Jumat, 29 Maret 2013

The Real Happy :)

Aku bukannya baru menemui hidup yang seperti ini. Yang seperti kata orang adalah indah jika dihayati begitu dalam, apalagi menggunakan hati. Aku juga tidak pernah berpikir kalau yang kata orang itu indah akan menyelinap merasuki hidupku yang awalnya biasa-biasa saja. Ah, entahlah, aku tak mau berbicara banyak masalah itu.

Saat ini aku bukanya tak mau, apalagi tak ingin. aku mau apalangi kalu dibilang ingin. Tetapi waktu yang belum membiarkan kata mau dan ingin itu mendapat izin di halaman-halaman selanjutnya, seperti kata Anas "Masih ada halaman-halaman lain". hehehe

Aku pernah mendengar sebuah kalimat dari seorang yang bijak dari Sahabat saya di Kampus, namanya Rasna, Dia sempat membaca sebuah buku motivasi di Gramedia saat kami pergi bersama sebulan yang lalu, Katanya begini: "Kalau kita terus berkata tidak, maka kita akan berada di tempat yang sama". Nah, lho?
Bijak sekali memang. Tetapi tetap tak merubah pendirianku pada hal yang Allah tak memberiku izin untuk saat ini. Aku tak ingin banyak orang mengetahui apa itu. Cukup Allah dan Aku saja yang tahu. :)

Memang telah termaktub dalam al-qura nan suci bahwa manusia harus saling menyayangi. Yah, aku telah melakukannya. Sayang kepada Ibu, ayah, sahabat, teman, tetangga, bahkan seseorang yang tak dapat ku sebut namanya. Tetapi, rasa sayang itu akan ada pada puncaknya ketika Allah memberi izin membuka hati dan waktu yang masih menjadi rahasianya.

Kebanyakan teman berbicara masalah hati. Entahlah, aku tak mengerti maksud mereka. Apa yang mereka rasakan aku tak rasakan. Hak mereka untuk berbahagia dengan hati yang mereka sayangi sebagai seseorang yang katanya special itu. Whatever, aku tak peduli. Akan ada waktunya "The Real Happy" itu
akan singgah dan menetap sebagai hati yang akan ku simpan selamanya. :)


Minggu, 24 Maret 2013

Maafkan Aku, Kawan.

Maaf, kawan. Aku tak berniat mngecewakanmu.
Aku tak pernah bermaksud menaruh sedih di hatimu di malam yang semestinya mengistirahatkanmu dari gucangan dunia sedari pagi tadi
Tetapi sungguh, tak ada niat aku melakukannya
Baik itu dalam hati ataupun ucap yang telah terlanjur terlontar dan tersimpan di memorimu

Maaf, kawan. Sekali lagi Maaf.
Aku juga manusia seperti kalian dan mereka yang sering kali menitip kecewa pada yang bukan tempatnya
Tetapi sekali lagi, bukan itu yang sebenarnya menjadi niat dan keinginan dari hati dan pikiran ini
Aku hanya bercanda.
Tahukah kau aku hanya bercanda.

Aku pikir aku telah engkau kenal
Baik sikap, pribadi, maupun canda yang selalu menjadi buah bibir tatkala kita bertemu
Aku tak pernah menyalahkan siapa-siapa
Apalagi mencoba untuk membenarkan diri sendiri
Tetapi apakan kamu masih menjadi dirimu yang dahulu ketika kecewa yang tak kurencanakan terlanjur terjadi?

Maaf, Kawan. Maafkan kawanmu yang lalai ini
Yang telah merusak cermin hatimu yang tak akan pernah utuh seperti sedia kala lagi
Aku sungguh lalai,
Sekali lagi Maafkan aku.

Minggu, 17 Maret 2013

Sebuah Predeo Dari Allah

Tadi pagi aku baru saja pulang dari kegiatan Raker jurusanku HMJ PAI di Benteng Somba Opu. Di pinggir jalan di sekitar kompleks Benteng Somba Opu yang didirikan oleh Sultan Gowa IX, Daeng Matanre Karaeng Tumapa' risi' kalonna pada tahun 1525 ini tampak banyak orang yang berlalu lalang. Terlihat di sepanjang jalan kompleks itu sebuah bukit panjang dan ditumbuhi rerumputan hijau yang entah itu buatan atau bukan. Dari atas bukit itu juga berjejeran puluhan anak manusia yang mungkin sedang memandangi danau di pinggir jalan setelah bukit itu. Karena setelah menengok dan memandangi apa yang sebenarnya membuat daya tarik sehingga mereka berkerumun membentuk lautan manusia, terlihat hanya danau yang kira-kira berukuran 40-50 meter itu. Mereka ada yang terdiri dari anak muda-mudi yang berpasangan, ada juga orang tua dan anak-anaknya. Bahkan mungkin karena kuota di atas bukit yang sebenarnya dijadikan sebagai jalan raya itu tidak mampu lagi menampung puluhan manusia lagi, di pinggir jalan tepat di bibir danau yang sebenarnya lagi tertutupi oleh pembatas, sebut saja 'seng' juga dipenuhi pasangan yang seperti yag saya jelaskan sebelumnya. Tampak dari dalam mobil Avanza yang kutumpangi, langit biru yang diaraki awana-awan putih yang menyambut jiwa-jiwa para pecinta suasana alam pada pagi itu. Terlihat menakjubkan ketika kupandangi langit yang terlihat dekat padahal jauh itu.
"Dek, coba perhatikan. Kalau kita mau melakukan hunting di sini, keren, ya." Tanyaku pada adik juniorku yang belum kuketahui namanya.
"Iya, kak. Benar banget". Balasnya singkat.

Mobil dikendarai oleh Ketum HMJ yang baru saja 2 bulan menjabat itu, Sebut saja namanya Kak Takdir. Dia amat ramah kepada juniornya, mungkin karena rasa terima kasihnya karena telah memilihnya dalam PEMILMA awal Januari lalu. Ah, tidak. Kak Takdir memang baik. Belum ada kesalahan yang pernah kudengar darinya. Kalaupun ada, itu hak kodrati yang dimiliki tiap manusia. Dan merupakan hal yang sangat mutlak dan pasti ketika ada kekurangan pada diri.

Aku turun di pinggir jalan A.P Pettarani untuk mengambil mobil jurusan 07. "Saya antar sampai rumah saja, Dek." Terdengar suara lelaki dari depan jok mobil. Yah, benar suara Kak Takdir yang memang hanya dia satu-satunya lelaki di atas mobil itu, 7 dari kami adalah perempuan. Hanya saja, sudah 3 orang yang sudah turun duluan di Jalan Mannuruki, tempat kost-kost-an mereka.

"Tidak usah, Kak. Makasih."Kataku sambil membuka pintu mobil sebelah kanan. Tidak lupa saya berpamitan pada mereka.
"Hati-hati, Dek." Teriak Kak Takdir dan Kak Ria yang sedari tadi setia berada di samping Pak Ketua HMJ PAI itu.

Belum tampak banyak mobil yang berlalu lalang. Hanya terlihat 2 buah mobil jurusan 07 yang menyapa untuk ditumpangi. Sesekali membunyikan klaksonnya memanggilku untuk sekedar memberinya ongkos Tiga Ribu Rupiah sampai di Jalan Abdullah Dg. Sirua.

Aku menginjakkan kaki di mobil pete-pete (Sebutan Angkot di Makassar) yang belum ditumpangi seorangpun selain aku. Rasa kantuk menderaku dalam balutan angin pagi yang sebenarnya akan kutemui saat tidur pada malam hari seperti hari-hari biasanya. Karena baru kali ini aku mengikuti kegiatan yang memaksa mata untuk di-melek-kan terus hingga senja yang awalnya mencerahkan mata bertemu dengan pagi yang tak memberiku ruang untuk menutup mata semenitpun.

Udara pagi yang bebas polusi itu menghanyutkanku dalam tidur ayam. Sebuah bentuk tidur yang masih membuatku mendengar suara-suara bising klakson mobil dan motor sekitarku. Aku tak peduli. Pak sopir juga terlihat tak memperhatikanku. Kalaupun diberi kesempatan oleh Tuhan untuk sekedar melirikku pun aku tak peduli. Palingan dia hanya menggerutu dalam hati. "Aduh, neng gelis, kok tidur?, Bisa-bisa saya kehilangan rejeki kalau penumpang pertamaku TIDUR." Gubrakkkk...!!!. Cuek bebek saja. Sekali lagi aku tak peduli. Lagian, aku juga sendiri di atas mobil. Jadi tak perlu malu karena tak ada yang akhirnya menceritaiku di belakang. Sesekali aku membuka mata memantau keadaan sekitar kalau-kalau rumahku sudah dekat. Tetapi kurasakan mobil berhenti sejenak. Pak sopir ternyata mendapatkan penumpang yang kira-kira berumur 40 tahun. Sudah lumayan tua. "Ah, kalau ibu-ibu kayak gini pasti tidak suka gosip, palingan hanya memikirkan nasib hidup karena umurnya yang semakin menjadi-jadi." Pikirku, lalu melanjutkan tidur.

Seperti sebelumnya, aku membuka mata kembali. Terlihat ibu itu mencuri-curi pandang pada diriku yang kelewat mengantuk. Kudapati matanya yang menujuku dalam heran. Mungkin dia berpikir "Nih, orang sudah pagi, masih tidur saja." Ah, apa peduliku. Toh, ibu itu juga tidak tahu alasan kalau sebenarnya kami tidak diberi kesempatan untuk tidur. Bodoh amat, desahku dalam hati lalu melanjutkan tidur ayamku.

Semalam, aku bertindak sebagai salah satu Presidium Sidang saat Rapat Kerja berlangsung. Jadi mau tidak mau rencana untuk sekedar menyempatkan tidur beberapa menit di belakang pun, gagal. Menjadi seorang presidium sidang, adalah kali pertama dalam dunia keorganisasianku. Tetapi, tak apa. Aku banyak belajar dari kegiatan yang hanya berlangsung satu malam ini. Mulai dari memegang rasa taggung jawab hingga pengalaman yang pertama kali kurasakan, yaitu tidak tidur semalaman dan juga tidur di atas angkot.

Aku baru bisa menuliskan cerita ini karena kondisi badan sudah mulai fit, karena sebelumnya setelah tiiba di rumah tadi pagi, aku langsung berangkat lagi mengikuti Pertemuan hasil Munaqasah santri di Mesjid Babul Jannah belakang Pasar Segar Panakukkang untuk memperoleh hasil pengumuman santriku dari TPA Nurul Muslimin yang 2 tahun silam mendapat peringkat TPA terbaik se-Kota Makassar itu. Dan Alhamdulillah, ini adalah jawaban dari kepenatan semalam kalau ke-19 santriku lulus.

Hari ini banyak membungkuskanku kado terindah dari pengalaman-pengalaman yang notabenenya adalah sebuah Predeo dari Tuhan (Allah). Yah, sebuah pengalaman yang layak mendapatkan tempat di blog-ku ini.

---------
Cat: *Predeo: Kehendak dari Tuhan (Allah)

Jumat, 15 Maret 2013

Lelaki dan Statusnya di Facebook

Saya pernah mendengar seorang teman berkata tentang ilfeel-nya dia dengan lelaki yang sering meng-update status di facebook. Dengan wajah yang sedikit mencibir dia menaikkan sedikit bibir tipisnya di bagian kanan. Tampak sedikit kejengkelan. "Kenapa?" Tanyaku. Dia hanya menjawab kalau lelaki itu tidak pantas 'bermain' facebook, apalagi pada status mereka yang katanya seperti perempuan saja yang senang berbagi cerita hidup, dengan raut wajah yang seperti saya jelaskan tadi. Sungguh, saya hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepala. Memang, semua orang memiliki hak untuk mengeluarkan pendapat. Apalagi Indonesia ini telah menjadi negara Demokratis. Tetapi apa benar, ada yang salah ketika lelaki memasang status di akun facebook mereka?

Sampai sekarang, saya terus berfikir kenapa dia bisa berkata seperti itu. Mungkinkah ia trauma pada seorang lelaki melalui status facebooknya lalu ia mendapat kabar 'jelek' darinya?, atau apakah mungkin karena ia tidak mau statusnya tersaingi dengan lelaki yang menjadi temannya di facebook?. Nah, Kalau begitu, jangan berteman dengan lelaki di facebook, gampang, kan?

Setiap orang mempunyai hak untuk berbagi cerita. Masalah facebook, Mark Zuckerberg tidak membatasi siapa saja yang akan menggunakan 'ciptaan' nya itu. Lebih banyak, lebih bagus, lebih banyak duit, lebih kaya lagi. Lebih lagi, yang men-'cipta'-kan Facebook adalah seorang lelaki. Mengapa harus berkata kalau facebook itu tidak pantas buat lelaki?

Mengenai teman saya itu, saya juga tidak mengerti. Tetapi itu pendapat dia, hak dia.
Tulisan ini saya buat untuk sekedar berbagi cerita yang selama ini terus mengganggu pikiranku. Siapa tahu bisa membuka pikiran mereka yang pikirannya sama seperti pikiran temanku itu. Kalau lelaki dan statusnya di facebook itu tidak ada yang salah.

Kamis, 14 Maret 2013

Lubang Lukratif

Aku bukannya mengeluh pada hidup yang hari ini menghampiriku. Tetapi, terkadang apa yang kita inginkan tak sejalan dengan kenyataan yang sedang berjalan. Manusia selain perlu untuk dibimbing, manusia juga perlu untuk membimbing dirinya. Sehingga mampu memecahkan masalah ketika kemampuan untuk membimbing diri itu ditempatkan pada jalur yang sesuai.

Pagi tadi, hujan terlihat terisak. Sesekali terdengar berteriak, sesekali menangis ringan. Entah apa yang telah membuatnya seperti itu. Apakah ia turun sebagai berkah atau apakah ia turun sebagai azab, ataukah sebagai cobaan. Entahlah. Tetapi pada pertemuan pagi, siang, dan sore tadi sangat sangat dan sangat memberiku pelajaran tentang rasa sabar dan tawakkal.

"Pakai jas hujan, nih? Ribet sekali.!" Eluhku pada ayah yang telah lebih dulu menggunakan jas hujannya.
"Pakai saja, nanti basah kuyup di tengah jalan, kamu." Balasnya sambil menyerahkan jas hujan yang telah ia keluarkan dari bagasi motornya.
Dengan wajah kusut kugunakan jas hujan yang berwarna hitam itu. Tempat kepalanya terasa sempit sehingga sedikit merusak jilbabku yang rapinya sudah rapi sekali. Aku tak berkata apa-apa. Lalu kami berangkat sebelum meminta izin setelah sebelumnya salaman dan berpamitan sama ibu yang duduk di meja makan. Kami berangkat ditelan jas hujan yang menelan tubuh kami dalam hujan yang belum terlalu deras.

Diperjalan, kurasakan aneh. Betisku terasa dingin saat perjalanan. Ku lihat, ternyata kaos kaki yang kugunakan telah terpeciki air kotor di jalanan. "Aduh, lupa. Kenapa kaosnya tidak ku pakai di kampus saja?. Sekarang kotor!" Desahku dalam hati saat masih berada dibelakang ayahku di atas motor Honda Revonya. Karena memang baru kali ini aku memakai kaos kaki ke kampus sementara hujan deras. Pasrah. Kaos kakiku basah, kotor, cumal, dan terlihat dekil.
"Apa kata teman-teman nanti saat melihat kaos kakiku seperti ini?" Kataku sedikit lirih sesaat membuka jas hujan yang terasa tersangkut di kepala saat hendak kukeluarkan. Kutengok bagian bawah tubuhku. Tampak wajah murungku. Segera ku ambil tissue yang setiap hari setia menemaniku saat flu untuk membersihkan kotorannya sedikit. "Yah, Lumayan." Kataku.

Sampai di kelas, tampak beberapa temanku saja yang duluan tiba. Dosen belum datang. padahal Jam kuliah sudah masuk pukul 08.01. Sudut setiap ruangan terlihat mengungkungkan badan, tidak menyapa seperti biasanya. Mungkin merasa kedinginan karena sejak semalam hujan tak kunjung reda.
Seperti biasa, aku duduk di bangku paling depan di bagian ujung kiri. Tempat yang sangat strategis untuk memperhatikan dosen dalam menyampaikan materi kuliah. Aku tidak bisa terlalu memperhatikan pesan yang disampaikan dalam materi kuliah secara keseluruhan jika terlambat datang dan duduk di posisi bangku dibelakang ataupun bangku dua sekalipun. Susah menerima pelajaran. Entah kenapa. Tetapi begitulah Aku.

Lama kami menunggu dalam detik yang berganti menit dan menit yang berganti setengah jam, dosen kami baru tiba. Alasannya macet apalagi hujan. Alasan yang sama dengan teman-teman yang lainnya saat mereka terlambat tadi. Dimaklumi.

Mata kuliah pertama hari ini adalah Bimbingan dan Kounserling. Sebuah mata kuliah wajib bagi mahasiswa yang akan memperoleh gelar guru natinya.  Oleh Pak Rahman yang mempunyai nama lengkap Abdul Rahman Barakatu, kuliah ini menjadi terbawa ke dalam alur yang mengalir dan terus mengalir. Katanya segala sesuatu yang terjadi, mahasiswa itu harus mampu mengkolerasikannya dengan kehidupan manusia. Seperti yang terjadi pada alam, sebut saja semut. "Coba kita perhatikan semut yang kerap kali berhadapan. Mereka berhenti sebentar. Sebenarnya mereka sedang berkomunikasi. Selain itu rasa kerja sama mereka selalu erat, bahkan semut itu konsisten karena kemampuannya untuk tetap mendengarkan perintah tuannya, misalnya untuk mengambil makanan, dan itu tidak pernah mereka menolak ketika telah diprintahkan. Kita bisa mengambil manfaat dari semut-semut itu untuk kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari" Jelas Pak Rahman, yang wajahnya mirip Pak Haji Muhidin di serial Sinetron "Tukang Bubur Naik Haji" yang tayang tipa hari di Salah satu televisi swasta yang semakin maju itu.

Jika membaca atau mendengar nama beliau "Abdul Rahman Barakatu", terlintas kalimat itu sudah tidak asing lagi. Tepatnya pada salam pertemuan dan perpisahan dalam Islam "Assalamu 'alaikum warahmatullahi wa barakatuh". Lucu, unik tetapi bermakna. Abdul Rahman Barakatu kurang lebih berarti "Hamba pengasih yang diberkati". Orang awam terkadang berkata "Apalah arti sebuah nama". Nama sangat berarti karena sebagai identitas diri masing-masing orang. Coba bayangkan kalau nama itu tidak berarti dan hanya ada 1 kata "manusia" untuk memanggil orang. Apakah tidak semua orang dunia ini akan berbalik menengok pada satu suara yang membunyikan kata "manusia"?. Hehe. Selain itu nama adalah pemberian dari kedua orang tua yang tentunya mempunyai tujuan tersendiri dan tentunya lagi diharapkan agar nama pemberian yang diberikan akan menjadi pribadi si empunya nama. Miris sekali mereka yang berkata apalah arti sebuah nama. Iya kan?

Waktu telah menunjukkan pukul 09.40. Saatnya kami melepaskan beliau kepada mahasiswa lain untuk beliau ajar. Lelaki parubaya yang sudah berumur 65 tahun itu berjalan perlahan dengan tangan kanan berada disaku celananya keluar menuju dengan memberi salam terlebih dahulu lalu melempar senyum kepada kami.

Saatnya mata kuliah yang kedua, Tafsir tarbawi. Karena dosennya tidak hadir, kami pulang. Saya dan beberapa teman perempuan, sebut saja Ima, Janah dan Rahmah, tidak langsung pulang ke rumah. Kami pergi ke kampus 2 untuk mencari buku di perpustakaan yang katanya perpustakaan terbesar di Makassar itu. Tetapi, sebelumnya, kami singgah di rektorat kampus untuk mengambil sertifikat Baca Tulis Al-Quran yang merupakan salah satu syarat untuk wisuda kami nantinya. Usai ke Rektorat, kami juga ke Gedung F Fakultas SainTek untuk mengambil sertifikat PIKIH yang kegiatannya berlangsung saat kami masih semester 1. Tetapi, nilai PIKIH Bahasa Arabku tidak tercantum di sertifikat, Terpaksa saya harus mengurus nilai yang amat penting ini yang juga masuk dalam satu syarat untuk memperoleh gelar S1 nanti.
"Kak, kalau mau mengurus nilai bermasalah di mana?" Tanyaku lesu karena tidak tahu prosedur ribet seperti ini.
"Di depan, dek. kalau adek sudah lihat lelaki yang menggunakan headset putih. Dia orangnya." Katanya sambil memperagakan tangannya ia simpan di telinganya.
Aku agak kurang mengerti saat itu. Dengan tidak bertele'tele, akupun mengiyakan.

Di ruangan itu hanya ada 1 orang pemuda yang kira-kira berumur 27 tahun. Putih, ganteng, dan tentunya ada headset di telinganya. Benar, dia orang yang dimaksud si Mba tadi.
"Di sini tempat mengurus nilai yang bermasalah, ya, Kak?" Tanyaku sedikit menunduk.
"Iya, Dek. Nilai apa yang bermasalah?" Tanyanya sambil tersenyum.
"Nilai bahasa arab, kak. Padahal Pengajarku sudah memback-up nilai kami semua." Kataku sambil duduk tanpa dipersilahkan. Gelisah. hanya itu yang kurasakan. sementara Ima, Rahma dan Janah menungguku di depan pintu, dan kulihat mereka duduk di lantai tepat di samping pintu masuk. Mungkin karena lelah dari perjalanan yang tiada henti sedari tadi.

"Sebentar ya, Dek. Saya Cek dulu." Katanya beranjak lalu mengambil sebuah map besar berisikan data-data mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Keguruan pada pelajaran PIKIH Bahasa Arab.
"Coba, cari namamu." Sambil menyodorkannya di depan tanganku yang sedari tadi ingin mengotak atik sesuatu itu.
Dengan mata telajang yang teliti, ku cari namaku di antara tumpukan dari puluhan nama teman sekelasku. Inayah Natsir yang ku cari, bukan yang lain. Tidak ada. Aku tak percaya. kubolak-balik lagi. Tidak ada. Ataukah mungkin terselip sedikit. Tidak ada lagi. Aku semakin jeli dalam kegerama yag menjadi-jadi. "Namaku manaaa?" Teriakku dalam hati. Nihil.

Ternyata yang salah bukan pihak panitia yang mengetik nama di sertifikat. Tetapi dari pihak pngajarku, Kak Syarif. "Jadi bagaiman, Kak?" Tanyaku melemas.
"Gini, dek. Bagaimana kalau kamu telefon pengajarmu saja dulu. Minta penjelasannya bagaimana."
"Iya, Kak. Sebentar ya."

3 nomor telefon Kak Syarif tidak ada satupun yang aktif. Nihil lagi. Kakak yang tidak kuketahui namanya itu lalu mmberiku surat pengantar supaya ditanda tangani oleh Kak Syarif yang katanya seang berada di luar daerah untuk KKN. Sebuah berita yang semakin menciutkanku,

Bersambung... :)

Selasa, 05 Maret 2013

Kebaikan Adalah Puncak Dari Segala Sesuatu


Semester 3 lalu, menjadi bagian terpenting dalam hidup ilmu pengetahuanku yang semakin ke sana semakin bertambah di bangku kuliah. Oleh Pak Salahuddin, dosen favorite-ku, menberikan materi seputar Kebaikan yang mempunyai kekuatan yang sangat besar dalam Mata Kuliahnya Aqidah Akhlak. Rangkumannya seperti apa yang saya tuliskan di bawah ini. Silahkan dibaca dan diambil manfaatnya.

"Berperilaku baik dalam segala hal adalah puncak dari segala apa yang menjadi kepribadian sebenarnya.
Dr. Masaru Emoto (Jepang), dalam bukunya “The True Power of Water”, menjelaskan tentang kehakekatan bersikap baik melalui sebuah eksperimen. Yang menjadikan 3 buah botol, dengan berisi air penuh sebagai bahan percobaan. Botol pertama adalah botol yang seringkali dihargai, semua ungkapan senang diluapkan kepadanya. Botol kedua, sebaliknya. Dia sering diremehkan, dicemooh, atau semua tentang yang jelek-jelek di arahkan kepadanya. Dan botol ke tiga, biasa-biasa saja. Artinya tidak diberi sanjungan ataupun cemoohan. Nah, dari ke tiga itu sangatlah berbeda. Emoto, kemudian membekukan ketiga botol itu, lalu mengambil foto dari ketiga botol tersebut dengan menggunakan camera yang super tinggi kualitas gambarnya, hingga mampu melihat titik-titik molekul di dalam air. Dari ketiga botol tersebut terlihat sangat jelas bahwa, pada botol pertama molekul-molekul yang teratur dan tersusun rapi, pada botol ke dua terlihat molekulnya sangat berantakan dan terlihat mengerikan, dan pada botol ke tiga terlihat molekulnya tersusun biasa-biasa saja. Jika dari ketiga botol itu digerakkan, apabila merespon, akan sama. Tetapi jika tidak, terlihat akan berbeda. Jadi, kesimpulan dari percobaan yang yang dilakukan oleh Emoto bahwa air itu hidup dan air itu pintar.
Selama ini kita didoktrinkan oleh ilmu IPA saat masih di bangku sekolah dulu, bahwa benda hidup adalah mereka yang hanya mengalami pertumbuhan,  mengalami pergerakan, berkembang biak, dan lain sebagainya. Namun Fisikawan di abad modern ini telah membuktikan bahwa segala sesuatu itu hidup. Baik itu bangku, rumah, pulpen, dan semua yang di anggap benda mati dahulu, kini semua dileburkan dan dikategorikan ke dalam satu kata, “BENDA HIDUP”. Sebagaimana, telah disebutkan juga oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an bahwa “SEMUA YANG ADA DI BUMI INI BERTASBIH KEPADA ALLAH”, Nah, ketika mereka bertasbih, berarti mereka “HIDUP”.


Lain lagi dengan Dr. Kazvo Mukarami. Dalam bukunya “The Divine Massage of DNA”, dia menjelaskan ada tiga hal yang harus ditanamkan ke dalam diri agar energi-energi negatif terbuang oleh energi-energi positif. Adapun dari ke tiganya, sebagai berikut:
      1.      Selalu memiliki niat baik
      2.      Selalu bersyukur
      3.      Berprasangka baik
Apabila ketiga hal tersebut ada dalam diri kita, maka kita akan menarik kekuatan dari sikap itu masuk ke dalam diri kita. Dalam fisika kuantum, tentang “The Law Attraction (Hukum berlawanan/timbal-balik)”, berarti hal-hal yang terjadi secara berlawanan/ timbal balik di dalamnya, terdapat juga dalam diri kita. Tanamkanlah hal-hal yang baik pada diri, dan jangan pernah menanamkan hal-hal yang buruk. Karena kita akan menuai apa yang kita lakukan. Seperti ada sebuah kalimat yang mengatakan bahwa “APA YANG KITA LAKUKAN HARI INI, MENJADI PENENTU AKAN JADI APA KITA KEDEPANNYA.” Karena perilaku yang baik itu untuk diri kita sendiri juga.

Sepert itulah gambaran hidup yang Allah inginkan. Pelajaran hidup dari alam melalui percobaan IPTEK yang semakin merajai dunia. Allah semakin menunjukkan kebesarannya melalui ilmu pengetahuan yang semakin berkembang.

Minggu, 03 Maret 2013

Dosen Favorite :D

Namanya Pak Salahuddin. Beliau adalah dosen Aqidah Akhlak di kampusku. Kebetulan beliau ditempatkan lagi di kelas kami pada semester 4 ini setelah Semester 3 lalu beliau juga mengajar di kelas kami. Adalah suatu kebanggaan bagiku saat beliau mengajar di kelas, terlebih beliau adalah seorang Doktor.

Albert Einstein pernah berkata, "Guru yag baik adalah guru yang memberikan ilmunya kepada muridnya, Sedangkan guru yang paling baik adalah guru yang memberi motivasi kepada muridnya." Begitulah Pak Salahuddin. Beliau banyak memberi materi motivasi pada setiap materi kuliah yang dibawakan melalui metode kisah/cerita yang bermanfaat serta memberi motivasi kepada kami.

Awal semester 3 beliau masuk di kelas memecah keheningan kami menunggu beliau dalam waktu yang cukup lama. Karena alasan sibuk, kami pun mengiyakannya. Mulailah awal kategori dosen favorite ku ia keluarkan dalam bahasa yang santun bukan kepalang.
"Assalamu 'alaikum. Bagaimana kabar semua? Maaf, Bapak telat. Tadi ada sedikit gangguan di jalan.." Katanya dengan nada ramah. Pertemuan pertama yang memberi kesan simpatik di hatiku. Aku kagum pada sosok beliau yang rendah hati. Jarang kutemukan sesosok "Pelaku pendidikan" yang langsung menyapukan air laut ke hati anak didiknya. Dan ia berhasil melakukannya. Tetapi, bukan hanya aku saja yang merasakan ketenangan saat beliau mulai berbicara dalam santun yang sabarnya luar biasa. Banyak dari teman-teman perempuanku pun ikut merasakan sapuan air laut hinggap ke diri mereka. Lelaki pun ada. Tentu hanya mereka yang betul-betul memperhatikan dalam diam yang tersiratkan makna hakiki dalam diri beliau hingga kami pun merasa kagum padanya.

Tadi pagi, seperti biasa beliau mengajar untuk pertama kali di usia sehari semester 4 kami. Kuliah perdana tepatnya. Hanya ada beberapa dari kami yang berada di kelas. Karena ada sebagian besar dari teman-teman yang sudah pulang dikarenakan karena alasan "Pak Salahuddin, pasti tidak datang. Kan, sudah beberapa kali dihubungi." Celoteh mereka. Lalu pulang. Hilang ditelan panas pada puncaknya siang itu.

Kembali lagi beliau mengentakkan tawa kami dalam kagum yang menderu-deru setelah sekian banyak motivasi-motivasi yang beliau ceritakan. "The Perfect Man", pikirku.

Ternyata eh ternyata, usut punya usut, beliau juga suka menulis. "We are same, Pak!" Teriakku dalam hati. Banyak catatan harian yang beliau tuliskan di catatan hape ataupun notebook yang tidak pernah ketinggalan saat beliau mengajar. "Apa saja yang terjadi, tulislah." Begitulah katanya. Pak Salahuddin menamai judul catatannya dengan nama 'MENULIS TANPA HENTI'.
"Kalimat ini bisa mensugesti pikiran untuk selalu menulis, karena pada hakikatnya apa yang kita pikirkan itulah yang akan kita lakukan. Judul seperti ini mampu membangkitkan gairah menulis ketika 'mood' menulis itu pada puncak kelemahan." Kurang lebih seperti itu tambahnya.

Beliau juga bercerita tentang seorang anak yang kasihan melihat jerih payah ulat yang terbungkus daun yang membentuk bulatan erat melekat di tubuhnya. Sebenarnya ulat itu sedang berusaha sendiri menuju keindahan hakiki untuk keluar menjadi kupu-kupu yang indah. Tetapi lain yang dipikirkan oleh anak itu. Ia malah membantu ulat tersebut membukakan kepompongnya. Dan apa yang terjadi? Kupu-kupu itu tidak bisa terbang dan kemudian mati. Ulat  yang seharusnya tetap berada di dalam kepompong untuk selanjutnya menuju tahap metamorfosis terakhir untuk mejadi kupu-kupu yang indah. Pada dasarnya, manusia adalah belajar dari apa yang terjadi pada kealamiahannya alam. Seperti layaknya kupu-kupu yang senantiasa berjuang keluar dari balutan erat kepompong yang membungkusnya dalam tahap untuk menuju kedewasaan sehingga berubah menjadi kupu-kupu yag indah. Manusia bisa belajar dari kisah ini. Bahwa terkadang kita harus melakukan sesuatu denga sendiri, walau pada dasarnya manusia itu adalah makhluk sosial sekalipun. Sikap mandiri diharapkan mampu ditanamkan pada tiap-tiap diri manusia. Sungguh dramatis sekali jika kita tidak bisa mengambil hikmah.

Kami tersenyum kagum memandangi beliau yang santun itu. Tanpa kami pikir bahwa sebenarya materi pertama untuk hari ini adalah kontrak perkuliahan pada mata kuliahnya. Whatever!

Beliau menamatkan S1 di IAIN yang sekarang bernama UIN Alauddin. S1 dan S2 di Jakarta. Dan telah pergi menempu pijakan kaki di Singapura dan Mesir. Katanya, beliau tidak akan mengajar kami di pertemuan selanjutnya. Beliau akan meminta seorang dosen pengganti untuk mengajar di kelas kami. Karena beliau diminta di salah satu instansi universitas islam di Brunei Darussalam. Tambah kagum sama beliau. Tetapi itu menjadi kesedihan terpahit bagi kami, terutama Aku. Jiwa hebat yang berintelektual tinggi itu akan hilang dari bayang kami, akan hilang di telan negeri Brunei yang kata orang tiongkok disebut sebagai po-ni.

Semoga saja, Pengganti Pak Salahuddin ini 11 12 dengan beliau. Penuh jiwa pemimpi, dan mencintai hidup, terlebih tulis menulis.
Semoga sukses selalu menemui beliau dalam tiap langkanya terlantunkan Ridho dari Allah. Aamiin.



Hari Ke Empat di Bulan Maret


Hari ini, adalah hari ke empat di bulan Maret, tepat pada tanggal 4 aku sudah memulai kuliah perdana di semester 4. seperti biasa, seperti hari-hari sebelumnya, seperti semester-semester sebelumnya, aku di bonceng oleh Ayah. Mau tidak mau, suka tidak suka, jawaban satu-satunya adalah mengiyakan. Ayahku memang paling tidak bisa melihat anak perempuannya jalan sendirian. Ayahku tidak seperti kebanyakan ayah pada umumnya. Ayah bisa dibilang otoriter, bisa juga dibilang tidak. Otoriter karena segala sesuatu harus dengan sepengetahuannya, seizinnya, bahkan dengannya. Di lain pihak, kami juga sebagai anaknya harus mengikuti kehendak beliau. karena dia adalah Ayah kami.Jika dikata 'tidak otoriter', Ayah memang melakukan itu semua karena tidak ingin melepas taggung jawabnya sebagai Ayah yang harus melindungi anaknya dari ancaman dunia yang akan menghanyutkan.
"Kalau keluar rumah itu harus denga muhrim, jangan keluar tanpa muhrim." itulah pesan yang sering ayah sampaikan ke anak-anak perempuannya. sebuah pesan dari ajaran nabi Muhammad yang merupakan tuntunan ke dua dalam Islam setelah Al-Quran.

Ayahku memang sarat agama sekali. Beliau dulunya adalah seorang ustadz di lingkungan rumah kami. Tetapi karena sudah menginjak kepala 6, maka ayahku sudah tidak kuat lagi lama-lama berdiri saat menyampaikan dakwahnya. Beliau juga adalah seorang guru mengaji puluhan tahun silam, bahkan sebelum saya lahir, beliau sudah mengajarkan agama Allah kepada generasi Qur'ani, anak cucu Adam yang akan meneruskan dakwah Islam.

Pagi tadi, untuk pertama kalinya kegiatan belajarku dipindahkan ke kampus 1 UIN Alauddin. Kebetulan kampus UIN ada dua. Kampus 1 ini sebenarnya akan dijadikan sebuah Rumah Sakit, sekarang sedang dalam tahap renovasi. Masih ada beberapa gedung di belakang yang masih bisa digunakan untuk menjadi ruangan kuliah. Tetapi hanya beberapa jurusan saja yang dialihkan ke kampus 1. karena kuota Mahasiswa di kampus 2 sudah melebihi batas normal yang telah disediakan.

Bersambung.. :)

Jumat, 01 Maret 2013

Si Februari

Hari ini, hari kedua di bulan maret setelah si Bulan Februari hanya menitipkan 28 hari untuk disinggahi. tanggal 28 tanpa 29 bahkan 30 pada Februari yang sudah lewat hanya akan menjadi bagian dari  masa laluku, bulan yang tanpa ada refreshing penyegar pikiran saat 'libur kuliah', sehari pun. Beginilah nasib anak manusia yang notabenenya tinggal bersama keluarga. Tidak ada kata "Merantau" di kota orang. Tidak ada kata "pulang kampung" seperti kebanyakan teman di kampus kalau liburan kuliah sudah tiba. pernah saya ditanyai Liburan di mana?, lagi dan lagi jawabanyya, "Biasa, di rumah saja."

Keluargaku memang jarang memanfaatkan liburan. Paling tidak, kami hanya pergi berbelanja kebutuhan rumah, berbelanja baju, atau paling tidak shopping buku 1-2 eksemplar saja. itu pun masih sebulan belakangan ini kulakukan, padahal telah menjadi resolusi hidupku di 2013 ini, kalau aku akan membeli buku 1-2 eksemplar tiap bulannya.
Tetapi, begitulah. Dana terkadang tidak mendukung keinginanku, Kesibukan kuliah, dan kesibukan mengajar santri-santriku mengaji di tiap pagi dan sorenya.

...Tidak seperti halnya yang lain, aku menghabiskan bulan Februari dengan mengasah imajinasi berpikir melalui tulisan. entah itu cerpen, puisi, ataukah mengisi halaman novel solo yang masih kosong puluhan halaman. Bangun tidur, aku mandi, menggosok gigi, lalu membantu ibu membersihkan tempat tidurku. Kembali lagi memoriku pada beberapa tahun silam saat masih SD. Nyanyian anak-anak yang mendidik, pikirku. Tidak seperti sekarang, anak-anak banyak yang numpang tenar di lagu-lagu orang dewasa.

Si Februari yang mengisi liburanku dengan seadanya tetapi sangat bermanfaat. Tak genap seperti bulan-bulan pada umumnya, 30 atau 31 sebagai penutup. Bahkan 29 akan singgah hanya 4 tahun sekali saja. Aku terkadang berpikir pada mereka yang lahir pada tanggal 29 di bulan Februari itu, apakah mereka akan menunggu 4 tahun sekali untuk bertambahnya umur? Atau menyelinap di 1 Maret yang akan melanggar norma dalam kehidupan 'Berkalender'?. Istimewa sekali si Februari itu.

Hari ke 4 di bulan Maret adalah awal baru dalam anak tangga kesuksesan yang siap ku jejaki. Memasuki semester berjalan di semester 4 Jurusan Pendidikan Agama Islam untuk S1-ku. Sebuah pencapaian yang tak pernah terpikirkan saat masih SMA dulu. Karena jenjang setelah SMA itu  adalah jenjang langka bahkan tak pernah terjamah dalam kehidupan anak-anak dari ayah dan ibuku. Tetapi aku berhasil mendobraknya melalui beasiswa yang aku terima dari Pemerintah pusat.

Semester 4, Semester harapan yang semakin membuat dag dig dug hati saat terbayangkan toga akan menyambut hangat saat berdiri di depan podium sang rektor UIN Alauddin nanti.
Semoga harapanku tak tersungkur se-centi pun dalam tiap lembaran-lembaran bulan yang berkenan hadir di hidupku, menghiasi mimpi sang penikmat sastra dan si penggali ilmu agama ini.


Pengabulan Allah

Kita tidak pernah tahu, bisik hati mana yang akan Allah kabulkan. Kita tidak pernah tahu doa dari siapa yang akan Allah indahkan. Dan kit...