Kamis, 11 April 2013

Teguran di Setiap Detik

Begitu banyak nikmat Allah yang begitu mahalnya jika dihargakan dengan uang. Udara untuk bernafas, makanan yang adanya dimana-mana, air yang melimpah ruah, rumah untuk berteduh, dan masih banyak lagi nikmat-nikmat lainnya yang tak dapat dibayarkan dengan rupiah bahkan untuk ukuran dollar sekalipun yang nilai indeksnya terus menjauh dari nilai rupiah. Sungguh sebuah berkah yang tiada batas untuk kita syukuri.

Seperti tadi siang, Kota Makassar yang mataharinya begitu terik hingga terasa masuk sampai ke ubun-ubun, menyambut kami sesaat setelah jam kuliah selesai. BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) belakangan ini menyatakan bahwa tingkat derajat suhu panas di kota Makassar mencapai 35 derajat. Tepat di Jl. AP Pettarani, aku menaiki angkot (Pete-pete; red) bersama seorang teman, sebut saja namanya Kiki. Aku terkadang menertawai diri sendiri karena inilah resiko karena tidak bisa mengendarai motor. Memang sudah beberapa kali kumencoba untuk belajar, tetapi gagal. Badanku pegal-pegal dibuatnya. Sama halnya dengan Kiki, tapi bedanya dia sama sekali tidak pernah belajar, tidak ada yang mengajarinya, katanya.

"Panas sekali, ya." Eluhku sambil melap peluh yang tak segan mengalir di wajah.
"Iya, angkotnya juga lama sekali jalannya." Tambah Kiki mendukung argumenku.

Terlihat sopir angkot sedang mencari-cari penumpang. Hingga membuat angkotnya maju mundur, mundur maju. Sementara penumpang awal hanya kami berdua, terpaksa kami menunggu hingga pak Sopir puas dengan jumlah penumpang yang memang diinginkannya untuk sekedar memenuhi kebutuhan pokok untuk istri dan anak-anaknya di rumah.

Satu dua penumpang mulai menampakkan diri, semakin menambah rasa ketidaksabaran untuk angkot segera melaju meninggalkan sedikit rasa panas yang tak lagi hanya di ubun-ubun tetapi sudah menjalar hingga ke pembuluh darah di otak. "Ya Allah, panas sekali." Eluhku lagi. Kiki hanya tertawa lirih.

Pak sopir sepertinya belum puas dengan penumpang yang masih bisa dihitung jari, 4 penumpang. Ya, mungkin Pak sopir berpikir kalau itu belum cukup. Sesekali ia menengok kami dibelakang yang haus akan angin untuk sekedar meredam sedikit rasa panas yag membabi buta. Ku lihat ia sama sekali tak peduli. "4 dikali 3000, dapatnya hanya 12.000. Tunggu saja dulu, pasti masih ada penumpang lagi." Mungkin itulah yang ada dibenaknya, pikirku.

"Pak, Allah itu Maha Baik. Kalau bapak jalan, di depan pasti ada penumpang yang menunggu. Rejeki tidak lari ke mana, kok, Pak." Kataku membisik sedikit pada Kiki yang ikut tertawa karena memang aku hanya bercanda tapi sedikit serius.
"Hahaha, iya. Betul." Tambahnya menambah tingkat derajat ketawa kami.

Penumpang lain sepertinya hanya mengeluh pada hati, karena mereka jalan sendiri tanpa ada yang menemani. Kalau ada yag bisa mereka ajak ngobrol mungkin akan lebih heboh dari desah kami. Seorang penumpang lelaki dan seorang ibu-ibu paruh baya ikut merasakan desah eluh kami.

Tiba-tiba...
"Satu dua satu dua satu dua..." Suara yang terdengar seperti mengeram tiba-tiba menghentakkan kami. Kami berbalik, terlihat 2 baris kelompok pemuda tanpa mengenakan baju. Hanya mengenakan celana panjang berwarna hijau sambil berlari, berbaris mengikuti irama satu dua yang mereka teriakkan. Tampaknya mereka adalah calon tentara.

"Lebih panas mana, kita atau mereka?" Tanya Kiki memecah pandanganku. Lalu berbalik menatapnya.
"Iya. Lebih panas mereka. Alhamdulillah kita hanya merasakan rasa panas dengan perantaraan angkot ini. Nah, mereka langsung sinar matahari itu yang menggerogoti mereka. Mereka terlihat tak peduli sama sekali." Kataku membalas pertanyaan Kiki. "Kita jangan memandang yang di atas, cobalah menengok ke bawah, masih banyak yang lebih tidak beruntung dari kita." Tambahku mengajari diri.
"Iya, itu benar." Tungkasnya lalu tersenyum.

Pasukan tentara yang sepertinya masih dalam rangka penerimaan anggota baru itu, kini berada disamping angkot yang sedang kami tumpangi. Kami tersenyum bangga pada mereka. Calon-calon abdi negara yang akan mengharumkan dan menjaga kesatuan NKRI, pikirku. Beberapa dari mereka terlihat berbalik tanpa senyum berarti, mungkin lelah tapi mungkin juga karena terlalu fokus pada tugas yang sedang mereka emban.

Penumpang satu persatu naik hingga kami berjumlah 6. Sepertinya pak sopir sedikit puas, karena ia langsung melajukan angkotnya yang mungkin juga telah mengeluh dengan terik yang tak ada ampun itu. Angin sepoi-sepoi sepanjang jalan AP. Pettarani menyambut kami layaknya raja dan ratu saat menapaki kaki di red carpet istana, Semilir angin kini tak segan menghadirkan diri tanpa banyak pikir. Ranting-ranting pohong bergerak menyapa kami diikuti suara-suara klakson mobil dan motor yang membisingkan telinga. Tetapi syukurku tak goyah. Ku lihat di ujung jalan ada seorang bapak-bapak yang tidur di pinggir jalan, yang semakin menambah tingkah kesyukuranku hingga naik ke medium 4. Kalimat Alhamdulillah tak henti kulantunkan, betapa banyak hal yang aku  dan orang lain belum syukuri pada nikmat yang sebenarnya sangat besar ini. Masih diberi kecukupan dari kebanyakan orang, masih diberi kesempatan untuk tetap menghirup udara gratis.

Aku pernah membaca sebuah berita di internet. Mengenai seorang pria yang kini hidupnya bergantung pada sebuah tabung oksigen. Udara yang ia bayar hingga ratusan juta rupiah untuk sekedar tetap bertahan hidup. Sungguh, sebuah hal yang sangat miris. Padahal selama puluhan tahun silam ia hidup menghirup udara yang gratis. Lama kubaca, ia kemudian menyesal atas segala apa yang ia lakukan selama mendapatkan udara tanpa bayaran itu. Katanya ia hanya berfoya-foya, dibudakkan oleh dunia yang memanjakannya. Lantas, sekarang apa?. katanya.

Hidup ini sebenarnya adalah sebuah teguran di setiap detiknya. Teguran untuk tetap mensyukuri atas apa yang telah kita peroleh, hingga kita menganggap hal itu masih sedikit padahal adalah sebuah hal yang sangat besar mudharatnya.

ALHAMDULILLAH, ALHAMDULILLAH, ALHAMDULILLAH.
Terima Kasih Ya Allah. :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jelita Hikmah Pemilu

Hari ini kita mengambil banyak hikmah. Kita mengambil nomor urut dan tahu di waktu ke berapa nama kita disebut. Pun tahu bekal apa yang t...