Rabu, 17 April 2013

Knowledge is Step by Step

Banyak hikmah yang bisa kita peroleh dari bangku kuliah, dari dosen-dosen yang mempunyai dedikasi tinggi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan akhlak para mahasiswanya, bahkan pada mahasiswa itu sendiri dimana yang didapatkan bukan hanya ilmu tapi pengalaman yang begitu dan begitu berharga. Seperti halnya oleh dosen Etika Profesi Keguruan (ku), sebut saja namanya Pak Rusli Malik. Beliau adalah salah seorang politikus di salah satu partai baru saja dilegalisasi di Indonesia. Umurnya yang sudah kepala 5 tak pantas menjadi gambaran wajah dan pribadnya yang terlihat oleh kasat mata sangat muda seperti masih kepala 3. Beliau seringkali bolak-balik Jakarta-Makassar, katanya sebagai persiapan pencalonannya sebagai anggota DPR-RI.

Materi kuliah yang diberi pada kesempatan itu adalah "Kompetensi yang Harus Dimiliki Dalam Mengajar". Yang pertama beliau menjelaskan tentang Kompetensi Individual. Kompetensi Individual tidak hanya harus dimiliki oleh seorang pendidik, tetapi juga harus dimiliki oleh peserta didik. Akan tetapi seorang pendidik harus memiliki setiap karakter dalam dirinya, bukan berarti berkepribadian ganda, ya, ini dikarenakan agar pendidik mampu memahami setiap karakter yang berbeda-beda dari setiap peserta didik.
Kompetensi ini juga berdasar pada bakat dan minat yang dimiliki oleh peserta didik. Agar mampu dikembangkan dan dilestarikan.

Yang kedua, Kompetensi Paedagogik atau lebih populer dengan Kompetensi Pendidikan. Pada kompetensi ini, beliau membahas tentang "Orang yang ketika kecil rajin, maka besarnya ia akan malas. Sebaliknya, apabila kecilnya malas, maka besarnya ia akan rajin." Sebelumnya kami bertanya-tanya maksud dari kalimat tersebut. Lama kami bingung, beliau lalu menjelaskannya. "Maksudnya begini,, mereka yang ketika kecil rajin belajar, besarnya akan menjadi malas, bukan malas karena apa, tapi hidupnya tak lagi dirundung pilu, hanya bisa ongkang-ongkang kaki di kursi jabatan, mengendarai mobil mewah dan memiliki rumah sendiri. Nah, kalau yang kedua, mereka yang malas ketika kecil maka besarnya ia akan rajin. Maksudnya, rajin mencari pekerjaan ke sana ke mari karena tidak ada yang menerimanya, sehingga jadi tukang becak pun adalah pilihan terakhir." Jelasnya sambil tertawa sedikit. "Oleh karena itu adik-adik (begitu panggilannya pada Mahasiswa) sedari kecil dan sekarang kalian harus giat belajar. Karena rajin pangkal pandai." Begitu lanjutnya. Kembali lagi kami teringat memori pada puluhan tahun silam saat masih terbungkus baju seragam merah putih. Peribahasa yang menjadi sarapan tiap hari di koridor sekolah.

Ketiga adalah Kompetensi Sosial, seorang pendidik dan peserta didik selain harus memiliki kompetensi individu, juga harus memiliki kompetensi sosial. Dimana melalui kompetensi ini mampu terjalin komunikasi yang baik antar satu orang dengan yang lainnya. Lalu yang dibutuhkan dalam kompetensi ini adalah kemampuan mengendalikan Emosional Question (EQ) karena jika yang ada hanya Intelektual yang bermain, maka sangat sulit menjalin komunikasi yang baik sehingga akan menghambat Kompetensi Sosial yang sebenarnya sangat perlu ditanamkan. Dibawa seru saja, kami terhanyut pada wibawa beliau yang santun dan tenang dalam bertutur. Sesosok pendidik yang membuat tenang jiwa para peserta didiknya.

Nah, yang terakhir adalah Kompetensi Kepribadian. Masih segar dipikiranku, kurang lebih mengenai kompetensi ini, beliau bertutur bahwa Din Syamsuddin dalam Milad Enrekang beberapa bulan lalu  berkata bahwa anak-anak usia sekolah di Jepang telah dididik dalam bersosialisasi dan mampu mandiri sejak kecil. Sebagai contoh, saat SD mereka dibiasakan membawa 2 gelas kosong ke Sekolah. Ketika mereka bertanya untuk apa?, jawabannya singkat, gelas pertama untuk mencari air minum yang memang sudah tersedia di lingkungan sekolah. Gelas kedua untuk mencari air dengan usaha sendiri. Jadi intinya mereka telah didik untuk mandiri sejak kecil. Maka lihatlah sekarang Jepang bagaimana, tak perlu ku jelaskan, kalian sudah tahu.

Sebuah kompetensi adalah hal yang menjadi dasar bagaimana manusia terdidik sebagaimana mestinya, sebenarnya, dan seharusnya. Karena tujuan dari pendidikan itu sendiri adalah Memanusiakan Manusia sesuai dengan pemikiran para pakar Psikologi. Tetapi dalam hal ini tergantung bagaimana seorang individu itu mampu memanfaatkan setiap kompetensi lahiriah maupun kompetensi kebiasaan yang ada pada dirinya

Inilah cerita singkat yang mungkin bermanfaat dari bangku kuliah yang menampungkan ilmunya kepada saya, kepada kamu, dia, kalian, dan mereka.

Salam Senyum :) :) :) :)

Senin, 15 April 2013

Jam dan Tuhan?

Ada hal lucu tadi siang, oleh Dosen Aqidah Akhlak yang menjelaskan mengenai materi kuliah "Akhlak terhadap Allah". Sebenarnya sih tidak terlalu lucu atau lucu-lucu amat. Atau mungkin bisa dibilang tidak lucu sama sekali. Ini mengenai pemikiran Jabariah, seorang filsuf  yang mengadakan penyamaan pengawasan Tuhan dengan Jam. Iya, jam. Katanya, jam adalah buatan manusia, memang. Tetapi ketika jam itu telah jadi, maka jam itu akan dibiarkan jalan sendiri, si pembuat tidak lagi peduli. Artinya, jarum jamnya bebas berputar ke arah jam mana saja. Jabariah mengumpamakan hal itu dengan pengawasan Tuhan yang katanya seperti itu juga. Jika telah menciptakan manusia di bumi, maka Tuhan lepas tangan. Jalan dan hidupahlah manusia sesuai dengan kehendak manusia itu masing-masing.

Sebuah pemikiran yang sebenarnya logis, tetapi tak patut untuk di konsumsi. Logisnya, jam memang tak perlu lagi butuh si empunya tangan yang membuatnya, karena ada mesin yag menggerakkannya. Nah, yang tidak patut untuk dikonsumsi, adalah menyamakan si pembuat jam denga Tuhan. Bisa tidak?. Tentu tidak.

Terkadang setiap hal yang kita pikirkan adalah hal yang sebenarnya masuk akan tetapi tidak semua hal bisa dilogikakan. Begitupun dengan Tuhan. Aku pernah ditanyai oleh seorang teman. Beberapa minggu lalu tepatnya. Menurutku ini aneh kedengarannya. Tepatnya pernyataannya yang membuat saya sedikit bingung dan hanya bisa tersenyum mendengarnya. Katanya begini: "Saya mau bertanya. Siapa yang menciptakan batu?". Tuhan, jawabku. Lalu ia kembali bertanya, "Kalau tuhan yang menciptakan batu. Sekarang Tuhan di mana? Kenapa dia tidak bisa mengangkat batu? Tampaknya pun tidak ada." Katanya dalam yakin sambil terus menatapku.
 

Aku hanya bisa tersenyum dan terus berpikir kenapa bisa-bisanya dia berkata seperti itu. Aku hanya berlalu, bukan karena aku tak peduli pada pendapatnya, apalagi jika ingin berpikir bahwa pendapatnya sama sekali tak kuhargai. Tetapi aku hanya malas berdebat dengan hal yang semestinya tak kesemua hal bisa diartikan dalam logis. Manusia memang diberi bekal akal tak ayalnya hewan. Tetapi, bukankah semua hal itu tak bisa dilogikakan?. Bukankah semua hal itu tak nyata?. Ada kalanya sesuatu itu bisa dirasakan melalui hati. Bukan mata melalui pikiran yang sebenarnya hanya diberi oleh Tuhan. Maka, Bersyukurlah.

Tentu kita tahu, bahwa yang menciptakan dunia dengan nikmat yang tiada banding adalah Allah SWT semata. Tak ada yang mampu menyamainya. Bahkan untuk mereka yang sombong, bangga karena memiliki ideologi yang tinggi sekalipun. Jika ditanya kenapa, ya karena yang menciptakan manusia adalah Allah. Mungkinkah sifat dan wujud Tuhan (Allah) bisa disamakan dengan manusia?. Yang seenak jagung mengangkat batu yang bertebaran di dunia, seenak jigong menyombongkan diri di pijakan bumi?. Tidak, tentu tidak. Tidak ada yang menyamainya. Apalagi manusia yang hanya ciptaannya.
Ingat... "Allah Maha Esa."

"Maka nikmat TuhanmMu yang manakah yang engkau dustakan?" (Q.S Ar-Rahman (55) :13)



Kamis, 11 April 2013

Teguran di Setiap Detik

Begitu banyak nikmat Allah yang begitu mahalnya jika dihargakan dengan uang. Udara untuk bernafas, makanan yang adanya dimana-mana, air yang melimpah ruah, rumah untuk berteduh, dan masih banyak lagi nikmat-nikmat lainnya yang tak dapat dibayarkan dengan rupiah bahkan untuk ukuran dollar sekalipun yang nilai indeksnya terus menjauh dari nilai rupiah. Sungguh sebuah berkah yang tiada batas untuk kita syukuri.

Seperti tadi siang, Kota Makassar yang mataharinya begitu terik hingga terasa masuk sampai ke ubun-ubun, menyambut kami sesaat setelah jam kuliah selesai. BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) belakangan ini menyatakan bahwa tingkat derajat suhu panas di kota Makassar mencapai 35 derajat. Tepat di Jl. AP Pettarani, aku menaiki angkot (Pete-pete; red) bersama seorang teman, sebut saja namanya Kiki. Aku terkadang menertawai diri sendiri karena inilah resiko karena tidak bisa mengendarai motor. Memang sudah beberapa kali kumencoba untuk belajar, tetapi gagal. Badanku pegal-pegal dibuatnya. Sama halnya dengan Kiki, tapi bedanya dia sama sekali tidak pernah belajar, tidak ada yang mengajarinya, katanya.

"Panas sekali, ya." Eluhku sambil melap peluh yang tak segan mengalir di wajah.
"Iya, angkotnya juga lama sekali jalannya." Tambah Kiki mendukung argumenku.

Terlihat sopir angkot sedang mencari-cari penumpang. Hingga membuat angkotnya maju mundur, mundur maju. Sementara penumpang awal hanya kami berdua, terpaksa kami menunggu hingga pak Sopir puas dengan jumlah penumpang yang memang diinginkannya untuk sekedar memenuhi kebutuhan pokok untuk istri dan anak-anaknya di rumah.

Satu dua penumpang mulai menampakkan diri, semakin menambah rasa ketidaksabaran untuk angkot segera melaju meninggalkan sedikit rasa panas yang tak lagi hanya di ubun-ubun tetapi sudah menjalar hingga ke pembuluh darah di otak. "Ya Allah, panas sekali." Eluhku lagi. Kiki hanya tertawa lirih.

Pak sopir sepertinya belum puas dengan penumpang yang masih bisa dihitung jari, 4 penumpang. Ya, mungkin Pak sopir berpikir kalau itu belum cukup. Sesekali ia menengok kami dibelakang yang haus akan angin untuk sekedar meredam sedikit rasa panas yag membabi buta. Ku lihat ia sama sekali tak peduli. "4 dikali 3000, dapatnya hanya 12.000. Tunggu saja dulu, pasti masih ada penumpang lagi." Mungkin itulah yang ada dibenaknya, pikirku.

"Pak, Allah itu Maha Baik. Kalau bapak jalan, di depan pasti ada penumpang yang menunggu. Rejeki tidak lari ke mana, kok, Pak." Kataku membisik sedikit pada Kiki yang ikut tertawa karena memang aku hanya bercanda tapi sedikit serius.
"Hahaha, iya. Betul." Tambahnya menambah tingkat derajat ketawa kami.

Penumpang lain sepertinya hanya mengeluh pada hati, karena mereka jalan sendiri tanpa ada yang menemani. Kalau ada yag bisa mereka ajak ngobrol mungkin akan lebih heboh dari desah kami. Seorang penumpang lelaki dan seorang ibu-ibu paruh baya ikut merasakan desah eluh kami.

Tiba-tiba...
"Satu dua satu dua satu dua..." Suara yang terdengar seperti mengeram tiba-tiba menghentakkan kami. Kami berbalik, terlihat 2 baris kelompok pemuda tanpa mengenakan baju. Hanya mengenakan celana panjang berwarna hijau sambil berlari, berbaris mengikuti irama satu dua yang mereka teriakkan. Tampaknya mereka adalah calon tentara.

"Lebih panas mana, kita atau mereka?" Tanya Kiki memecah pandanganku. Lalu berbalik menatapnya.
"Iya. Lebih panas mereka. Alhamdulillah kita hanya merasakan rasa panas dengan perantaraan angkot ini. Nah, mereka langsung sinar matahari itu yang menggerogoti mereka. Mereka terlihat tak peduli sama sekali." Kataku membalas pertanyaan Kiki. "Kita jangan memandang yang di atas, cobalah menengok ke bawah, masih banyak yang lebih tidak beruntung dari kita." Tambahku mengajari diri.
"Iya, itu benar." Tungkasnya lalu tersenyum.

Pasukan tentara yang sepertinya masih dalam rangka penerimaan anggota baru itu, kini berada disamping angkot yang sedang kami tumpangi. Kami tersenyum bangga pada mereka. Calon-calon abdi negara yang akan mengharumkan dan menjaga kesatuan NKRI, pikirku. Beberapa dari mereka terlihat berbalik tanpa senyum berarti, mungkin lelah tapi mungkin juga karena terlalu fokus pada tugas yang sedang mereka emban.

Penumpang satu persatu naik hingga kami berjumlah 6. Sepertinya pak sopir sedikit puas, karena ia langsung melajukan angkotnya yang mungkin juga telah mengeluh dengan terik yang tak ada ampun itu. Angin sepoi-sepoi sepanjang jalan AP. Pettarani menyambut kami layaknya raja dan ratu saat menapaki kaki di red carpet istana, Semilir angin kini tak segan menghadirkan diri tanpa banyak pikir. Ranting-ranting pohong bergerak menyapa kami diikuti suara-suara klakson mobil dan motor yang membisingkan telinga. Tetapi syukurku tak goyah. Ku lihat di ujung jalan ada seorang bapak-bapak yang tidur di pinggir jalan, yang semakin menambah tingkah kesyukuranku hingga naik ke medium 4. Kalimat Alhamdulillah tak henti kulantunkan, betapa banyak hal yang aku  dan orang lain belum syukuri pada nikmat yang sebenarnya sangat besar ini. Masih diberi kecukupan dari kebanyakan orang, masih diberi kesempatan untuk tetap menghirup udara gratis.

Aku pernah membaca sebuah berita di internet. Mengenai seorang pria yang kini hidupnya bergantung pada sebuah tabung oksigen. Udara yang ia bayar hingga ratusan juta rupiah untuk sekedar tetap bertahan hidup. Sungguh, sebuah hal yang sangat miris. Padahal selama puluhan tahun silam ia hidup menghirup udara yang gratis. Lama kubaca, ia kemudian menyesal atas segala apa yang ia lakukan selama mendapatkan udara tanpa bayaran itu. Katanya ia hanya berfoya-foya, dibudakkan oleh dunia yang memanjakannya. Lantas, sekarang apa?. katanya.

Hidup ini sebenarnya adalah sebuah teguran di setiap detiknya. Teguran untuk tetap mensyukuri atas apa yang telah kita peroleh, hingga kita menganggap hal itu masih sedikit padahal adalah sebuah hal yang sangat besar mudharatnya.

ALHAMDULILLAH, ALHAMDULILLAH, ALHAMDULILLAH.
Terima Kasih Ya Allah. :)

Senin, 08 April 2013

FLP

"Menulis adalah tradisi orang berilmu, tradisi orang hebat." -

Kabar yang kutunggu-tunggu dan sempat membuatku putus asa, akhirnya datang tepat tengah malam jam 12 lewat pada malam minggu kemarin yang semestinya mengistirahatkan pikiran dari aktifitas sedari pagi. Oleh seorang seniorku di kampus, dia memberiku kabar berita yang membuatku seketika itu menerimanya. Langsung saja, yaitu menjadi salah seorang anggota FLP (Forum Lingkar Pena) di Kampusku, UIN Alauddin Makassar. Kegiatan ini sekaligus merekrut anggota baru sekaligus sebagai pengurus FLP Ranting UIN Alauddin periode petama. karena katanya, FLP UIN sempat vacum selama 5 tahun terakhir. Entah kesibukan dari pengurus-pengurusnya ataupun karena niat mereka memag tidak ada untuk FLP ini.

Sebenarnya, FLP telah lama menjadi incaranku untuk meningkatkan kemampuan menulis sastra, kalau bisa mencapai level medium saja dululah. Baru setelah itu ke medium andal. Amin.

Menurut pengamatanku dari berbagai sumber, baik itu di buku ataupu di Internet, FLP telah banyak melahirkan penulis-penulis andal dari berbagai penjuru Indonesia. Sebut saja, Kak Adi Wijaya, yang merupakan FLP Unhas dan sekarang telah melahirkan 3 buku yang berkaitan dengan sejarah Islam. Salah satunya adalah Sejarah Perang Uhud. "Seorang penulis itu adalah yang menulis dengan ideologis, bukan semata-mata karena uang (royalti) apalagi hanya ingin menjadi tenar. Tetapi, ketika kita menulis dengan ideologis, semata-mata untuk mengharap ridho Allah, maka semuanya akan kita peroleh baik itu royalti ataupun ketenaran, dan pastinya ridho dari Allah." Begitulah katanya saat membawakan materi "Motivasi Menulis" dalam kegiatan perekrutan anggota baru FLP UIN Alauddin, 07 April lalu.

Lain halnya dengan seorang cerpenis yang sejak 2004 menjejakkan kaki di FLP Unhas, sebut saja namanya Hamran Sopu. Beliau juga adalah salah seorang pemateri yang giat dalam menulis fiksi. Bahkan menggarap novel sedang ia lakukan. "Novel saya sudah ditolak berkali-kali oleh penerbit, katanya terlalu tebal, hingga mencapai 500 halaman". Katanya dalam menyampaikan materi mengenai "Belajar Menulis Fiksi (Cerpen)". Akupun tersontak heram plus kagum. "Waw, hebat. Hampir menyaingi novel J.K Rowling yang tebalnya bejibun gunung. Novel pada umumnya hanya berkisar paling minimal 200 lembar. Atau bisa juga dibawahnya.

Pemateri pada pagi itu ada 3 orang,  satu lagi membawaka materi tentang cara membuat puisi. Aku paling senang dalam hal ini, tentu bagi teman-teman yang lainya juga. mereka sangat antuasias saat diberikan bekal menulis puisi yang baik. Apalagi saat kami ditantang untuk membuat beberapa puisi dari beberapa tema yang diangkat. "Wow, Expecta!!!"

Setelah kegiatan perekrutan itu, kami kemudian dikukuhkan dan dinyatakan sebagai anggota FLP bawahan FLP Sulawesi Selatan, oleh Kak Hamran Sunu.

Kami akan memulai minggu depan lagi. Memulia sekolah menulis dari FLP Ranting UIN Alauddin agar mampu bersaing dengan FLP Ranting lain untuk menjayakan FLP melalui dakwah Islam dan tentunya untuk UIN Alauddi sendiri tempat kami memijakkan kaki kesusuksesan Akademik.

Disinilah sekolah menulis yaang akan menjadi pengalaman baruku dalam dunia kepenulisan setelah sebelumnya dan sampai sekarang masih aktif dalam sebuah komunitas menulis di Facebook.

"Menulis itu bekerja untuk keabadian..." - 

FLP...
Terima Kasih.

Rabu, 03 April 2013

Ayah

Malam ini kudengar begitu dalam nafas sesak Ayah yang membuatku tersayat sakit
Baru kali ini kesempatan itu menghampiriku ketika aku sibuk dengan urusan dunia yang akan memberiku jalan ke arhirat kelak
Sungguh, Ayah. Aku hanya bisa terdiam menatapmu kosong dengan rasa kasih sayang ini.
Aku tidak bisa tersenyum membentuk kubangan indah yang selalu kau inginkan untuk terlukis di hidup kami, putra-putri yang telah engkau didik dalam kehangatan yang bertumpuk-tumpuk.

Pengabulan Allah

Kita tidak pernah tahu, bisik hati mana yang akan Allah kabulkan. Kita tidak pernah tahu doa dari siapa yang akan Allah indahkan. Dan kit...