Senin, 08 April 2013

FLP

"Menulis adalah tradisi orang berilmu, tradisi orang hebat." -

Kabar yang kutunggu-tunggu dan sempat membuatku putus asa, akhirnya datang tepat tengah malam jam 12 lewat pada malam minggu kemarin yang semestinya mengistirahatkan pikiran dari aktifitas sedari pagi. Oleh seorang seniorku di kampus, dia memberiku kabar berita yang membuatku seketika itu menerimanya. Langsung saja, yaitu menjadi salah seorang anggota FLP (Forum Lingkar Pena) di Kampusku, UIN Alauddin Makassar. Kegiatan ini sekaligus merekrut anggota baru sekaligus sebagai pengurus FLP Ranting UIN Alauddin periode petama. karena katanya, FLP UIN sempat vacum selama 5 tahun terakhir. Entah kesibukan dari pengurus-pengurusnya ataupun karena niat mereka memag tidak ada untuk FLP ini.

Sebenarnya, FLP telah lama menjadi incaranku untuk meningkatkan kemampuan menulis sastra, kalau bisa mencapai level medium saja dululah. Baru setelah itu ke medium andal. Amin.

Menurut pengamatanku dari berbagai sumber, baik itu di buku ataupu di Internet, FLP telah banyak melahirkan penulis-penulis andal dari berbagai penjuru Indonesia. Sebut saja, Kak Adi Wijaya, yang merupakan FLP Unhas dan sekarang telah melahirkan 3 buku yang berkaitan dengan sejarah Islam. Salah satunya adalah Sejarah Perang Uhud. "Seorang penulis itu adalah yang menulis dengan ideologis, bukan semata-mata karena uang (royalti) apalagi hanya ingin menjadi tenar. Tetapi, ketika kita menulis dengan ideologis, semata-mata untuk mengharap ridho Allah, maka semuanya akan kita peroleh baik itu royalti ataupun ketenaran, dan pastinya ridho dari Allah." Begitulah katanya saat membawakan materi "Motivasi Menulis" dalam kegiatan perekrutan anggota baru FLP UIN Alauddin, 07 April lalu.

Lain halnya dengan seorang cerpenis yang sejak 2004 menjejakkan kaki di FLP Unhas, sebut saja namanya Hamran Sopu. Beliau juga adalah salah seorang pemateri yang giat dalam menulis fiksi. Bahkan menggarap novel sedang ia lakukan. "Novel saya sudah ditolak berkali-kali oleh penerbit, katanya terlalu tebal, hingga mencapai 500 halaman". Katanya dalam menyampaikan materi mengenai "Belajar Menulis Fiksi (Cerpen)". Akupun tersontak heram plus kagum. "Waw, hebat. Hampir menyaingi novel J.K Rowling yang tebalnya bejibun gunung. Novel pada umumnya hanya berkisar paling minimal 200 lembar. Atau bisa juga dibawahnya.

Pemateri pada pagi itu ada 3 orang,  satu lagi membawaka materi tentang cara membuat puisi. Aku paling senang dalam hal ini, tentu bagi teman-teman yang lainya juga. mereka sangat antuasias saat diberikan bekal menulis puisi yang baik. Apalagi saat kami ditantang untuk membuat beberapa puisi dari beberapa tema yang diangkat. "Wow, Expecta!!!"

Setelah kegiatan perekrutan itu, kami kemudian dikukuhkan dan dinyatakan sebagai anggota FLP bawahan FLP Sulawesi Selatan, oleh Kak Hamran Sunu.

Kami akan memulai minggu depan lagi. Memulia sekolah menulis dari FLP Ranting UIN Alauddin agar mampu bersaing dengan FLP Ranting lain untuk menjayakan FLP melalui dakwah Islam dan tentunya untuk UIN Alauddi sendiri tempat kami memijakkan kaki kesusuksesan Akademik.

Disinilah sekolah menulis yaang akan menjadi pengalaman baruku dalam dunia kepenulisan setelah sebelumnya dan sampai sekarang masih aktif dalam sebuah komunitas menulis di Facebook.

"Menulis itu bekerja untuk keabadian..." - 

FLP...
Terima Kasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengabulan Allah

Kita tidak pernah tahu, bisik hati mana yang akan Allah kabulkan. Kita tidak pernah tahu doa dari siapa yang akan Allah indahkan. Dan kit...