Senin, 15 April 2013

Jam dan Tuhan?

Ada hal lucu tadi siang, oleh Dosen Aqidah Akhlak yang menjelaskan mengenai materi kuliah "Akhlak terhadap Allah". Sebenarnya sih tidak terlalu lucu atau lucu-lucu amat. Atau mungkin bisa dibilang tidak lucu sama sekali. Ini mengenai pemikiran Jabariah, seorang filsuf  yang mengadakan penyamaan pengawasan Tuhan dengan Jam. Iya, jam. Katanya, jam adalah buatan manusia, memang. Tetapi ketika jam itu telah jadi, maka jam itu akan dibiarkan jalan sendiri, si pembuat tidak lagi peduli. Artinya, jarum jamnya bebas berputar ke arah jam mana saja. Jabariah mengumpamakan hal itu dengan pengawasan Tuhan yang katanya seperti itu juga. Jika telah menciptakan manusia di bumi, maka Tuhan lepas tangan. Jalan dan hidupahlah manusia sesuai dengan kehendak manusia itu masing-masing.

Sebuah pemikiran yang sebenarnya logis, tetapi tak patut untuk di konsumsi. Logisnya, jam memang tak perlu lagi butuh si empunya tangan yang membuatnya, karena ada mesin yag menggerakkannya. Nah, yang tidak patut untuk dikonsumsi, adalah menyamakan si pembuat jam denga Tuhan. Bisa tidak?. Tentu tidak.

Terkadang setiap hal yang kita pikirkan adalah hal yang sebenarnya masuk akan tetapi tidak semua hal bisa dilogikakan. Begitupun dengan Tuhan. Aku pernah ditanyai oleh seorang teman. Beberapa minggu lalu tepatnya. Menurutku ini aneh kedengarannya. Tepatnya pernyataannya yang membuat saya sedikit bingung dan hanya bisa tersenyum mendengarnya. Katanya begini: "Saya mau bertanya. Siapa yang menciptakan batu?". Tuhan, jawabku. Lalu ia kembali bertanya, "Kalau tuhan yang menciptakan batu. Sekarang Tuhan di mana? Kenapa dia tidak bisa mengangkat batu? Tampaknya pun tidak ada." Katanya dalam yakin sambil terus menatapku.
 

Aku hanya bisa tersenyum dan terus berpikir kenapa bisa-bisanya dia berkata seperti itu. Aku hanya berlalu, bukan karena aku tak peduli pada pendapatnya, apalagi jika ingin berpikir bahwa pendapatnya sama sekali tak kuhargai. Tetapi aku hanya malas berdebat dengan hal yang semestinya tak kesemua hal bisa diartikan dalam logis. Manusia memang diberi bekal akal tak ayalnya hewan. Tetapi, bukankah semua hal itu tak bisa dilogikakan?. Bukankah semua hal itu tak nyata?. Ada kalanya sesuatu itu bisa dirasakan melalui hati. Bukan mata melalui pikiran yang sebenarnya hanya diberi oleh Tuhan. Maka, Bersyukurlah.

Tentu kita tahu, bahwa yang menciptakan dunia dengan nikmat yang tiada banding adalah Allah SWT semata. Tak ada yang mampu menyamainya. Bahkan untuk mereka yang sombong, bangga karena memiliki ideologi yang tinggi sekalipun. Jika ditanya kenapa, ya karena yang menciptakan manusia adalah Allah. Mungkinkah sifat dan wujud Tuhan (Allah) bisa disamakan dengan manusia?. Yang seenak jagung mengangkat batu yang bertebaran di dunia, seenak jigong menyombongkan diri di pijakan bumi?. Tidak, tentu tidak. Tidak ada yang menyamainya. Apalagi manusia yang hanya ciptaannya.
Ingat... "Allah Maha Esa."

"Maka nikmat TuhanmMu yang manakah yang engkau dustakan?" (Q.S Ar-Rahman (55) :13)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jelita Hikmah Pemilu

Hari ini kita mengambil banyak hikmah. Kita mengambil nomor urut dan tahu di waktu ke berapa nama kita disebut. Pun tahu bekal apa yang t...