Kamis, 14 Maret 2013

Lubang Lukratif

Aku bukannya mengeluh pada hidup yang hari ini menghampiriku. Tetapi, terkadang apa yang kita inginkan tak sejalan dengan kenyataan yang sedang berjalan. Manusia selain perlu untuk dibimbing, manusia juga perlu untuk membimbing dirinya. Sehingga mampu memecahkan masalah ketika kemampuan untuk membimbing diri itu ditempatkan pada jalur yang sesuai.

Pagi tadi, hujan terlihat terisak. Sesekali terdengar berteriak, sesekali menangis ringan. Entah apa yang telah membuatnya seperti itu. Apakah ia turun sebagai berkah atau apakah ia turun sebagai azab, ataukah sebagai cobaan. Entahlah. Tetapi pada pertemuan pagi, siang, dan sore tadi sangat sangat dan sangat memberiku pelajaran tentang rasa sabar dan tawakkal.

"Pakai jas hujan, nih? Ribet sekali.!" Eluhku pada ayah yang telah lebih dulu menggunakan jas hujannya.
"Pakai saja, nanti basah kuyup di tengah jalan, kamu." Balasnya sambil menyerahkan jas hujan yang telah ia keluarkan dari bagasi motornya.
Dengan wajah kusut kugunakan jas hujan yang berwarna hitam itu. Tempat kepalanya terasa sempit sehingga sedikit merusak jilbabku yang rapinya sudah rapi sekali. Aku tak berkata apa-apa. Lalu kami berangkat sebelum meminta izin setelah sebelumnya salaman dan berpamitan sama ibu yang duduk di meja makan. Kami berangkat ditelan jas hujan yang menelan tubuh kami dalam hujan yang belum terlalu deras.

Diperjalan, kurasakan aneh. Betisku terasa dingin saat perjalanan. Ku lihat, ternyata kaos kaki yang kugunakan telah terpeciki air kotor di jalanan. "Aduh, lupa. Kenapa kaosnya tidak ku pakai di kampus saja?. Sekarang kotor!" Desahku dalam hati saat masih berada dibelakang ayahku di atas motor Honda Revonya. Karena memang baru kali ini aku memakai kaos kaki ke kampus sementara hujan deras. Pasrah. Kaos kakiku basah, kotor, cumal, dan terlihat dekil.
"Apa kata teman-teman nanti saat melihat kaos kakiku seperti ini?" Kataku sedikit lirih sesaat membuka jas hujan yang terasa tersangkut di kepala saat hendak kukeluarkan. Kutengok bagian bawah tubuhku. Tampak wajah murungku. Segera ku ambil tissue yang setiap hari setia menemaniku saat flu untuk membersihkan kotorannya sedikit. "Yah, Lumayan." Kataku.

Sampai di kelas, tampak beberapa temanku saja yang duluan tiba. Dosen belum datang. padahal Jam kuliah sudah masuk pukul 08.01. Sudut setiap ruangan terlihat mengungkungkan badan, tidak menyapa seperti biasanya. Mungkin merasa kedinginan karena sejak semalam hujan tak kunjung reda.
Seperti biasa, aku duduk di bangku paling depan di bagian ujung kiri. Tempat yang sangat strategis untuk memperhatikan dosen dalam menyampaikan materi kuliah. Aku tidak bisa terlalu memperhatikan pesan yang disampaikan dalam materi kuliah secara keseluruhan jika terlambat datang dan duduk di posisi bangku dibelakang ataupun bangku dua sekalipun. Susah menerima pelajaran. Entah kenapa. Tetapi begitulah Aku.

Lama kami menunggu dalam detik yang berganti menit dan menit yang berganti setengah jam, dosen kami baru tiba. Alasannya macet apalagi hujan. Alasan yang sama dengan teman-teman yang lainnya saat mereka terlambat tadi. Dimaklumi.

Mata kuliah pertama hari ini adalah Bimbingan dan Kounserling. Sebuah mata kuliah wajib bagi mahasiswa yang akan memperoleh gelar guru natinya.  Oleh Pak Rahman yang mempunyai nama lengkap Abdul Rahman Barakatu, kuliah ini menjadi terbawa ke dalam alur yang mengalir dan terus mengalir. Katanya segala sesuatu yang terjadi, mahasiswa itu harus mampu mengkolerasikannya dengan kehidupan manusia. Seperti yang terjadi pada alam, sebut saja semut. "Coba kita perhatikan semut yang kerap kali berhadapan. Mereka berhenti sebentar. Sebenarnya mereka sedang berkomunikasi. Selain itu rasa kerja sama mereka selalu erat, bahkan semut itu konsisten karena kemampuannya untuk tetap mendengarkan perintah tuannya, misalnya untuk mengambil makanan, dan itu tidak pernah mereka menolak ketika telah diprintahkan. Kita bisa mengambil manfaat dari semut-semut itu untuk kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari" Jelas Pak Rahman, yang wajahnya mirip Pak Haji Muhidin di serial Sinetron "Tukang Bubur Naik Haji" yang tayang tipa hari di Salah satu televisi swasta yang semakin maju itu.

Jika membaca atau mendengar nama beliau "Abdul Rahman Barakatu", terlintas kalimat itu sudah tidak asing lagi. Tepatnya pada salam pertemuan dan perpisahan dalam Islam "Assalamu 'alaikum warahmatullahi wa barakatuh". Lucu, unik tetapi bermakna. Abdul Rahman Barakatu kurang lebih berarti "Hamba pengasih yang diberkati". Orang awam terkadang berkata "Apalah arti sebuah nama". Nama sangat berarti karena sebagai identitas diri masing-masing orang. Coba bayangkan kalau nama itu tidak berarti dan hanya ada 1 kata "manusia" untuk memanggil orang. Apakah tidak semua orang dunia ini akan berbalik menengok pada satu suara yang membunyikan kata "manusia"?. Hehe. Selain itu nama adalah pemberian dari kedua orang tua yang tentunya mempunyai tujuan tersendiri dan tentunya lagi diharapkan agar nama pemberian yang diberikan akan menjadi pribadi si empunya nama. Miris sekali mereka yang berkata apalah arti sebuah nama. Iya kan?

Waktu telah menunjukkan pukul 09.40. Saatnya kami melepaskan beliau kepada mahasiswa lain untuk beliau ajar. Lelaki parubaya yang sudah berumur 65 tahun itu berjalan perlahan dengan tangan kanan berada disaku celananya keluar menuju dengan memberi salam terlebih dahulu lalu melempar senyum kepada kami.

Saatnya mata kuliah yang kedua, Tafsir tarbawi. Karena dosennya tidak hadir, kami pulang. Saya dan beberapa teman perempuan, sebut saja Ima, Janah dan Rahmah, tidak langsung pulang ke rumah. Kami pergi ke kampus 2 untuk mencari buku di perpustakaan yang katanya perpustakaan terbesar di Makassar itu. Tetapi, sebelumnya, kami singgah di rektorat kampus untuk mengambil sertifikat Baca Tulis Al-Quran yang merupakan salah satu syarat untuk wisuda kami nantinya. Usai ke Rektorat, kami juga ke Gedung F Fakultas SainTek untuk mengambil sertifikat PIKIH yang kegiatannya berlangsung saat kami masih semester 1. Tetapi, nilai PIKIH Bahasa Arabku tidak tercantum di sertifikat, Terpaksa saya harus mengurus nilai yang amat penting ini yang juga masuk dalam satu syarat untuk memperoleh gelar S1 nanti.
"Kak, kalau mau mengurus nilai bermasalah di mana?" Tanyaku lesu karena tidak tahu prosedur ribet seperti ini.
"Di depan, dek. kalau adek sudah lihat lelaki yang menggunakan headset putih. Dia orangnya." Katanya sambil memperagakan tangannya ia simpan di telinganya.
Aku agak kurang mengerti saat itu. Dengan tidak bertele'tele, akupun mengiyakan.

Di ruangan itu hanya ada 1 orang pemuda yang kira-kira berumur 27 tahun. Putih, ganteng, dan tentunya ada headset di telinganya. Benar, dia orang yang dimaksud si Mba tadi.
"Di sini tempat mengurus nilai yang bermasalah, ya, Kak?" Tanyaku sedikit menunduk.
"Iya, Dek. Nilai apa yang bermasalah?" Tanyanya sambil tersenyum.
"Nilai bahasa arab, kak. Padahal Pengajarku sudah memback-up nilai kami semua." Kataku sambil duduk tanpa dipersilahkan. Gelisah. hanya itu yang kurasakan. sementara Ima, Rahma dan Janah menungguku di depan pintu, dan kulihat mereka duduk di lantai tepat di samping pintu masuk. Mungkin karena lelah dari perjalanan yang tiada henti sedari tadi.

"Sebentar ya, Dek. Saya Cek dulu." Katanya beranjak lalu mengambil sebuah map besar berisikan data-data mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Keguruan pada pelajaran PIKIH Bahasa Arab.
"Coba, cari namamu." Sambil menyodorkannya di depan tanganku yang sedari tadi ingin mengotak atik sesuatu itu.
Dengan mata telajang yang teliti, ku cari namaku di antara tumpukan dari puluhan nama teman sekelasku. Inayah Natsir yang ku cari, bukan yang lain. Tidak ada. Aku tak percaya. kubolak-balik lagi. Tidak ada. Ataukah mungkin terselip sedikit. Tidak ada lagi. Aku semakin jeli dalam kegerama yag menjadi-jadi. "Namaku manaaa?" Teriakku dalam hati. Nihil.

Ternyata yang salah bukan pihak panitia yang mengetik nama di sertifikat. Tetapi dari pihak pngajarku, Kak Syarif. "Jadi bagaiman, Kak?" Tanyaku melemas.
"Gini, dek. Bagaimana kalau kamu telefon pengajarmu saja dulu. Minta penjelasannya bagaimana."
"Iya, Kak. Sebentar ya."

3 nomor telefon Kak Syarif tidak ada satupun yang aktif. Nihil lagi. Kakak yang tidak kuketahui namanya itu lalu mmberiku surat pengantar supaya ditanda tangani oleh Kak Syarif yang katanya seang berada di luar daerah untuk KKN. Sebuah berita yang semakin menciutkanku,

Bersambung... :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jelita Hikmah Pemilu

Hari ini kita mengambil banyak hikmah. Kita mengambil nomor urut dan tahu di waktu ke berapa nama kita disebut. Pun tahu bekal apa yang t...