Minggu, 03 Maret 2013

Dosen Favorite :D

Namanya Pak Salahuddin. Beliau adalah dosen Aqidah Akhlak di kampusku. Kebetulan beliau ditempatkan lagi di kelas kami pada semester 4 ini setelah Semester 3 lalu beliau juga mengajar di kelas kami. Adalah suatu kebanggaan bagiku saat beliau mengajar di kelas, terlebih beliau adalah seorang Doktor.

Albert Einstein pernah berkata, "Guru yag baik adalah guru yang memberikan ilmunya kepada muridnya, Sedangkan guru yang paling baik adalah guru yang memberi motivasi kepada muridnya." Begitulah Pak Salahuddin. Beliau banyak memberi materi motivasi pada setiap materi kuliah yang dibawakan melalui metode kisah/cerita yang bermanfaat serta memberi motivasi kepada kami.

Awal semester 3 beliau masuk di kelas memecah keheningan kami menunggu beliau dalam waktu yang cukup lama. Karena alasan sibuk, kami pun mengiyakannya. Mulailah awal kategori dosen favorite ku ia keluarkan dalam bahasa yang santun bukan kepalang.
"Assalamu 'alaikum. Bagaimana kabar semua? Maaf, Bapak telat. Tadi ada sedikit gangguan di jalan.." Katanya dengan nada ramah. Pertemuan pertama yang memberi kesan simpatik di hatiku. Aku kagum pada sosok beliau yang rendah hati. Jarang kutemukan sesosok "Pelaku pendidikan" yang langsung menyapukan air laut ke hati anak didiknya. Dan ia berhasil melakukannya. Tetapi, bukan hanya aku saja yang merasakan ketenangan saat beliau mulai berbicara dalam santun yang sabarnya luar biasa. Banyak dari teman-teman perempuanku pun ikut merasakan sapuan air laut hinggap ke diri mereka. Lelaki pun ada. Tentu hanya mereka yang betul-betul memperhatikan dalam diam yang tersiratkan makna hakiki dalam diri beliau hingga kami pun merasa kagum padanya.

Tadi pagi, seperti biasa beliau mengajar untuk pertama kali di usia sehari semester 4 kami. Kuliah perdana tepatnya. Hanya ada beberapa dari kami yang berada di kelas. Karena ada sebagian besar dari teman-teman yang sudah pulang dikarenakan karena alasan "Pak Salahuddin, pasti tidak datang. Kan, sudah beberapa kali dihubungi." Celoteh mereka. Lalu pulang. Hilang ditelan panas pada puncaknya siang itu.

Kembali lagi beliau mengentakkan tawa kami dalam kagum yang menderu-deru setelah sekian banyak motivasi-motivasi yang beliau ceritakan. "The Perfect Man", pikirku.

Ternyata eh ternyata, usut punya usut, beliau juga suka menulis. "We are same, Pak!" Teriakku dalam hati. Banyak catatan harian yang beliau tuliskan di catatan hape ataupun notebook yang tidak pernah ketinggalan saat beliau mengajar. "Apa saja yang terjadi, tulislah." Begitulah katanya. Pak Salahuddin menamai judul catatannya dengan nama 'MENULIS TANPA HENTI'.
"Kalimat ini bisa mensugesti pikiran untuk selalu menulis, karena pada hakikatnya apa yang kita pikirkan itulah yang akan kita lakukan. Judul seperti ini mampu membangkitkan gairah menulis ketika 'mood' menulis itu pada puncak kelemahan." Kurang lebih seperti itu tambahnya.

Beliau juga bercerita tentang seorang anak yang kasihan melihat jerih payah ulat yang terbungkus daun yang membentuk bulatan erat melekat di tubuhnya. Sebenarnya ulat itu sedang berusaha sendiri menuju keindahan hakiki untuk keluar menjadi kupu-kupu yang indah. Tetapi lain yang dipikirkan oleh anak itu. Ia malah membantu ulat tersebut membukakan kepompongnya. Dan apa yang terjadi? Kupu-kupu itu tidak bisa terbang dan kemudian mati. Ulat  yang seharusnya tetap berada di dalam kepompong untuk selanjutnya menuju tahap metamorfosis terakhir untuk mejadi kupu-kupu yang indah. Pada dasarnya, manusia adalah belajar dari apa yang terjadi pada kealamiahannya alam. Seperti layaknya kupu-kupu yang senantiasa berjuang keluar dari balutan erat kepompong yang membungkusnya dalam tahap untuk menuju kedewasaan sehingga berubah menjadi kupu-kupu yag indah. Manusia bisa belajar dari kisah ini. Bahwa terkadang kita harus melakukan sesuatu denga sendiri, walau pada dasarnya manusia itu adalah makhluk sosial sekalipun. Sikap mandiri diharapkan mampu ditanamkan pada tiap-tiap diri manusia. Sungguh dramatis sekali jika kita tidak bisa mengambil hikmah.

Kami tersenyum kagum memandangi beliau yang santun itu. Tanpa kami pikir bahwa sebenarya materi pertama untuk hari ini adalah kontrak perkuliahan pada mata kuliahnya. Whatever!

Beliau menamatkan S1 di IAIN yang sekarang bernama UIN Alauddin. S1 dan S2 di Jakarta. Dan telah pergi menempu pijakan kaki di Singapura dan Mesir. Katanya, beliau tidak akan mengajar kami di pertemuan selanjutnya. Beliau akan meminta seorang dosen pengganti untuk mengajar di kelas kami. Karena beliau diminta di salah satu instansi universitas islam di Brunei Darussalam. Tambah kagum sama beliau. Tetapi itu menjadi kesedihan terpahit bagi kami, terutama Aku. Jiwa hebat yang berintelektual tinggi itu akan hilang dari bayang kami, akan hilang di telan negeri Brunei yang kata orang tiongkok disebut sebagai po-ni.

Semoga saja, Pengganti Pak Salahuddin ini 11 12 dengan beliau. Penuh jiwa pemimpi, dan mencintai hidup, terlebih tulis menulis.
Semoga sukses selalu menemui beliau dalam tiap langkanya terlantunkan Ridho dari Allah. Aamiin.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengabulan Allah

Kita tidak pernah tahu, bisik hati mana yang akan Allah kabulkan. Kita tidak pernah tahu doa dari siapa yang akan Allah indahkan. Dan kit...