
"Hahaha, iya. Betul." Tambahnya menambah tingkat derajat ketawa kami.

Penumpang lain sepertinya hanya mengeluh pada hati, karena mereka jalan sendiri tanpa ada yang menemani. Kalau ada yag bisa mereka ajak ngobrol mungkin akan lebih heboh dari desah kami. Seorang penumpang lelaki dan seorang ibu-ibu paruh baya ikut merasakan desah eluh kami.

Tiba-tiba...
"Satu dua satu dua satu dua..." Suara yang terdengar seperti mengeram tiba-tiba menghentakkan kami. Kami berbalik, terlihat 2 baris kelompok pemuda tanpa mengenakan baju. Hanya mengenakan celana panjang berwarna hijau sambil berlari, berbaris mengikuti irama satu dua yang mereka teriakkan. Tampaknya mereka adalah calon tentara.

"Lebih panas mana, kita atau mereka?" Tanya Kiki memecah pandanganku. Lalu berbalik menatapnya.
"Iya. Lebih panas mereka. Alhamdulillah kita hanya merasakan rasa panas dengan perantaraan angkot ini. Nah, mereka langsung sinar matahari itu yang menggerogoti mereka. Mereka terlihat tak peduli sama sekali." Kataku membalas pertanyaan Kiki. "Kita jangan memandang yang di atas, cobalah menengok ke bawah, masih banyak yang lebih tidak beruntung dari kita." Tambahku mengajari diri.
"Iya, itu benar." Tungkasnya lalu tersenyum.

Pasukan tentara yang sepertinya masih dalam rangka penerimaan anggota baru itu, kini berada disamping angkot yang sedang kami tumpangi. Kami tersenyum bangga pada mereka. Calon-calon abdi negara yang akan mengharumkan dan menjaga kesatuan NKRI, pikirku. Beberapa dari mereka terlihat berbalik tanpa senyum berarti, mungkin lelah tapi mungkin juga karena terlalu fokus pada tugas yang sedang mereka emban.

Penumpang satu persatu naik hingga kami berjumlah 6. Sepertinya pak sopir sedikit puas, karena ia langsung melajukan angkotnya yang mungkin juga telah mengeluh dengan terik yang tak ada ampun itu. Angin sepoi-sepoi sepanjang jalan AP. Pettarani menyambut kami layaknya raja dan ratu saat menapaki kaki di red carpet istana, Semilir angin kini tak segan menghadirkan diri tanpa banyak pikir. Ranting-ranting pohong bergerak menyapa kami diikuti suara-suara klakson mobil dan motor yang membisingkan telinga. Tetapi syukurku tak goyah. Ku lihat di ujung jalan ada seorang bapak-bapak yang tidur di pinggir jalan, yang semakin menambah tingkah kesyukuranku hingga naik ke medium 4. Kalimat Alhamdulillah tak henti kulantunkan, betapa banyak hal yang aku  dan orang lain belum syukuri pada nikmat yang sebenarnya sangat besar ini. Masih diberi kecukupan dari kebanyakan orang, masih diberi kesempatan untuk tetap menghirup udara gratis.

Aku pernah membaca sebuah berita di internet. Mengenai seorang pria yang kini hidupnya bergantung pada sebuah tabung oksigen. Udara yang ia bayar hingga ratusan juta rupiah untuk sekedar tetap bertahan hidup. Sungguh, sebuah hal yang sangat miris. Padahal selama puluhan tahun silam ia hidup menghirup udara yang gratis. Lama kubaca, ia kemudian menyesal atas segala apa yang ia lakukan selama mendapatkan udara tanpa bayaran itu. Katanya ia hanya berfoya-foya, dibudakkan oleh dunia yang memanjakannya. Lantas, sekarang apa?. katanya.

Hidup ini sebenarnya adalah sebuah teguran di setiap detiknya. Teguran untuk tetap mensyukuri atas apa yang telah kita peroleh, hingga kita menganggap hal itu masih sedikit padahal adalah sebuah hal yang sangat besar mudharatnya.

ALHAMDULILLAH, ALHAMDULILLAH, ALHAMDULILLAH.
Terima Kasih Ya Allah. :)

Senin, 08 April 2013

FLP

"Menulis adalah tradisi orang berilmu, tradisi orang hebat." -

Kabar yang kutunggu-tunggu dan sempat membuatku putus asa, akhirnya datang tepat tengah malam jam 12 lewat pada malam minggu kemarin yang semestinya mengistirahatkan pikiran dari aktifitas sedari pagi. Oleh seorang seniorku di kampus, dia memberiku kabar berita yang membuatku seketika itu menerimanya. Langsung saja, yaitu menjadi salah seorang anggota FLP (Forum Lingkar Pena) di Kampusku, UIN Alauddin Makassar. Kegiatan ini sekaligus merekrut anggota baru sekaligus sebagai pengurus FLP Ranting UIN Alauddin periode petama. karena katanya, FLP UIN sempat vacum selama 5 tahun terakhir. Entah kesibukan dari pengurus-pengurusnya ataupun karena niat mereka memag tidak ada untuk FLP ini.

Sebenarnya, FLP telah lama menjadi incaranku untuk meningkatkan kemampuan menulis sastra, kalau bisa mencapai level medium saja dululah. Baru setelah itu ke medium andal. Amin.

Menurut pengamatanku dari berbagai sumber, baik itu di buku ataupu di Internet, FLP telah banyak melahirkan penulis-penulis andal dari berbagai penjuru Indonesia. Sebut saja, Kak Adi Wijaya, yang merupakan FLP Unhas dan sekarang telah melahirkan 3 buku yang berkaitan dengan sejarah Islam. Salah satunya adalah Sejarah Perang Uhud. "Seorang penulis itu adalah yang menulis dengan ideologis, bukan semata-mata karena uang (royalti) apalagi hanya ingin menjadi tenar. Tetapi, ketika kita menulis dengan ideologis, semata-mata untuk mengharap ridho Allah, maka semuanya akan kita peroleh baik itu royalti ataupun ketenaran, dan pastinya ridho dari Allah." Begitulah katanya saat membawakan materi "Motivasi Menulis" dalam kegiatan perekrutan anggota baru FLP UIN Alauddin, 07 April lalu.

Lain halnya dengan seorang cerpenis yang sejak 2004 menjejakkan kaki di FLP Unhas, sebut saja namanya Hamran Sopu. Beliau juga adalah salah seorang pemateri yang giat dalam menulis fiksi. Bahkan menggarap novel sedang ia lakukan. "Novel saya sudah ditolak berkali-kali oleh penerbit, katanya terlalu tebal, hingga mencapai 500 halaman". Katanya dalam menyampaikan materi mengenai "Belajar Menulis Fiksi (Cerpen)". Akupun tersontak heram plus kagum. "Waw, hebat. Hampir menyaingi novel J.K Rowling yang tebalnya bejibun gunung. Novel pada umumnya hanya berkisar paling minimal 200 lembar. Atau bisa juga dibawahnya.

Pemateri pada pagi itu ada 3 orang,  satu lagi membawaka materi tentang cara membuat puisi. Aku paling senang dalam hal ini, tentu bagi teman-teman yang lainya juga. mereka sangat antuasias saat diberikan bekal menulis puisi yang baik. Apalagi saat kami ditantang untuk membuat beberapa puisi dari beberapa tema yang diangkat. "Wow, Expecta!!!"

Setelah kegiatan perekrutan itu, kami kemudian dikukuhkan dan dinyatakan sebagai anggota FLP bawahan FLP Sulawesi Selatan, oleh Kak Hamran Sunu.

Kami akan memulai minggu depan lagi. Memulia sekolah menulis dari FLP Ranting UIN Alauddin agar mampu bersaing dengan FLP Ranting lain untuk menjayakan FLP melalui dakwah Islam dan tentunya untuk UIN Alauddi sendiri tempat kami memijakkan kaki kesusuksesan Akademik.

Disinilah sekolah menulis yaang akan menjadi pengalaman baruku dalam dunia kepenulisan setelah sebelumnya dan sampai sekarang masih aktif dalam sebuah komunitas menulis di Facebook.

"Menulis itu bekerja untuk keabadian..." - 

FLP...
Terima Kasih.

Rabu, 03 April 2013

Ayah

Malam ini kudengar begitu dalam nafas sesak Ayah yang membuatku tersayat sakit
Baru kali ini kesempatan itu menghampiriku ketika aku sibuk dengan urusan dunia yang akan memberiku jalan ke arhirat kelak
Sungguh, Ayah. Aku hanya bisa terdiam menatapmu kosong dengan rasa kasih sayang ini.
Aku tidak bisa tersenyum membentuk kubangan indah yang selalu kau inginkan untuk terlukis di hidup kami, putra-putri yang telah engkau didik dalam kehangatan yang bertumpuk-tumpuk.

Jumat, 29 Maret 2013

The Real Happy :)

Aku bukannya baru menemui hidup yang seperti ini. Yang seperti kata orang adalah indah jika dihayati begitu dalam, apalagi menggunakan hati. Aku juga tidak pernah berpikir kalau yang kata orang itu indah akan menyelinap merasuki hidupku yang awalnya biasa-biasa saja. Ah, entahlah, aku tak mau berbicara banyak masalah itu.

Saat ini aku bukanya tak mau, apalagi tak ingin. aku mau apalangi kalu dibilang ingin. Tetapi waktu yang belum membiarkan kata mau dan ingin itu mendapat izin di halaman-halaman selanjutnya, seperti kata Anas "Masih ada halaman-halaman lain". hehehe

Aku pernah mendengar sebuah kalimat dari seorang yang bijak dari Sahabat saya di Kampus, namanya Rasna, Dia sempat membaca sebuah buku motivasi di Gramedia saat kami pergi bersama sebulan yang lalu, Katanya begini: "Kalau kita terus berkata tidak, maka kita akan berada di tempat yang sama". Nah, lho?
Bijak sekali memang. Tetapi tetap tak merubah pendirianku pada hal yang Allah tak memberiku izin untuk saat ini. Aku tak ingin banyak orang mengetahui apa itu. Cukup Allah dan Aku saja yang tahu. :)

Memang telah termaktub dalam al-qura nan suci bahwa manusia harus saling menyayangi. Yah, aku telah melakukannya. Sayang kepada Ibu, ayah, sahabat, teman, tetangga, bahkan seseorang yang tak dapat ku sebut namanya. Tetapi, rasa sayang itu akan ada pada puncaknya ketika Allah memberi izin membuka hati dan waktu yang masih menjadi rahasianya.

Kebanyakan teman berbicara masalah hati. Entahlah, aku tak mengerti maksud mereka. Apa yang mereka rasakan aku tak rasakan. Hak mereka untuk berbahagia dengan hati yang mereka sayangi sebagai seseorang yang katanya special itu. Whatever, aku tak peduli. Akan ada waktunya "The Real Happy" itu
akan singgah dan menetap sebagai hati yang akan ku simpan selamanya. :)


Minggu, 24 Maret 2013

Maafkan Aku, Kawan.

Maaf, kawan. Aku tak berniat mngecewakanmu.
Aku tak pernah bermaksud menaruh sedih di hatimu di malam yang semestinya mengistirahatkanmu dari gucangan dunia sedari pagi tadi
Tetapi sungguh, tak ada niat aku melakukannya
Baik itu dalam hati ataupun ucap yang telah terlanjur terlontar dan tersimpan di memorimu

Maaf, kawan. Sekali lagi Maaf.
Aku juga manusia seperti kalian dan mereka yang sering kali menitip kecewa pada yang bukan tempatnya
Tetapi sekali lagi, bukan itu yang sebenarnya menjadi niat dan keinginan dari hati dan pikiran ini
Aku hanya bercanda.
Tahukah kau aku hanya bercanda.

Aku pikir aku telah engkau kenal
Baik sikap, pribadi, maupun canda yang selalu menjadi buah bibir tatkala kita bertemu
Aku tak pernah menyalahkan siapa-siapa
Apalagi mencoba untuk membenarkan diri sendiri
Tetapi apakan kamu masih menjadi dirimu yang dahulu ketika kecewa yang tak kurencanakan terlanjur terjadi?

Maaf, Kawan. Maafkan kawanmu yang lalai ini
Yang telah merusak cermin hatimu yang tak akan pernah utuh seperti sedia kala lagi
Aku sungguh lalai,
Sekali lagi Maafkan aku.

Minggu, 17 Maret 2013

Sebuah Predeo Dari Allah

Tadi pagi aku baru saja pulang dari kegiatan Raker jurusanku HMJ PAI di Benteng Somba Opu. Di pinggir jalan di sekitar kompleks Benteng Somba Opu yang didirikan oleh Sultan Gowa IX, Daeng Matanre Karaeng Tumapa' risi' kalonna pada tahun 1525 ini tampak banyak orang yang berlalu lalang. Terlihat di sepanjang jalan kompleks itu sebuah bukit panjang dan ditumbuhi rerumputan hijau yang entah itu buatan atau bukan. Dari atas bukit itu juga berjejeran puluhan anak manusia yang mungkin sedang memandangi danau di pinggir jalan setelah bukit itu. Karena setelah menengok dan memandangi apa yang sebenarnya membuat daya tarik sehingga mereka berkerumun membentuk lautan manusia, terlihat hanya danau yang kira-kira berukuran 40-50 meter itu. Mereka ada yang terdiri dari anak muda-mudi yang berpasangan, ada juga orang tua dan anak-anaknya. Bahkan mungkin karena kuota di atas bukit yang sebenarnya dijadikan sebagai jalan raya itu tidak mampu lagi menampung puluhan manusia lagi, di pinggir jalan tepat di bibir danau yang sebenarnya lagi tertutupi oleh pembatas, sebut saja 'seng' juga dipenuhi pasangan yang seperti yag saya jelaskan sebelumnya. Tampak dari dalam mobil Avanza yang kutumpangi, langit biru yang diaraki awana-awan putih yang menyambut jiwa-jiwa para pecinta suasana alam pada pagi itu. Terlihat menakjubkan ketika kupandangi langit yang terlihat dekat padahal jauh itu.
"Dek, coba perhatikan. Kalau kita mau melakukan hunting di sini, keren, ya." Tanyaku pada adik juniorku yang belum kuketahui namanya.
"Iya, kak. Benar banget". Balasnya singkat.

Mobil dikendarai oleh Ketum HMJ yang baru saja 2 bulan menjabat itu, Sebut saja namanya Kak Takdir. Dia amat ramah kepada juniornya, mungkin karena rasa terima kasihnya karena telah memilihnya dalam PEMILMA awal Januari lalu. Ah, tidak. Kak Takdir memang baik. Belum ada kesalahan yang pernah kudengar darinya. Kalaupun ada, itu hak kodrati yang dimiliki tiap manusia. Dan merupakan hal yang sangat mutlak dan pasti ketika ada kekurangan pada diri.

Aku turun di pinggir jalan A.P Pettarani untuk mengambil mobil jurusan 07. "Saya antar sampai rumah saja, Dek." Terdengar suara lelaki dari depan jok mobil. Yah, benar suara Kak Takdir yang memang hanya dia satu-satunya lelaki di atas mobil itu, 7 dari kami adalah perempuan. Hanya saja, sudah 3 orang yang sudah turun duluan di Jalan Mannuruki, tempat kost-kost-an mereka.

"Tidak usah, Kak. Makasih."Kataku sambil membuka pintu mobil sebelah kanan. Tidak lupa saya berpamitan pada mereka.
"Hati-hati, Dek." Teriak Kak Takdir dan Kak Ria yang sedari tadi setia berada di samping Pak Ketua HMJ PAI itu.

Belum tampak banyak mobil yang berlalu lalang. Hanya terlihat 2 buah mobil jurusan 07 yang menyapa untuk ditumpangi. Sesekali membunyikan klaksonnya memanggilku untuk sekedar memberinya ongkos Tiga Ribu Rupiah sampai di Jalan Abdullah Dg. Sirua.

Aku menginjakkan kaki di mobil pete-pete (Sebutan Angkot di Makassar) yang belum ditumpangi seorangpun selain aku. Rasa kantuk menderaku dalam balutan angin pagi yang sebenarnya akan kutemui saat tidur pada malam hari seperti hari-hari biasanya. Karena baru kali ini aku mengikuti kegiatan yang memaksa mata untuk di-melek-kan terus hingga senja yang awalnya mencerahkan mata bertemu dengan pagi yang tak memberiku ruang untuk menutup mata semenitpun.

Udara pagi yang bebas polusi itu menghanyutkanku dalam tidur ayam. Sebuah bentuk tidur yang masih membuatku mendengar suara-suara bising klakson mobil dan motor sekitarku. Aku tak peduli. Pak sopir juga terlihat tak memperhatikanku. Kalaupun diberi kesempatan oleh Tuhan untuk sekedar melirikku pun aku tak peduli. Palingan dia hanya menggerutu dalam hati. "Aduh, neng gelis, kok tidur?, Bisa-bisa saya kehilangan rejeki kalau penumpang pertamaku TIDUR." Gubrakkkk...!!!. Cuek bebek saja. Sekali lagi aku tak peduli. Lagian, aku juga sendiri di atas mobil. Jadi tak perlu malu karena tak ada yang akhirnya menceritaiku di belakang. Sesekali aku membuka mata memantau keadaan sekitar kalau-kalau rumahku sudah dekat. Tetapi kurasakan mobil berhenti sejenak. Pak sopir ternyata mendapatkan penumpang yang kira-kira berumur 40 tahun. Sudah lumayan tua. "Ah, kalau ibu-ibu kayak gini pasti tidak suka gosip, palingan hanya memikirkan nasib hidup karena umurnya yang semakin menjadi-jadi." Pikirku, lalu melanjutkan tidur.

Seperti sebelumnya, aku membuka mata kembali. Terlihat ibu itu mencuri-curi pandang pada diriku yang kelewat mengantuk. Kudapati matanya yang menujuku dalam heran. Mungkin dia berpikir "Nih, orang sudah pagi, masih tidur saja." Ah, apa peduliku. Toh, ibu itu juga tidak tahu alasan kalau sebenarnya kami tidak diberi kesempatan untuk tidur. Bodoh amat, desahku dalam hati lalu melanjutkan tidur ayamku.

Semalam, aku bertindak sebagai salah satu Presidium Sidang saat Rapat Kerja berlangsung. Jadi mau tidak mau rencana untuk sekedar menyempatkan tidur beberapa menit di belakang pun, gagal. Menjadi seorang presidium sidang, adalah kali pertama dalam dunia keorganisasianku. Tetapi, tak apa. Aku banyak belajar dari kegiatan yang hanya berlangsung satu malam ini. Mulai dari memegang rasa taggung jawab hingga pengalaman yang pertama kali kurasakan, yaitu tidak tidur semalaman dan juga tidur di atas angkot.

Aku baru bisa menuliskan cerita ini karena kondisi badan sudah mulai fit, karena sebelumnya setelah tiiba di rumah tadi pagi, aku langsung berangkat lagi mengikuti Pertemuan hasil Munaqasah santri di Mesjid Babul Jannah belakang Pasar Segar Panakukkang untuk memperoleh hasil pengumuman santriku dari TPA Nurul Muslimin yang 2 tahun silam mendapat peringkat TPA terbaik se-Kota Makassar itu. Dan Alhamdulillah, ini adalah jawaban dari kepenatan semalam kalau ke-19 santriku lulus.

Hari ini banyak membungkuskanku kado terindah dari pengalaman-pengalaman yang notabenenya adalah sebuah Predeo dari Tuhan (Allah). Yah, sebuah pengalaman yang layak mendapatkan tempat di blog-ku ini.

---------
Cat: *Predeo: Kehendak dari Tuhan (Allah)

Jumat, 15 Maret 2013

Lelaki dan Statusnya di Facebook

Saya pernah mendengar seorang teman berkata tentang ilfeel-nya dia dengan lelaki yang sering meng-update status di facebook. Dengan wajah yang sedikit mencibir dia menaikkan sedikit bibir tipisnya di bagian kanan. Tampak sedikit kejengkelan. "Kenapa?" Tanyaku. Dia hanya menjawab kalau lelaki itu tidak pantas 'bermain' facebook, apalagi pada status mereka yang katanya seperti perempuan saja yang senang berbagi cerita hidup, dengan raut wajah yang seperti saya jelaskan tadi. Sungguh, saya hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepala. Memang, semua orang memiliki hak untuk mengeluarkan pendapat. Apalagi Indonesia ini telah menjadi negara Demokratis. Tetapi apa benar, ada yang salah ketika lelaki memasang status di akun facebook mereka?

Sampai sekarang, saya terus berfikir kenapa dia bisa berkata seperti itu. Mungkinkah ia trauma pada seorang lelaki melalui status facebooknya lalu ia mendapat kabar 'jelek' darinya?, atau apakah mungkin karena ia tidak mau statusnya tersaingi dengan lelaki yang menjadi temannya di facebook?. Nah, Kalau begitu, jangan berteman dengan lelaki di facebook, gampang, kan?

Setiap orang mempunyai hak untuk berbagi cerita. Masalah facebook, Mark Zuckerberg tidak membatasi siapa saja yang akan menggunakan 'ciptaan' nya itu. Lebih banyak, lebih bagus, lebih banyak duit, lebih kaya lagi. Lebih lagi, yang men-'cipta'-kan Facebook adalah seorang lelaki. Mengapa harus berkata kalau facebook itu tidak pantas buat lelaki?

Mengenai teman saya itu, saya juga tidak mengerti. Tetapi itu pendapat dia, hak dia.
Tulisan ini saya buat untuk sekedar berbagi cerita yang selama ini terus mengganggu pikiranku. Siapa tahu bisa membuka pikiran mereka yang pikirannya sama seperti pikiran temanku itu. Kalau lelaki dan statusnya di facebook itu tidak ada yang salah.

Kamis, 14 Maret 2013

Lubang Lukratif

Aku bukannya mengeluh pada hidup yang hari ini menghampiriku. Tetapi, terkadang apa yang kita inginkan tak sejalan dengan kenyataan yang sedang berjalan. Manusia selain perlu untuk dibimbing, manusia juga perlu untuk membimbing dirinya. Sehingga mampu memecahkan masalah ketika kemampuan untuk membimbing diri itu ditempatkan pada jalur yang sesuai.

Pagi tadi, hujan terlihat terisak. Sesekali terdengar berteriak, sesekali menangis ringan. Entah apa yang telah membuatnya seperti itu. Apakah ia turun sebagai berkah atau apakah ia turun sebagai azab, ataukah sebagai cobaan. Entahlah. Tetapi pada pertemuan pagi, siang, dan sore tadi sangat sangat dan sangat memberiku pelajaran tentang rasa sabar dan tawakkal.

"Pakai jas hujan, nih? Ribet sekali.!" Eluhku pada ayah yang telah lebih dulu menggunakan jas hujannya.
"Pakai saja, nanti basah kuyup di tengah jalan, kamu." Balasnya sambil menyerahkan jas hujan yang telah ia keluarkan dari bagasi motornya.
Dengan wajah kusut kugunakan jas hujan yang berwarna hitam itu. Tempat kepalanya terasa sempit sehingga sedikit merusak jilbabku yang rapinya sudah rapi sekali. Aku tak berkata apa-apa. Lalu kami berangkat sebelum meminta izin setelah sebelumnya salaman dan berpamitan sama ibu yang duduk di meja makan. Kami berangkat ditelan jas hujan yang menelan tubuh kami dalam hujan yang belum terlalu deras.

Diperjalan, kurasakan aneh. Betisku terasa dingin saat perjalanan. Ku lihat, ternyata kaos kaki yang kugunakan telah terpeciki air kotor di jalanan. "Aduh, lupa. Kenapa kaosnya tidak ku pakai di kampus saja?. Sekarang kotor!" Desahku dalam hati saat masih berada dibelakang ayahku di atas motor Honda Revonya. Karena memang baru kali ini aku memakai kaos kaki ke kampus sementara hujan deras. Pasrah. Kaos kakiku basah, kotor, cumal, dan terlihat dekil.
"Apa kata teman-teman nanti saat melihat kaos kakiku seperti ini?" Kataku sedikit lirih sesaat membuka jas hujan yang terasa tersangkut di kepala saat hendak kukeluarkan. Kutengok bagian bawah tubuhku. Tampak wajah murungku. Segera ku ambil tissue yang setiap hari setia menemaniku saat flu untuk membersihkan kotorannya sedikit. "Yah, Lumayan." Kataku.

Sampai di kelas, tampak beberapa temanku saja yang duluan tiba. Dosen belum datang. padahal Jam kuliah sudah masuk pukul 08.01. Sudut setiap ruangan terlihat mengungkungkan badan, tidak menyapa seperti biasanya. Mungkin merasa kedinginan karena sejak semalam hujan tak kunjung reda.
Seperti biasa, aku duduk di bangku paling depan di bagian ujung kiri. Tempat yang sangat strategis untuk memperhatikan dosen dalam menyampaikan materi kuliah. Aku tidak bisa terlalu memperhatikan pesan yang disampaikan dalam materi kuliah secara keseluruhan jika terlambat datang dan duduk di posisi bangku dibelakang ataupun bangku dua sekalipun. Susah menerima pelajaran. Entah kenapa. Tetapi begitulah Aku.

Lama kami menunggu dalam detik yang berganti menit dan menit yang berganti setengah jam, dosen kami baru tiba. Alasannya macet apalagi hujan. Alasan yang sama dengan teman-teman yang lainnya saat mereka terlambat tadi. Dimaklumi.

Mata kuliah pertama hari ini adalah Bimbingan dan Kounserling. Sebuah mata kuliah wajib bagi mahasiswa yang akan memperoleh gelar guru natinya.  Oleh Pak Rahman yang mempunyai nama lengkap Abdul Rahman Barakatu, kuliah ini menjadi terbawa ke dalam alur yang mengalir dan terus mengalir. Katanya segala sesuatu yang terjadi, mahasiswa itu harus mampu mengkolerasikannya dengan kehidupan manusia. Seperti yang terjadi pada alam, sebut saja semut. "Coba kita perhatikan semut yang kerap kali berhadapan. Mereka berhenti sebentar. Sebenarnya mereka sedang berkomunikasi. Selain itu rasa kerja sama mereka selalu erat, bahkan semut itu konsisten karena kemampuannya untuk tetap mendengarkan perintah tuannya, misalnya untuk mengambil makanan, dan itu tidak pernah mereka menolak ketika telah diprintahkan. Kita bisa mengambil manfaat dari semut-semut itu untuk kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari" Jelas Pak Rahman, yang wajahnya mirip Pak Haji Muhidin di serial Sinetron "Tukang Bubur Naik Haji" yang tayang tipa hari di Salah satu televisi swasta yang semakin maju itu.

Jika membaca atau mendengar nama beliau "Abdul Rahman Barakatu", terlintas kalimat itu sudah tidak asing lagi. Tepatnya pada salam pertemuan dan perpisahan dalam Islam "Assalamu 'alaikum warahmatullahi wa barakatuh". Lucu, unik tetapi bermakna. Abdul Rahman Barakatu kurang lebih berarti "Hamba pengasih yang diberkati". Orang awam terkadang berkata "Apalah arti sebuah nama". Nama sangat berarti karena sebagai identitas diri masing-masing orang. Coba bayangkan kalau nama itu tidak berarti dan hanya ada 1 kata "manusia" untuk memanggil orang. Apakah tidak semua orang dunia ini akan berbalik menengok pada satu suara yang membunyikan kata "manusia"?. Hehe. Selain itu nama adalah pemberian dari kedua orang tua yang tentunya mempunyai tujuan tersendiri dan tentunya lagi diharapkan agar nama pemberian yang diberikan akan menjadi pribadi si empunya nama. Miris sekali mereka yang berkata apalah arti sebuah nama. Iya kan?

Waktu telah menunjukkan pukul 09.40. Saatnya kami melepaskan beliau kepada mahasiswa lain untuk beliau ajar. Lelaki parubaya yang sudah berumur 65 tahun itu berjalan perlahan dengan tangan kanan berada disaku celananya keluar menuju dengan memberi salam terlebih dahulu lalu melempar senyum kepada kami.

Saatnya mata kuliah yang kedua, Tafsir tarbawi. Karena dosennya tidak hadir, kami pulang. Saya dan beberapa teman perempuan, sebut saja Ima, Janah dan Rahmah, tidak langsung pulang ke rumah. Kami pergi ke kampus 2 untuk mencari buku di perpustakaan yang katanya perpustakaan terbesar di Makassar itu. Tetapi, sebelumnya, kami singgah di rektorat kampus untuk mengambil sertifikat Baca Tulis Al-Quran yang merupakan salah satu syarat untuk wisuda kami nantinya. Usai ke Rektorat, kami juga ke Gedung F Fakultas SainTek untuk mengambil sertifikat PIKIH yang kegiatannya berlangsung saat kami masih semester 1. Tetapi, nilai PIKIH Bahasa Arabku tidak tercantum di sertifikat, Terpaksa saya harus mengurus nilai yang amat penting ini yang juga masuk dalam satu syarat untuk memperoleh gelar S1 nanti.
"Kak, kalau mau mengurus nilai bermasalah di mana?" Tanyaku lesu karena tidak tahu prosedur ribet seperti ini.
"Di depan, dek. kalau adek sudah lihat lelaki yang menggunakan headset putih. Dia orangnya." Katanya sambil memperagakan tangannya ia simpan di telinganya.
Aku agak kurang mengerti saat itu. Dengan tidak bertele'tele, akupun mengiyakan.

Di ruangan itu hanya ada 1 orang pemuda yang kira-kira berumur 27 tahun. Putih, ganteng, dan tentunya ada headset di telinganya. Benar, dia orang yang dimaksud si Mba tadi.
"Di sini tempat mengurus nilai yang bermasalah, ya, Kak?" Tanyaku sedikit menunduk.
"Iya, Dek. Nilai apa yang bermasalah?" Tanyanya sambil tersenyum.
"Nilai bahasa arab, kak. Padahal Pengajarku sudah memback-up nilai kami semua." Kataku sambil duduk tanpa dipersilahkan. Gelisah. hanya itu yang kurasakan. sementara Ima, Rahma dan Janah menungguku di depan pintu, dan kulihat mereka duduk di lantai tepat di samping pintu masuk. Mungkin karena lelah dari perjalanan yang tiada henti sedari tadi.

"Sebentar ya, Dek. Saya Cek dulu." Katanya beranjak lalu mengambil sebuah map besar berisikan data-data mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Keguruan pada pelajaran PIKIH Bahasa Arab.
"Coba, cari namamu." Sambil menyodorkannya di depan tanganku yang sedari tadi ingin mengotak atik sesuatu itu.
Dengan mata telajang yang teliti, ku cari namaku di antara tumpukan dari puluhan nama teman sekelasku. Inayah Natsir yang ku cari, bukan yang lain. Tidak ada. Aku tak percaya. kubolak-balik lagi. Tidak ada. Ataukah mungkin terselip sedikit. Tidak ada lagi. Aku semakin jeli dalam kegerama yag menjadi-jadi. "Namaku manaaa?" Teriakku dalam hati. Nihil.

Ternyata yang salah bukan pihak panitia yang mengetik nama di sertifikat. Tetapi dari pihak pngajarku, Kak Syarif. "Jadi bagaiman, Kak?" Tanyaku melemas.
"Gini, dek. Bagaimana kalau kamu telefon pengajarmu saja dulu. Minta penjelasannya bagaimana."
"Iya, Kak. Sebentar ya."

3 nomor telefon Kak Syarif tidak ada satupun yang aktif. Nihil lagi. Kakak yang tidak kuketahui namanya itu lalu mmberiku surat pengantar supaya ditanda tangani oleh Kak Syarif yang katanya seang berada di luar daerah untuk KKN. Sebuah berita yang semakin menciutkanku,

Bersambung... :)

Selasa, 05 Maret 2013

Kebaikan Adalah Puncak Dari Segala Sesuatu


Semester 3 lalu, menjadi bagian terpenting dalam hidup ilmu pengetahuanku yang semakin ke sana semakin bertambah di bangku kuliah. Oleh Pak Salahuddin, dosen favorite-ku, menberikan materi seputar Kebaikan yang mempunyai kekuatan yang sangat besar dalam Mata Kuliahnya Aqidah Akhlak. Rangkumannya seperti apa yang saya tuliskan di bawah ini. Silahkan dibaca dan diambil manfaatnya.

"Berperilaku baik dalam segala hal adalah puncak dari segala apa yang menjadi kepribadian sebenarnya.
Dr. Masaru Emoto (Jepang), dalam bukunya “The True Power of Water”, menjelaskan tentang kehakekatan bersikap baik melalui sebuah eksperimen. Yang menjadikan 3 buah botol, dengan berisi air penuh sebagai bahan percobaan. Botol pertama adalah botol yang seringkali dihargai, semua ungkapan senang diluapkan kepadanya. Botol kedua, sebaliknya. Dia sering diremehkan, dicemooh, atau semua tentang yang jelek-jelek di arahkan kepadanya. Dan botol ke tiga, biasa-biasa saja. Artinya tidak diberi sanjungan ataupun cemoohan. Nah, dari ke tiga itu sangatlah berbeda. Emoto, kemudian membekukan ketiga botol itu, lalu mengambil foto dari ketiga botol tersebut dengan menggunakan camera yang super tinggi kualitas gambarnya, hingga mampu melihat titik-titik molekul di dalam air. Dari ketiga botol tersebut terlihat sangat jelas bahwa, pada botol pertama molekul-molekul yang teratur dan tersusun rapi, pada botol ke dua terlihat molekulnya sangat berantakan dan terlihat mengerikan, dan pada botol ke tiga terlihat molekulnya tersusun biasa-biasa saja. Jika dari ketiga botol itu digerakkan, apabila merespon, akan sama. Tetapi jika tidak, terlihat akan berbeda. Jadi, kesimpulan dari percobaan yang yang dilakukan oleh Emoto bahwa air itu hidup dan air itu pintar.
Selama ini kita didoktrinkan oleh ilmu IPA saat masih di bangku sekolah dulu, bahwa benda hidup adalah mereka yang hanya mengalami pertumbuhan,  mengalami pergerakan, berkembang biak, dan lain sebagainya. Namun Fisikawan di abad modern ini telah membuktikan bahwa segala sesuatu itu hidup. Baik itu bangku, rumah, pulpen, dan semua yang di anggap benda mati dahulu, kini semua dileburkan dan dikategorikan ke dalam satu kata, “BENDA HIDUP”. Sebagaimana, telah disebutkan juga oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an bahwa “SEMUA YANG ADA DI BUMI INI BERTASBIH KEPADA ALLAH”, Nah, ketika mereka bertasbih, berarti mereka “HIDUP”.


Lain lagi dengan Dr. Kazvo Mukarami. Dalam bukunya “The Divine Massage of DNA”, dia menjelaskan ada tiga hal yang harus ditanamkan ke dalam diri agar energi-energi negatif terbuang oleh energi-energi positif. Adapun dari ke tiganya, sebagai berikut:
      1.      Selalu memiliki niat baik
      2.      Selalu bersyukur
      3.      Berprasangka baik
Apabila ketiga hal tersebut ada dalam diri kita, maka kita akan menarik kekuatan dari sikap itu masuk ke dalam diri kita. Dalam fisika kuantum, tentang “The Law Attraction (Hukum berlawanan/timbal-balik)”, berarti hal-hal yang terjadi secara berlawanan/ timbal balik di dalamnya, terdapat juga dalam diri kita. Tanamkanlah hal-hal yang baik pada diri, dan jangan pernah menanamkan hal-hal yang buruk. Karena kita akan menuai apa yang kita lakukan. Seperti ada sebuah kalimat yang mengatakan bahwa “APA YANG KITA LAKUKAN HARI INI, MENJADI PENENTU AKAN JADI APA KITA KEDEPANNYA.” Karena perilaku yang baik itu untuk diri kita sendiri juga.

Sepert itulah gambaran hidup yang Allah inginkan. Pelajaran hidup dari alam melalui percobaan IPTEK yang semakin merajai dunia. Allah semakin menunjukkan kebesarannya melalui ilmu pengetahuan yang semakin berkembang.

Minggu, 03 Maret 2013

Dosen Favorite :D

Namanya Pak Salahuddin. Beliau adalah dosen Aqidah Akhlak di kampusku. Kebetulan beliau ditempatkan lagi di kelas kami pada semester 4 ini setelah Semester 3 lalu beliau juga mengajar di kelas kami. Adalah suatu kebanggaan bagiku saat beliau mengajar di kelas, terlebih beliau adalah seorang Doktor.

Albert Einstein pernah berkata, "Guru yag baik adalah guru yang memberikan ilmunya kepada muridnya, Sedangkan guru yang paling baik adalah guru yang memberi motivasi kepada muridnya." Begitulah Pak Salahuddin. Beliau banyak memberi materi motivasi pada setiap materi kuliah yang dibawakan melalui metode kisah/cerita yang bermanfaat serta memberi motivasi kepada kami.

Awal semester 3 beliau masuk di kelas memecah keheningan kami menunggu beliau dalam waktu yang cukup lama. Karena alasan sibuk, kami pun mengiyakannya. Mulailah awal kategori dosen favorite ku ia keluarkan dalam bahasa yang santun bukan kepalang.
"Assalamu 'alaikum. Bagaimana kabar semua? Maaf, Bapak telat. Tadi ada sedikit gangguan di jalan.." Katanya dengan nada ramah. Pertemuan pertama yang memberi kesan simpatik di hatiku. Aku kagum pada sosok beliau yang rendah hati. Jarang kutemukan sesosok "Pelaku pendidikan" yang langsung menyapukan air laut ke hati anak didiknya. Dan ia berhasil melakukannya. Tetapi, bukan hanya aku saja yang merasakan ketenangan saat beliau mulai berbicara dalam santun yang sabarnya luar biasa. Banyak dari teman-teman perempuanku pun ikut merasakan sapuan air laut hinggap ke diri mereka. Lelaki pun ada. Tentu hanya mereka yang betul-betul memperhatikan dalam diam yang tersiratkan makna hakiki dalam diri beliau hingga kami pun merasa kagum padanya.

Tadi pagi, seperti biasa beliau mengajar untuk pertama kali di usia sehari semester 4 kami. Kuliah perdana tepatnya. Hanya ada beberapa dari kami yang berada di kelas. Karena ada sebagian besar dari teman-teman yang sudah pulang dikarenakan karena alasan "Pak Salahuddin, pasti tidak datang. Kan, sudah beberapa kali dihubungi." Celoteh mereka. Lalu pulang. Hilang ditelan panas pada puncaknya siang itu.

Kembali lagi beliau mengentakkan tawa kami dalam kagum yang menderu-deru setelah sekian banyak motivasi-motivasi yang beliau ceritakan. "The Perfect Man", pikirku.

Ternyata eh ternyata, usut punya usut, beliau juga suka menulis. "We are same, Pak!" Teriakku dalam hati. Banyak catatan harian yang beliau tuliskan di catatan hape ataupun notebook yang tidak pernah ketinggalan saat beliau mengajar. "Apa saja yang terjadi, tulislah." Begitulah katanya. Pak Salahuddin menamai judul catatannya dengan nama 'MENULIS TANPA HENTI'.
"Kalimat ini bisa mensugesti pikiran untuk selalu menulis, karena pada hakikatnya apa yang kita pikirkan itulah yang akan kita lakukan. Judul seperti ini mampu membangkitkan gairah menulis ketika 'mood' menulis itu pada puncak kelemahan." Kurang lebih seperti itu tambahnya.

Beliau juga bercerita tentang seorang anak yang kasihan melihat jerih payah ulat yang terbungkus daun yang membentuk bulatan erat melekat di tubuhnya. Sebenarnya ulat itu sedang berusaha sendiri menuju keindahan hakiki untuk keluar menjadi kupu-kupu yang indah. Tetapi lain yang dipikirkan oleh anak itu. Ia malah membantu ulat tersebut membukakan kepompongnya. Dan apa yang terjadi? Kupu-kupu itu tidak bisa terbang dan kemudian mati. Ulat  yang seharusnya tetap berada di dalam kepompong untuk selanjutnya menuju tahap metamorfosis terakhir untuk mejadi kupu-kupu yang indah. Pada dasarnya, manusia adalah belajar dari apa yang terjadi pada kealamiahannya alam. Seperti layaknya kupu-kupu yang senantiasa berjuang keluar dari balutan erat kepompong yang membungkusnya dalam tahap untuk menuju kedewasaan sehingga berubah menjadi kupu-kupu yag indah. Manusia bisa belajar dari kisah ini. Bahwa terkadang kita harus melakukan sesuatu denga sendiri, walau pada dasarnya manusia itu adalah makhluk sosial sekalipun. Sikap mandiri diharapkan mampu ditanamkan pada tiap-tiap diri manusia. Sungguh dramatis sekali jika kita tidak bisa mengambil hikmah.

Kami tersenyum kagum memandangi beliau yang santun itu. Tanpa kami pikir bahwa sebenarya materi pertama untuk hari ini adalah kontrak perkuliahan pada mata kuliahnya. Whatever!

Beliau menamatkan S1 di IAIN yang sekarang bernama UIN Alauddin. S1 dan S2 di Jakarta. Dan telah pergi menempu pijakan kaki di Singapura dan Mesir. Katanya, beliau tidak akan mengajar kami di pertemuan selanjutnya. Beliau akan meminta seorang dosen pengganti untuk mengajar di kelas kami. Karena beliau diminta di salah satu instansi universitas islam di Brunei Darussalam. Tambah kagum sama beliau. Tetapi itu menjadi kesedihan terpahit bagi kami, terutama Aku. Jiwa hebat yang berintelektual tinggi itu akan hilang dari bayang kami, akan hilang di telan negeri Brunei yang kata orang tiongkok disebut sebagai po-ni.

Semoga saja, Pengganti Pak Salahuddin ini 11 12 dengan beliau. Penuh jiwa pemimpi, dan mencintai hidup, terlebih tulis menulis.
Semoga sukses selalu menemui beliau dalam tiap langkanya terlantunkan Ridho dari Allah. Aamiin.



Hari Ke Empat di Bulan Maret


Hari ini, adalah hari ke empat di bulan Maret, tepat pada tanggal 4 aku sudah memulai kuliah perdana di semester 4. seperti biasa, seperti hari-hari sebelumnya, seperti semester-semester sebelumnya, aku di bonceng oleh Ayah. Mau tidak mau, suka tidak suka, jawaban satu-satunya adalah mengiyakan. Ayahku memang paling tidak bisa melihat anak perempuannya jalan sendirian. Ayahku tidak seperti kebanyakan ayah pada umumnya. Ayah bisa dibilang otoriter, bisa juga dibilang tidak. Otoriter karena segala sesuatu harus dengan sepengetahuannya, seizinnya, bahkan dengannya. Di lain pihak, kami juga sebagai anaknya harus mengikuti kehendak beliau. karena dia adalah Ayah kami.Jika dikata 'tidak otoriter', Ayah memang melakukan itu semua karena tidak ingin melepas taggung jawabnya sebagai Ayah yang harus melindungi anaknya dari ancaman dunia yang akan menghanyutkan.
"Kalau keluar rumah itu harus denga muhrim, jangan keluar tanpa muhrim." itulah pesan yang sering ayah sampaikan ke anak-anak perempuannya. sebuah pesan dari ajaran nabi Muhammad yang merupakan tuntunan ke dua dalam Islam setelah Al-Quran.

Ayahku memang sarat agama sekali. Beliau dulunya adalah seorang ustadz di lingkungan rumah kami. Tetapi karena sudah menginjak kepala 6, maka ayahku sudah tidak kuat lagi lama-lama berdiri saat menyampaikan dakwahnya. Beliau juga adalah seorang guru mengaji puluhan tahun silam, bahkan sebelum saya lahir, beliau sudah mengajarkan agama Allah kepada generasi Qur'ani, anak cucu Adam yang akan meneruskan dakwah Islam.

Pagi tadi, untuk pertama kalinya kegiatan belajarku dipindahkan ke kampus 1 UIN Alauddin. Kebetulan kampus UIN ada dua. Kampus 1 ini sebenarnya akan dijadikan sebuah Rumah Sakit, sekarang sedang dalam tahap renovasi. Masih ada beberapa gedung di belakang yang masih bisa digunakan untuk menjadi ruangan kuliah. Tetapi hanya beberapa jurusan saja yang dialihkan ke kampus 1. karena kuota Mahasiswa di kampus 2 sudah melebihi batas normal yang telah disediakan.

Bersambung.. :)

Pengabulan Allah

Kita tidak pernah tahu, bisik hati mana yang akan Allah kabulkan. Kita tidak pernah tahu doa dari siapa yang akan Allah indahkan. Dan kit...