Minggu, 17 Maret 2013

Sebuah Predeo Dari Allah

Tadi pagi aku baru saja pulang dari kegiatan Raker jurusanku HMJ PAI di Benteng Somba Opu. Di pinggir jalan di sekitar kompleks Benteng Somba Opu yang didirikan oleh Sultan Gowa IX, Daeng Matanre Karaeng Tumapa' risi' kalonna pada tahun 1525 ini tampak banyak orang yang berlalu lalang. Terlihat di sepanjang jalan kompleks itu sebuah bukit panjang dan ditumbuhi rerumputan hijau yang entah itu buatan atau bukan. Dari atas bukit itu juga berjejeran puluhan anak manusia yang mungkin sedang memandangi danau di pinggir jalan setelah bukit itu. Karena setelah menengok dan memandangi apa yang sebenarnya membuat daya tarik sehingga mereka berkerumun membentuk lautan manusia, terlihat hanya danau yang kira-kira berukuran 40-50 meter itu. Mereka ada yang terdiri dari anak muda-mudi yang berpasangan, ada juga orang tua dan anak-anaknya. Bahkan mungkin karena kuota di atas bukit yang sebenarnya dijadikan sebagai jalan raya itu tidak mampu lagi menampung puluhan manusia lagi, di pinggir jalan tepat di bibir danau yang sebenarnya lagi tertutupi oleh pembatas, sebut saja 'seng' juga dipenuhi pasangan yang seperti yag saya jelaskan sebelumnya. Tampak dari dalam mobil Avanza yang kutumpangi, langit biru yang diaraki awana-awan putih yang menyambut jiwa-jiwa para pecinta suasana alam pada pagi itu. Terlihat menakjubkan ketika kupandangi langit yang terlihat dekat padahal jauh itu.
"Dek, coba perhatikan. Kalau kita mau melakukan hunting di sini, keren, ya." Tanyaku pada adik juniorku yang belum kuketahui namanya.
"Iya, kak. Benar banget". Balasnya singkat.

Mobil dikendarai oleh Ketum HMJ yang baru saja 2 bulan menjabat itu, Sebut saja namanya Kak Takdir. Dia amat ramah kepada juniornya, mungkin karena rasa terima kasihnya karena telah memilihnya dalam PEMILMA awal Januari lalu. Ah, tidak. Kak Takdir memang baik. Belum ada kesalahan yang pernah kudengar darinya. Kalaupun ada, itu hak kodrati yang dimiliki tiap manusia. Dan merupakan hal yang sangat mutlak dan pasti ketika ada kekurangan pada diri.

Aku turun di pinggir jalan A.P Pettarani untuk mengambil mobil jurusan 07. "Saya antar sampai rumah saja, Dek." Terdengar suara lelaki dari depan jok mobil. Yah, benar suara Kak Takdir yang memang hanya dia satu-satunya lelaki di atas mobil itu, 7 dari kami adalah perempuan. Hanya saja, sudah 3 orang yang sudah turun duluan di Jalan Mannuruki, tempat kost-kost-an mereka.

"Tidak usah, Kak. Makasih."Kataku sambil membuka pintu mobil sebelah kanan. Tidak lupa saya berpamitan pada mereka.
"Hati-hati, Dek." Teriak Kak Takdir dan Kak Ria yang sedari tadi setia berada di samping Pak Ketua HMJ PAI itu.

Belum tampak banyak mobil yang berlalu lalang. Hanya terlihat 2 buah mobil jurusan 07 yang menyapa untuk ditumpangi. Sesekali membunyikan klaksonnya memanggilku untuk sekedar memberinya ongkos Tiga Ribu Rupiah sampai di Jalan Abdullah Dg. Sirua.

Aku menginjakkan kaki di mobil pete-pete (Sebutan Angkot di Makassar) yang belum ditumpangi seorangpun selain aku. Rasa kantuk menderaku dalam balutan angin pagi yang sebenarnya akan kutemui saat tidur pada malam hari seperti hari-hari biasanya. Karena baru kali ini aku mengikuti kegiatan yang memaksa mata untuk di-melek-kan terus hingga senja yang awalnya mencerahkan mata bertemu dengan pagi yang tak memberiku ruang untuk menutup mata semenitpun.

Udara pagi yang bebas polusi itu menghanyutkanku dalam tidur ayam. Sebuah bentuk tidur yang masih membuatku mendengar suara-suara bising klakson mobil dan motor sekitarku. Aku tak peduli. Pak sopir juga terlihat tak memperhatikanku. Kalaupun diberi kesempatan oleh Tuhan untuk sekedar melirikku pun aku tak peduli. Palingan dia hanya menggerutu dalam hati. "Aduh, neng gelis, kok tidur?, Bisa-bisa saya kehilangan rejeki kalau penumpang pertamaku TIDUR." Gubrakkkk...!!!. Cuek bebek saja. Sekali lagi aku tak peduli. Lagian, aku juga sendiri di atas mobil. Jadi tak perlu malu karena tak ada yang akhirnya menceritaiku di belakang. Sesekali aku membuka mata memantau keadaan sekitar kalau-kalau rumahku sudah dekat. Tetapi kurasakan mobil berhenti sejenak. Pak sopir ternyata mendapatkan penumpang yang kira-kira berumur 40 tahun. Sudah lumayan tua. "Ah, kalau ibu-ibu kayak gini pasti tidak suka gosip, palingan hanya memikirkan nasib hidup karena umurnya yang semakin menjadi-jadi." Pikirku, lalu melanjutkan tidur.

Seperti sebelumnya, aku membuka mata kembali. Terlihat ibu itu mencuri-curi pandang pada diriku yang kelewat mengantuk. Kudapati matanya yang menujuku dalam heran. Mungkin dia berpikir "Nih, orang sudah pagi, masih tidur saja." Ah, apa peduliku. Toh, ibu itu juga tidak tahu alasan kalau sebenarnya kami tidak diberi kesempatan untuk tidur. Bodoh amat, desahku dalam hati lalu melanjutkan tidur ayamku.

Semalam, aku bertindak sebagai salah satu Presidium Sidang saat Rapat Kerja berlangsung. Jadi mau tidak mau rencana untuk sekedar menyempatkan tidur beberapa menit di belakang pun, gagal. Menjadi seorang presidium sidang, adalah kali pertama dalam dunia keorganisasianku. Tetapi, tak apa. Aku banyak belajar dari kegiatan yang hanya berlangsung satu malam ini. Mulai dari memegang rasa taggung jawab hingga pengalaman yang pertama kali kurasakan, yaitu tidak tidur semalaman dan juga tidur di atas angkot.

Aku baru bisa menuliskan cerita ini karena kondisi badan sudah mulai fit, karena sebelumnya setelah tiiba di rumah tadi pagi, aku langsung berangkat lagi mengikuti Pertemuan hasil Munaqasah santri di Mesjid Babul Jannah belakang Pasar Segar Panakukkang untuk memperoleh hasil pengumuman santriku dari TPA Nurul Muslimin yang 2 tahun silam mendapat peringkat TPA terbaik se-Kota Makassar itu. Dan Alhamdulillah, ini adalah jawaban dari kepenatan semalam kalau ke-19 santriku lulus.

Hari ini banyak membungkuskanku kado terindah dari pengalaman-pengalaman yang notabenenya adalah sebuah Predeo dari Tuhan (Allah). Yah, sebuah pengalaman yang layak mendapatkan tempat di blog-ku ini.

---------
Cat: *Predeo: Kehendak dari Tuhan (Allah)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jelita Hikmah Pemilu

Hari ini kita mengambil banyak hikmah. Kita mengambil nomor urut dan tahu di waktu ke berapa nama kita disebut. Pun tahu bekal apa yang t...