Sabtu, 12 Oktober 2019

Pengabulan Allah


Kita tidak pernah tahu, bisik hati mana yang akan Allah kabulkan. Kita tidak pernah tahu doa dari siapa yang akan Allah indahkan. Dan kita tidak pernah tahu kata-kata yang mana yang akan berubah menjadi pengabulan.

Selasa, 08 Oktober 2019

Menjadi Pemimpin yang Bukan Sekadar "Hanya Soal Waktu" (1)


Apa kabar kepemimpinan kita hari in?
Apa kabar shalat kita?
Apa kabar luka-luka batin kita?

"Enam bulan yang lalu, saya pamit ke Amerika. Tiga tahun akan di sana. Rupanya, Allah punya rencana lain. Allah mempertemukan kita kembali."

Betapa. Adalah kabar yang baik Coach Gunawan kembali ke Indonesia selama tiga bulan. Saya lupa untuk urusan apa. Yang jelas, menurut pengakuan beliau, rekan-rekan guru di SIT Nurul Fikri Makassar seperti memanggil hatinya untuk datang kembali bertamu, bertemu, dan berbagi ilmu. "Ana Uhibbukum Fillah." Itu kalimat terakhir beliau sebelum benar-benar meninggalkan tempat pelatihan dan kemudian menuju ke bandara.

"Saya bertanya kabar kepemimpinan antum. Itu berkaitan dengan raga. Saya bertanya tentang shalat antum. Itu berarti berkaitan dengan ketenangan kita. Terakhir, saya bertanya apa?" Coach Gunawan mengangkat telunjuknya ke atas. Pelan-pelan terdengar ada yang menjawab pertanyaannya. "Betul. Apa kabar luka-kuka batin kita?" Beliau diam beberapa detik. "Luka batin itu tidak ada. Yang seharusnya ada adalah perasaan kita baik-baik saja. Nyaman dan merasa aman saat berada di dekat orang."

Kami mendengar dengan penuh perhatian.

Pekan ini, saya membaca sebuah buku yang ditulis oleh Ustadz Salim A.Fillah, "Sunnah Sedirham Surga". Saya menemukan banyak sekali hal baik menyoal bagaimana sebaiknya sikap kita terhadap ilmu. Adab kita, rupa niat kita, perlakuan kita, hingga apakah benar ilmu itu akan berdiam pada laku kita. Salah satunya adalah kalimat Imam Syafi'i yang menyadarkan saya betapa menuntut ilmu itu sangat penting sekali.

"Aku terhadap ilmu seperti seorang Ibu yang mencari anak semata wayangnya. Ketika mendengar ilmu, maka aku berharap bahwa seluruh tubuhku adalah telinga." Ya, kalimat Imam Syafi'i itu indah sekali. Masuk ke dalam isi kepala saya. Maka, pada momen baik ini, pada perjumpaan dengan orang-orang hebat di Sekolah yang menghadirkan kembali Coach Gunawan, saya merasa butuh untuk bukan saja memasang badan dan telinga. Tetapi juga meibatkan tangan untuk mengingat ilmu yang keluar dari lisan beliau.

Coach Gunawan adalah seorang International NFNLP Trainer. Juga bagian dari John Maxwell Team. Beliau belajar langsung ke John C. Maxwell beserta para pemimpin perusahaan besar dunia. Barakallahu fiikk.

"Sediakan selembar kertas dan tuliskan dua masalah yang mengganggu pikiran antum dan belum terselesaikan hingga saat ini." Beliau mengarahkan kami. "Tulis dua masalah kalian dan kualitas leadership kalian akan terlihat dari apa yang dituliskan."

Deg! Ada apa ini? Baru beberapa menit bertemu yang diminta oleh beliau, kok, ya masalah-masalah?

Di waktu sepuluh menit kami mencoba menggali informasi di kelapa tentang masalah yang ada pada diri kami dalam hal memimpin tim kerja di sekolah. Selesai. Kami lalu diberi kesempatan untuk membacanya satu persatu.

Banyak hal yang mengejutkan, tentu.

Adalah hal yang manusiawi jika setiap kita memiliki masalah dalam hidup. Baik masalah dalam diri sendiri maupun dalam lingkungan kerja. "Itulah yang kita sebut sebagai masalah. Kepikiran, mengganjal, dan belum ada solusinya." Ujar Coach sesaat setelah kami menghabiskan giliran menyampaikan masalah masing-masing.

Level masalah yang paling banyak rupanya ada pada level personal. Dari sekitar empat puluh lebih orang, sebanyak 1tujuh belas orang yang bermasalah pada level tersebut. Selebihnya pada level operasional, managerial, hingga strategi. "Mari kita dudukkan masalah dan keluar dari masalah." Ajaknya dengan penuh keyakinan.

"Kapasitas kepemimpinan kita menentukan kesuksesan kita di dunia dan akhirat. Itu kalimat Maxwell. Hanya saja kita menambahkan kata "akhirat". Sebab memang itulah puncak dari tujuan kita sebenarnya."

"Tapi.. Suka tidak suka. Senang atau tidak senang. Bagi seorang pemimpin, level personal seharusnya sudah selesai!" Dengan nada sedikit keras, wajah Coach terlihat datar. Lalu dengan sesegera mungkin, beliau mengembangkan senyum. Bola matanya nyaris tidak terlihat.

Salah seorang rekan kerja yang baru bergabung terlihat sedikit kaget. Tetapi, seorang teman dengan cepat menjelaskan kalau karakter beliau memang seperti itu.

"Sangat manusiawi. Sangat manusiawi. Tapi, seorang pemimpin bukan manusia biasa. Karena dunia ini maju karena apa? Karena pemimpin!" Ujarnya sedikit gebu. "Permasalahan menjadi pemimpin memang berat. Tidak ada yang salah dengan masalah personal. Tapi kalau tidak bisa menyelesaikan masalah personal, bagaimana caranya seorang pemimpin menyelesaikan masalah timnya?"  Pertanyaan yang menghentak. Andai kata bisa bersembunyi, saya mungkin akan melakukannya. Sebab salah satu dari tujuh belas orang itu adalah diri saya sendiri.

"Hanya ada dua pilihan. Resign atau berubah. Pilih mana?" Beliau bertanya dengan menatap kami satu persatu yang diam seribu bahasa. "Pilih mana?!" Pertanyaan itu diulang dengan intonasi yang cukup keras.

"Berubah." Secara bersamaan kami menyebutnya  pelan-pelan. Ada juga yang cukup lantang memperdengarkan suaranya.

Berubah. Adalah sebuah kata yang sangat mudah disebut namun penerapan prosesnya butuh juang yang panjang dan serius. Serius yang dimaksud oleh John. C Maxwell adalah jika mengeluarkan keringat, materi, dan juga waktu.

"Tadi, juga banyak yang bermasalah dengan waktu." Beliau kembali berbicara. "Don't manage you time. Kita sama sekali tidak bisa mengatur waktu karena waktu tidak bisa diatur."

"Tahu Oxymoron?" Beliau mengangat tangan kanannya.

Tidak ada yang tahu. Telinga saya bahkan baru sekali itu saja mendengarnya.

"Oxymoron itu cara menghitung matahari dengan tangan. Bagaimana caranya?" Beliau sedikit mencontohkan. "Tetapi itu sebenarnya tidak realistis." Ah, isi lisan beliau selalu menarik untuk didengar. "Apa maksudnya? Kita kadang yakin pada hal-hal yang justru tidak bisa diyakini."

Demikianlah.

"Atur diri kita. Tidak ada yang gagal, kita yang gagal mengatur waktu kita. Kalau sudah begitu, masalah personal sampai kapanpun tidak pernah ada. Begitu masalah datang, kita langsung bisa mengaturnya untuk segera diselesaikan."

"Ini masalah ummat. Kita mau maju atau tidak?" Pertanyaan itu membuat hati bergetar.

Ummat. Ummat. Ummat.

Jika beliau mulai menyebut satu kata itu, ujung mata saya bisa jadi tiba-tiba basah. Hujan di sana. Betapa, waktu yang kita hibahkan sepanjang hari di sekolah harus memiliki satu tujuan yang puncak. Yaitu Allah. Kita harus menyiapkan banyak hal untuk kebaikan ummat saat ini dan pada waktu yang akan datang. Kita harus menyiapkan anak-anak kita menjadi pemimpin masa depan yang akan membela ummat. Menjadikan diri mereka menaruh akhirat di atas segala-galanya.

"Ada satu persen manusia yang akan menjadi pemimpin. Sementara ada sembilan puluh delapan persen yang bisa dikembangkan menjadi pemimpin. Sisanya yang satu persen adalah mereka yang tidak mau atau tidak bisa menjadi pemimpin." Kali ini beliau menjelaskan dengan wajah yang serius. Sekali.

"Sungguh. Tugas kita tidak ringan. Maka belajar dari Nabi Ibrahim sebagai sebaik-baik suami, sebaik-baik Ayah, yang demi abdinya kepada Allah, beliau meninggalkan Ismail yang saat itu tubuhnya masih merah. Lihatlah, tidak ada waktu yang cukup untuk Ibrahim bertemu Ismail di saat bayi."

Betapa, Nabi Ibrahim, Bapaknya para Nabi adalah teladan yang paling baik bagi seorang Ayah, bagi seorang pemimpin keluarga, bagi seorang pemimpin pada tugas-tugasnya, amanah-amanhnya.

"Jika begitu, Allah lah yang akan menjaga kami."

Ya, Allah lah yang akan menjaga keluarga kita saat kita menjalankan amanahNya dengan baik, penuh kesungguhan, dan serius. Seperti Allah menjaga Ismail dan Hajar. Sebab wala kita kepada Allah harus lebih besar daripada wala kita pada yang lainnya. Sebab atas amanah yang diberikan, kita telah menjadi karyawannya Allah.

Tentu, atas setiap masalah, jika kita menolong agama Allah, maka Allah juga akan menolong kita.

Wallahu 'alam bisshawaf.

Inayah Natsir, Makassar, 26 Juli 2019











Rabu, 17 April 2019

Jelita Hikmah Pemilu


Hari ini kita mengambil banyak hikmah. Kita mengambil nomor urut dan tahu di waktu ke berapa nama kita disebut. Pun tahu bekal apa yang telah kita siapkan. Semisal nama-nama capres dan cawapres yang sudah jauh lama terkantung di ingatan. Atau nama calon anggota legislagif yang telah kita tentukan untuk mendapatan hak suara kita.

Perhatikan. Hari ini kita belajar banyak.

Bahwa sejatinya, kita hanya menunggu giliran. Kapan panggilan Allah akan datang melalui malaikatnya, Israfil. Kita tidak tahu pula ada pada urutan ke berapa. Ia ghaib. Di akhirat kelak, saat penghitungan amal, kita juga tidak memiliki hak untuk bersuara sehurufpun. Kita memiliki pilihan untuk ditempatkan di Surga. Tetapi segalanya berpulang pada Allah, Dialah yang hak menempatkan kita bergantung pada ketakwaan.

Tetapi pula, kita sejatinya memiliki kesempatan yang sama. Kesempatan untuk mempersiapkan diri untuk dipilihkan tempat terbaik di sisiNya. 💕

#JelitaHikmahPemilu #Pemilu2019 #PAS

Sabtu, 06 April 2019

Kaki Kita, Kelak


Kelak, kaki-kaki kita akan bermulut tajam, tak berhati. Ia akan mengungkapkan seluruh perasaan kepada Tuhannya. Ia akan begitu kuat menyampaikan perihal rasa tidak sukanya dijadikan sebagai alat untuk berangkat menuju ke sebuah tempat yang sejatinya tidak pernah ia inginkan. Kelak, kaki-kaki kita, dengan langkah-langkahnya akan bersaksi dan bermulut manis, punya banyak hati. Ia akan mengungkapkan seluruh rasa bahagianya kepada Tuhannya, kepada seluruh yang ada. Ia akan begitu kuat menyampaikan tentang rasa harunya dijadikan sebagai alat untuk datang mengunjungi majelis-majelis surga, mengunjungi tempat-tempat terbaik di seluruh muka bumi, menemui orang-orang baik, orang-orang shalih-shalihah lalu saling berbagi dan bertukar ilmu. Hari ini, kita mendaku sebagai tuannya, mengaku sebagai pemiliknya yang sah. Merasa berhak atas segala langkah kaki, ia akan dibawa kemana, kepada siapa, untuk apa.

Kelak, kaki-kaki kita akan mampu mengungkapkan seluruh apa yang pernah ia pendam dalam-dalam, ia simpan lama-lama. Ia tidak akan merasa takut pada kita sebab ketakutannya hanya pada Tuhannya. Padahal saat itu kita hanya diam, menunduk malu. Padahal mulut kita sedang terkunci kuat-kuat.

Ilmu Sebaiknya Telaga Kautsar

Rugi sekali kita jika ilmu di dalam kepala tidak dijadikan ilmu di dalam tingkah. Betapa amat kasihan bila kita enggan menjadikan ilmu mi menjadi amal. Betapa hina sekali kita bila ilmu yang sedikit lantas yang datang di dada adalah keangkuhan yang banyak. Padahal bahkan, jika sebiji angkuh saja di sana, tak bisa menjadikan kita bisa membersamai Allah kelak di surgaNya. Padahal bahkan, ilmu itu adalah milik Allah dan akan sangat mudah bagiNya untuk menarik kembali titipan mulia itu. Ilmu seharusnya adalah amal, iman, telaga kautsar, dan Firdaus.

Perempuan Penuh Doa; Mamak



Setiap kali mata saya memejam, yang pertama terlintas adalah wajah Mamak dan Bapak. Lengkap dengan raut wajah mereka yang kulit wajahnya sudah terjatuh. Pun rambut kepala dan alisnya, penuh dengan warna putih mengkilat. Mereka tak lagi terlihat seperti usia tiga puluh atau empat puluh tahun.

Mamak adalah kekasih paling setia di dunia. Hatinya, bahkan seluruh bagian tubuhnya ia mampu relakan untuk kami, anak-anaknya. Ketika kudapati ia bekerja demikian giat dan keras, demikian juga kami memahami betapa cintanya tiada henti. Betapa kasih sayangnya luas tak bisa dibendung. Mamak yang tidak pernah membiarkan kami berjuang sendiri-sendiri, doanya selalu ikut bekerja, menemani langkah kaki kami. "Biarpun tidak meminta, doaku selalu mengiringi." Demikian selalu katanya ketika kami memohon doa restu atas langkah kaki. Lantas, setelah doa Mamak bekerja, kami dapat menata langkah-langkah. Allah membuatnya mudah.

Pernah, pada waktu beberapa malam, ketabahan saya hilang. Pergi entah ke mana. Tangan saya terus memegangi perut yang sakit hingga cucur keringat tak mampu lagi menahan dirinya untuk keluar dari pori-pori kulit. Seluruh bagian kepala saya seperti penuh, akan pecah, akan tumpah. Pada beberapa malam itu, ada seseorang yang dengan giat memberikan pemahaman, memberikan banyak perhatian. Seseorang yang sejak masih usia awal mengandungnya, kasih dan sayangnya selalu bertumpuk banyak, berlapis, hingga memberikan banyak kebaikan. Menjadi atap dan rumah yang paling aman dan nyaman untuk menaruh panas air mata. Ketabahannya selalu menguatkan menguat dan menguatkan. Seperti akar yang mengokoh kuat di bawah tanah, lalu menumbuhkan batang, ranting, dedaunan, bunga, hingga buah yang ranum rasa dan wanginya.

Pernah, pada beberapa waktu, saat berjuang pada kehidupan, tekad saya yang pernah kuat entah lenyap ke bagian bumi mana. Semangat saya ciut. Mirip seperti kerupuk yang lama terkena udara, atau seperti kertas tissue yang terendam air. Pada beberapa waktu itu, ada seseorang yang menjadi penguat. Seseorang yang doanya sungguh melangit hingga berkata, “Tenang saja, Nak. Doa kami (juga Bapak) tak pernah lepas sejengkalpun.” Seseorang itu adalah sosok yang menjadi anugerah terindah dalam hidup saya. Seseorang yang dengan kalimatnya yang bijak, mampu memberi rasa sakinah di dalam dada hingga mampu menjadikan hal-hal yang sebelumnya membuat pikiran penuh dengan buruk menjadi baik laiknya ombak yang menelan buih di lautan. Hilang sekejap, seketika.

Saya selalu percaya bahwa Allah adalah sumber seluruh kebaikan itu berasal. Saya senatiasa memercayai, bahwa Allah tidak akan pernah diam dan membiarkan hambaNya hanya duduk diam dan tidak diberikan apa-apa. Saya selalu percaya bahwa doa Mamak tidak pernah lepas dan adalah doa-doa yang tidak ada batas, tidak ada penghalang, tidak bersekat dengan kabulan dari Allah. Doa Mamak adalah perisai, adalah tombak. Hingga kalimat yang pernah saya baca, “Suksesmu saat ini adalah buah yang tidak lepas dari doa-doa Mamakmu” pun saya benarkan adanya.

Isi dari doa-doa Mamak memang jarang bahkan hampir tidak pernah didengar telinga. Isi dari doa-doanya adalah cinta yang disimpan dan diminta untuk dikabulkan oleh Allah. Bahkan semenjak masih rahim, sejak bulan demi bulan usia kandungan, sejak tangisan pertama terdengar, sejak menumbuh, sejak dunia memulai dirinya untuk memenuhi hidup kami. Doa-doa Mamak adalah doa yang penuh dengan harapan kebaikan bagi keluarganya, bagi anak-anaknya. Doa-doa itulah yang mampu menembus langit hingga lapis ke tujuh. Sebab doa-doa itulah yang Allah bisa jadikan sebagai salah satu takdir kebaikan. Sebab, jika ada takdir yang tidak berpihak, maka doa menjadi satu-satunya cara untuk mengubah takdir. "Tidak ada yang dapat menolak takdir terkecuali doa." Demikianlah bunyi hadis yang pernah Rasulallah saw. sampaikan kemudian dicatat oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Pernah,  saya meminta restu dan doa Mamak. Saya lupa pada kejadian yang mana, tetiba saya penasaran setelah doa-doa itu benar terkabul, “Mak, apa doa Mamak untuk saya? Bagaimana isinya?” Maka pertanyaan saya dijawab begini, “Rahasia. Intinya, doa-doa itu penuh dengan kebaikan.”

Demikianlah Mamak saya. Perempuan yang sederhana, yang penuh dengan harapan dan doa terbaik untuk keluarga dan anaknya. Perempuan yang penuh dengan doa-doa di isi hati dan kepalanya. Saya ingin seperti Mamak. Menjadi perempuan yang penuh doa untuk anak, keluarga, dan banyak orang.

Love you, Mamak. Love you so much!

Makassar, 23 Desember 2018

Kita yang Bukan Langit


Kita tidak pernah lebih daripada tanah tetapi berusaha untuk menjadi penghuni langit kelak adalah sebuah hal yang sama-sama akan terus kita juangkan. Kita tidak pernah lebih besar daripada amanah yang Allah embankan kepada Nabiullah Muhammad Shallallahu 'alaihi wassallam. Tetapi menjalankan sunnah serta hukum islam yang beliau jaga dan terap hingga akhir usia adalah juga amanah kita sebab telah mengikrar sumpah dengan syahadat. Kita tidak pernah lebih daripada lalat yang jika terjatuh dalam bejana berisi air, maka sebagian dari sayapnya adalah racun dan sebagian yang lain adalah penawar atau obatnya. Kita, manusia yang penuh buruk juga baik, yang penuh putih juga kadang hitam hatinya. Manusia yang kadang bermanfaat dan kadang memberi luka kepada saudara. Tetapi, Allah yang Maha Baik, telah menjadikan kita fitrah sejak lahir dan selalu memberikan kita petunjuk untuk selalu mengingatNya dengan shalat dan dzikir. Kita harus pandai benar membaca tanda-tandaNya sebagai bukti cinta yang agung dariNya.

Take care, Muslimah!


Take care, berdakwah tidak selalu mulus. Selalu ada orang-orang yang penuh dengki dalam hatinya, lalu mengolok dan mengejek. Take care, berdakwah tidak selalu mengalami penerimaan. Selalu saja ada yang menolak dan berpaling. Take care, tetapi jangan lengah dari rintangan dakwah yang cukup banyak. Take care, we have to be strong! Allah is always with us.


Belajar Banyak Hal dari Film "The Book Thief"


Setelah menonton film "The Book Thief" (2013) yang menggambarkan seorang remaja keturunan Yahudi yang ketagihan membaca dan mencuri buku untuk membacakannya kepada seorang Yahudi yang jatuh sakit dan disembunyikan di bawah tanah rumahnya, di film itu, saya justru lebih tertarik dengan kisah Hitler dan tentara Nazi-nya yang mengecam seluruh Yahudi untuk keluar dari negaranya, Jerman. Saya tetiba penasaran dan bertanya tentang: mengapa Hitler sangat membenci Yahudi? Hal ini pernah saya tanyakan kepada seorang teman dan tidak menemui jawaban.

Rupanya, setelah membaca buku "Armageddon, Peperangan Akhir Zaman" (Gema Insani, 2003), pertanyaan saya terjawab. Bahwa pada 31 Agustus 1949, Ben Gurion yang merupakan pemimpin Zionis Israel, dihadapan delegasi Amerika yang sedang berkunjung ke Israel menyatakan, "Walaupun kami merealisasikam mimpi kami untuk menciptakan sebuah negara Yahudi, kami masih berada dalam tahap permulaan. Sekarang hanya ada 900 ribu orang Yahudi di Israel, sementara itu mayoritas orang Yahudi masih berada di luar negeri. Tugas masa depan kami adalah membawa seluruh orang Yahudi ke Israel."
Nah, untuk merealisasikan kembalinya bangsa Yahudi ke Israel, maka para pemimpin Zionis membuat program pemaksaan agar seluruh Yahudi yang berada di luar Israel segera kembali ke Israel. Di antaranya adalah kerja sama atau kesepakatan rahasia antara Zionis dan Nazi Jerman agar dengan kekejaman tentara Nazi tersebut, maka Yahudi di Jerman segera pergi ke Palestina.

Dalam film "The Book Thief" yang mengklaim sebagai kisah nyata yang terjadi pada Februari 1938, orang-orang Yahudi diusir dari Jerman dimana mereka telah banyak bermukim di sana. Siapa saja yang membela Yahudi, siapa saja yang ketahuan menyembunyikan seorang Yahudi di rumahnya, maka akan dihukum berat bahkan dibunuh. Kekejaman yang dilakukan oleh tentara Nazi untuk menciptakan kondisi tidak nyaman dan orang Yahudi memilih kembali ke negaranya.
Selain di Jerman, juga dilakukan teror untuk mengganggu orang Yahudi di Polandia dan Irak yang disebut sebagai teror Haganah, dikomandani oleh Ben Gurion sendiri yang bertujuan sama yaitu agar orang Yahudi kembali ke Israel.
Hal ini tentu beralasan, mengumpulnya Yahudi di Israel, merupakan janji Allah yang terakhir dan akan memicu mereka berkumpul di Yerussalem sebagai tempat mereka akan diazab dengan azab yang pedih. Mereka yang berasal dari berbagai negara telah menyebabkan berbagai perubahan kultur, bahasa, dll, sehingga keadaan mereka saat dikumpulkan seperti logam yang bercampur baur/berlainan jenis.

"Dan kami berfirman setelah itu kepada bani Israel, 'Berdiamlah kalian di bumi ini dan apabila datang Wa'dul Akhiroh (janji akhir), niscaya kami akan mendatangkan kalian dalam keadaan bercampur baur.'" (Q.S Al-Israa: 104)
.
.
.
.
Makassar, 10 Juni 2016

Yang Tuturnya Selalu Ilmu; Coach Gunawan


"Seni kehidupan adalah melepaskan dan menerima apa yang telah ditetapkan oleh Allah." Kalimat itu diujar oleh Coach Gunawan. Kalimat yang memilki maknanya sendiri. Kalimat yang mengajarkan kita bahwa setiap apa yang ada di dunia ini adalah milik Allah dan akan kembali kepadaNya. Mengajarkan kita bahwa setiap apa yang pernah datang, tidak pernah benar-benar menetap. Mengajarkan kita bahwa setiap apapun hanya singgah, tidak pernah benar-benar tinggal.

Kebaikan akan datang untuk kita mencari hikmah yang banyak. Kebaikan pergi untuk menitipkan hikmah lalu kita dapat merenunginya untuk menjadi penerungan yang panjang lalu diamalkan dalam kebaikan yang lain.

Coach Gunawan (Internasional Certified NLP Trainer) telah genap setahun membersamai guru-guru dan pegawai di SIT Nurul Fikri Makassar. Sejak delapan Januari dua ribu delapan belas hingga sebelas januari dua ribu sembilan belas. Membersamai dalam kebaikan yang banyak, dengan pesan kehidupan yang banyak. Beliau yang penuh ilmu di isi hati dan kepalanya adalah sesosok yang akan selalu kami rindukan. Saat ini, beliau akan kembali belajar, lalu mengajar, berbagi banyak kebaikan di banyak tempat. Bukan hanya di Indonesia.

"Temukan aktivitas akhakul karimah kalian. Hadirkan rasa nyaman ketika melakukannya. Jadilah sebagai manusia yang banyak memberikan kebaikan kepada orang lain. Dan yang terakhir adalah libatkan Allah dalam setiap hal." Pesan Coach Gunawan pada siang di hari Kamis (9/01/19).

Apapun profesi kita, apapun hal yang kita yakini, apapun hal yang kita ingin lakukan, kita harus menjadi sebuah solusi bagi ummat. Memberikan kualitas amalan terbaik kalau ada masalah.

"Jadikan Nurul Fikri sebagai tempat untuk menggodok diri sebagai pribadi yang baik ke depan. Yang akan memandu untuk lebih baik ke depan." Tambahnya sebelum berpamitan. "Saya titip anak-anak Nurul Fikri. Mereka adalah imamul muttaqin, anak-anak surga yang akan memimpin ummat islam ke depannya. Sungguh, perjuangan kita masih cukup panjang." Air mata akhirnya tumpah, tak mampu lagi tertampung. Beliau mengusapnya, tetapi air mata kami semakin menjadi.

Sungguh, kalimat itu penuh dengan amanah. Seperti titipan yang harus dijaga baik-baik, benar-benar, sungguh-sungguh, yakin-yakin. Kalimat yang meminta untuk diterjemahkan bukan hanya dalam bentuk visi dan misi, tetapi juga aksi. Sebuah aksi yang harus dilakukan dengan langkah pertama. Sebab keputusan dengan hajat banyak, selalu dilakukan dengan langkah pertama. Sebab satu atau seratus kesuksesan yang besar selalu diawali dengan langkah pertama.

Dua hari yang lalu, beliau berjalan hingga punggungnya meninggalkan kami di balik pintu. Beliau adalah buku berjalan. Kepalanya adalah kumpulan ribuan memori yang terus diisi dengan keilmuan yang banyak dan beragam. Tak perlu dipertanyakan bagaimana kontribusinya dalam dakwah dan perjuangan. Tak perlu dipertanyakan bagaimana beliau begitu gigih menuntut ilmu dan berbagi banyak hal.

Perilaku manusia ada pada dua sisi. Yaitu positif dan negatif. Kita tahu, bahwa hal yang negatif itu ada tetapi kita tak bisa menghentikannya. Ia melekat. Pun beliau, juga tidak lepas dari yang namanya sisi negatif. "Tetapi sisi negatif kita bisa diubah ke arah baru, ke arah yang lebih baik. Misalnya, karakter boros. Itu adalah sifat alamiah yang dimiliki, tetapi kita bisa menjadikannya sebagai potensi kebaikan dengan misalnya 'boros' membelanjakan materi di jalan dakwah dan di jalan perjuangan kita sebagai ummat Islam." Di sebuah sesi pertemuan, beliau pernah menyebut kalimat itu.

Selamat mengerjakan seribu urusan, Coach. Selamat belajar banyak hal (lagi). Semoga dimudahkan. Sungguh, kami menunggu kisah-kisah hikmah yang datang dari seluruh penjuru dunia untuk didengarkan dan dijadikan pelajaran.

Syukran, Jazakallahu Khairan atas setiap ilmu yang diberikan. Atas setiap nilai-nilai kehidupan yang didatangkan di telinga kami. Atas setiap kebaikan yang diberikan. Atas setiap semangat gigih. Atas setiap yang telah kami jadikan visi misi lalu telah menjadi aksi. Atas setiap hal-hal yang kami rencanakan dan akan berusaha kami tunaikan dengan sungguh. Atas setiap kebersamaan yang indah di SIT Nurul Fikri Makassar.

Kami mohon doanya selalu agar tetap istikamah dalam medan juang ini. Untuk terus membersamai anak-anak Surga kami di sekolah. Untuk terus membimbing mereka dengan niat-niat tulus dan niat Lillah.

Sekali lagi, Syukran Jazakallahu Khairan. Pula kepada Ayah Tono (Ketua Yayasan SIT Nurul Fikri Makassar) yang dijadikan oleh Allah sebagai perantara dalam pertemuan ukhuwah ini. Juga kepada Coach Wiguna yang dengan setia mendampingi Coach Gunawan dalam setiap pertemuan. Barakallah fiikum.

Wassalam,
Makassar, 12 Januari 2018

Tentang yang Perlu Sama-sama Kita Ketahui; TERORIS


Sebab belum pandai berkendara motor, saya kerap pulang bekerja naik layanan kendaraan online; Grabcar, bersama seorang teman kerja. Hampir setiap hari, saya menemui supir dengan berbagai macam karakter. Mulai dari supir yang tidak mengeluarkan satu katapun, ada juga yang sangat cerewet, ada juga yang suka berceramah, ada yang bertanya tentang pekerjaan, sekolah, ada yang menasihati, mendoakan, bahkan tidak sedikit yang berbagi kisah masa lalu; curhat.

Seperti yang saya alami tadi di dalam sebuah mobil berwarna silver. Sebelumnya, dari arah jalan Meranti menuju ke perbelokan ke jalan Anggrek Raya, tiba-tiba ada banyak sekali palang kawat berduri berjejer di sepanjang pinggir jalan hingga masuk ke sebuah lahan kosong. Saya dan teman lalu saling menebak, saling mengira "Mungkin itu digunakan untuk memberantas demo." Kata teman saya.

Lalu saya menimpali, "mana ada demo di sini? Demo tentang apa juga yang akan orang-orang lakukan?" Teman saya lalu mengiyakan. "Atau kalau menurut saya, itu disiapkan untuk tindakan terorisme?" Saya bergidik takut sementara teman saya kembali menimpali. "Astagfirullah. Semoga tidak ada." Saya lalu sadar kalau ucapan saya berlebihan padahal saya sedang bercanda. Saya kemudian ikut beristighfar.

Lalu kami mendengar Pak Supir tertawa pelan. "Luar biasa kalau ada Teroris. Menakutkan sekali. Saya pernah alami di daerah (*tiiiiiit! Sensor)" Kalimatnya kemudian membuat saya penasaran.

"Betul, Pak?" Saya memperbaiki posisi duduk. Sementara teman saya masih santai dengan posisi duduknya dengan memegang kantung plastik di tangannya.

"Iya. Di sana, saya bahkan harus memakai identitas agama lain. Padahal saya muslim." Pak Supir itu berbicara dengan nada serius sambil menggeleng kepala pelan. "Kalau ditahu sebagai muslim, langsung dibantai, dibunuh ditempat!" Tambahnya.

"Bagaimana dengan keluarga Bapak yang lain?" Saya penasaran.

"Mereka di Makassar. Ke sana, saya berdagang. Menjual barang-barang."

"Merantau, Pak?"

"Bukan, hanya menjual saja." Ucapnya meyakinkan. "Namanya cari uang", "Dulu itu, saya bahkan tinggal di atas gunung dengan orang-orang muslim lainnya selama dua bulan. Itupun awalnya teman yang mengajak saya ke sana itu meninggalkan saya. Dia baru menelpon saat sudah ada di atas gunung." Pak Supir berkisah dengan apik sekali. Kepalanya kembali menggeleng pelan.

"Tega, ya, Pak?"

"Iya. Tapi alhamdulillah saya tetap ditelpon. Setelah mendapat telepon, saya langsung mencari gunung itu dan saya mendakinya." Pak Supir mengenang. "Bayangkan, kami makan mie rebus selama dua bulan! Bagaimana perut tidak sakit?" Dia tertawa cukup keras.

"Kasian." Pelan-pelan, saya iba padanya. "Tahun berapa itu, Pak?"

"Sekitar tahun.. (dia menyebut nama tahun, tapi saya lupa) kalau tidak salah. Saya sudah agak lupa."

"Berarti usia Bapak saat itu masih belasan?" Saya menebak.

"Ya. Kira-kira tujuh belas atau delapan belas tahun."

"Masih muda, ya, Pak." Sekarang, rambut kepala Pak Supir sudah mulai memutih. Diikuti dengan kacamata yang menandakan penglihatannya yang sudah cukup menghawatirkan. Mungkin di dalam hati, Pak Supir bilang begini, "Memangnya saya sudah tua sekali?"

"Di sana saya punya teman nonmuslim. Teman SD. Tapi, teman saya itu pernah bilang 'berapa nyawamu mau datang ke rumahku'?"

Kami kaget. "Wah!"

"Itulah, padahal dia teman SD. Biasanya kalau teman mendukung."

"Iya. Biasa juga melindungi." Teman saya menimpali.

"Ya itu yang saya harapkan tapi mendengar pertanyaan itu, 'berapa nyawamu mau datang ke rumahku?" Siapa yang mau mati sementara kita sedang mencari rezeki ke sana?" Kesalnya. "Kalau mereka tahu kalau kita orang muslim, dibunuh!"

"Setelah dua bulan, kami berjalan dan menemui sebuah jembatan kecil. Kalau sudah lolos dari jembatan itu, maka amanlah. Kita bebas." Dia bernapas lega diikuti suara tawa yang pelan. "Semenjak hari itu saya bilang PERTAMA DAN TERAKHIR KALI SAYA MENGINJAKKAN KAKI DI DAERAH ITU! SAYA TIDAK AKAN KEMBALI!  Walaupun orang-orang bilang di sana sangat bagus untuk berdagang, bisa banyak uang." Tambahnya sambil menyungging senyum kemenangan.

"Bukankah itu konfik yang didamaikan oleh Pak Jusuf Kalla, Pak?"

"Nah! Iya! Betul itu."

Saya mengangguk pelan.

"Sebenarnya, itu karena ada pendatang dari Daerah (tttiiiiit! Sensor!) yang ingin memerintah orang-orang sana. Ingin menguasai. Jadi, masyarakat daerah yang mayoritas nonmuslim itu menjadi sangat marah dan merasa harga diri mereka diinjak-injak. Jadilah orang muslim menjadi sasaran. Entah siapa yang memprovokasi dan terjadi pembantaian dimana-mana." Kenangnya. "Yang berbahaya sebenarnya si tukang provokasi itu."

"Iya, ya, Pak. Betul sekali." Saya mengangguk pelan, membenarkan. "Tapi, sekarang sudah aman, kan, Pak?"

"Iya. Sudah. Tapi saya tidak akan pernah ke sana lagi." Ucapnya menambah keyakinan.

Beberapa putar roda lagi, tujuan kami sudah tiba. Saya lalu menyiapkan ongkos dan bilang terimakasih saat kami sudah tiba.

Jadi, kita bisa sama-sama belajar. Bahwa sebenarnya, tindak teroris itu bukan dilakukan oleh yang mengatasnamakan dirinya muslim ataupun nonmuslim. Hanya saja, ada orang-orang yang otaknya penuh ilusi dan mempengaruhi orang lain dengan iming-iming yang tidak masuk akal. Berawal dari kepala yang tidak berakal, maka keluarannya adalah orang-orang yang dengan kepala dan sikapnya yang tidak masuk akal. Mereka seperti tidak memilki tujuan, tidak ada arah hidup.

15 Mei 2018





Menjadi Reporter Cilik, Mencari Ilmu dari Guru


Ada hal yang cukup menggemaskan di Ekskul Sastra dan Public Speaking. Walau mereka sisa secuil, tetapi semangatnya selalu gebu. Materi yang mereka dapatkan adalah tentang menjadi "Reporter Cilik".

Sebelum terjun ke lapangan mencari informasi, mereka dibekali dengan ilmu menjadi wartawan. Mulai dari adab saat berada di depan narasumber hingga rumus 5W1H yang harus mereka kuasai. Seru, tegang, dan antusias saya dapati saat mereka mulai berlari dengan cekatan mencari narasumber untuk dikorek informasi tentang "Kebiasaan Membaca". Saya bahkan kelagapan mencari mereka di banyak tempat. Karena yang wajib mereka wawancarai adalah guru yang bukan mengajarinya di kelas. Ada yang bertabrakan, yang bingung sambil tertawa, dan bahkan saling berebut narasumber. "Silakan cari yang lain, Nak." Saya mengarahkan. Saya tidak tahu yang lain dimana karena mereka cukup lincah bergerak. Seorang reporter memang sebaiknya cekatan dan cepat untuk memperoleh informasi yang valid namun, tidak terburu-buru.

Setelah mencari mereka dimana-mana, Reporter Cilik yang berhasil saya dapati adalah ananda Farah Nafeeza. Si cantik berlesung pipit itu menemui ustadz Suwandi di ruang TPQ dengan bertanya beberapa hal. Saya melihat antusiasnya yang besar, padahal baru bergabung dengan kami sekitar dua bulan belakangan. Sambil memakai ID Card Reporter Cilik, Farah dengan baiknya menggali informasi dari narasumber.


Berdasarkan informasi yang didapatkan, "Ustadz Suwandi suka baca Alquran. Katanya, isi Alquran itu kalimatnya indah. Tersusun rapi dan tanpa kontradiksi. Alquran juga bisa mendatangkan banyak pahala, sebagai penasihat, dan sebagai obat." Tulis Farah saat mengolah berita dalam tulisan.

Selanjutnya ada Fayza Afifah atau yang akrab disapa Fey. Fey rupanya ada di lantai dua di ruang guru dan memilih Ustadz Sandi sebagai narasumbernya. Saya datang dan Fey terlihat malu. "Lanjut saja, Nak." Terang saya. _"Ustadz Sandi suka membaca buku tentang Sahabat Nabi dan selalu ditemani dengan kucingnya. Kalau baca buku selalu di atas pohon."_ Tulis Fey  saat mengolah berita. Saya sedikit tertawa. "Seperti bercanda Ustadz menjawab. Tapi katanya serius." Eluh Fey.

Selanjutnya ada Andi Arhesay. Si fanatik dengan kelas ekskul sastra dan public speaking. Perempuan berkulit hitam manis itu sejak dari tadi mondar mandir naik turun tangga hanya demi mencari narasumber yang menurutnya tidak akan membuatnya grogi. "Adami yang ambil narasumberku, Ustadzah." Ia membela diri saat setelah lima menit berlalu dan belum mendapatkan narasumber. Dan bertemulah ia dengan Ustadzah Fatimah Hasmi lalu bersalaman dan memperkenalkan diri. _"Ustadzah Fatimah sangat suka dengan buku parenting. Kebiasaan membacanya sangat kuat. Katanya buku Parenting itu dibacanya saat ada waktu luang. Ekspresi Ustadzah Fatimah saat itu sangat senang karena dengan membaca buku Parenting, ia bisa mendapatkan ilmu tentang cara merawat dan mendidik anaknya dengan baik."_ Tulis ananda yang akrab disapa Esa itu.

How about her? Yes, her name is Alfiah Najla. Perempuan yang suka mencuri perhatian dengan gerakan-gerakan yang entah. Dia berlari bersama Esa mencari narasumber hingga tidak tahu kemana dia beranjak setelahnya. Setelah mondar mandir, saya hanya mendapati Farah, Fey, dan Esa. Tidak menemukan yang lain. Foto ini diambil saat proses pengolahan berita. Rupanya, Najla mewawancarai Ustadz Suriadi, salah satu guru di tim TPQ. _Tempat yang panaaaaaalingggggg pas untuk membaca adalah di tempat lapang dan sunyi pada waktu sore hari. Mengapa Ustadz Suriadi menyukainya? Karena banyak berkaitan dengan biologi, tubuh manusia, dan semacamnya. Serta membuktikan bahwa ilmu agama juga pastinya berkaitan."_ Tulis Najla sebagai laporan isi beritanya.

Fatimah. Ananda yang satu ini juga baru bergabung dengan kami dua bulan belakangan. Paling sering mengurai senyum hingga terpancar di matanya. Saya juga tidak menemukannya dimanapun saat proses wawancara berlangsung. Rupanya dia datang pada Ustadzah Risma. "Nekad Jadi Guru" adalah buku yang sangat disukai oleh Ustadzah Risma. _"Suka membaca buku karena berhubungan dengan profesi dan harus terus belajar agar bisa menjadi yang lebih baik lagi sehingga menginspirasi."_ Tulis Fatimah.

Dan terakhir adalah lelakiku satu-satunya di Ekskul Sastra dan Public Speaking, Charly Kamase. Si Deng Toa yang semangatnya 45 kalau jam ekskul sudah tiba. "Ustadzah, kenapa tidak ada ekskul sastra di jam kedua? Mauka ikut saja jam pertama dan kedua." Pintanya dan saya hanya tertawa kecil. Saya heran dan bertanya-tanya tentang Charlie yang begitu cepat hilang dari pandangan tadi dan itu berarti dia akan menjadi yang pertama selesai mewawancarai. Tetapi dugaan saya salah. Ia begitu lama. Rupanya, usut punya usut dia mewawancarai sebanyak tiga orang guru. Padahal perintahnya hanya satu saja. Luar biasa. Adalah Ustadzah Nining, Ustadzah Yanti, dan Ustadz Fitrayang berhasil diwawancarai oleh Charlie. Katanya begini, "Ustadzah Yanti, Ustadzah Nining, dan Ustadzah Fitrah kompak bilang kalau mereka suka baca buku karena masih jomlo, masih sendiri."

Tulisan ini saya buat pada 29 Maret 2019. Tepat di hari yang sama mereka melakukan kegiatan tersebut dalam kelas ekskul sastra dan public speaking yang setiap pekan di hari Jumat mereka ikuti. Mereka adalah angkatan kedua di kelas ekskul ini. Sama seperti tahu lalu, walau peminatnya nyaris sama jumlahnya, satu-satunya lelaki juga ada di angkatan pertama. Fadhil namanya.

Oiya, selepas mendapatkan informasi tersebut, pada pertemuan selanjutnya, mereka akan menjadi pembawa berita. Mirip seperti pembawa acara di televisi. Mendengar hal itu, wajah mereka sumringah. Seperti senang sekali dengan tantangan.

Salam Literasi!


Senin, 25 Maret 2019

Tentang Batas


Setiap kita pernah bertemu dengan orang-orang baru, lantas waktu menjadi sangat baik menjadikan kita memiliki perbincangan yang baik. Tentang pekerjaan atau hal lainnya. Tetapi setelah perbincangan itu selesai, maka waktu juga akan menjadi diam. Sisanya, hanya bisa mengingat-ingat perbincangan apa yang masih singgah di kepala. Atau bahkan, jika berbincang sambil membawa perasaan, maka ingatan akan kuat membekas.

Perjumpaan telah bekerja sebagaimana mestinya, tetapi juga ingatan akan bekerja dengan kuat sekali. Ia akan mengingat perihal perjumpaan yang baik yang kemudian menjadikan perjumpaan itu dirindukan. Tetapi wujud perjumpaan yang dilakukan adalah bukan dengan berjumpa secara tatap muka lalu kemudian akan berbincang banyak hal, berdua. Bukan demikian. Perjumpaan yang satu ini adalah perjumpaan untuk saling mempertemukan, menyatukan ruh-ruh yang sebelumnya tidak berjumpa.

Perjumpaan selanjutnya yang dimulai dengan doa-doa yang melangit kepada Allah. Dengan bahasa lain, jika ingin menjadi dekat dengan makhlukNya, maka dekatilah penciptaNya terlebih dahulu. Siapakah dia selain Allah yang Mulia, yang Maha Pemilik Hati Manusia, yang Maha Membolak-balikkan hati manusia?

Tetapi, untuk memulai, hal apa yang harus diperbincangkan sementara hal yang musti dibincangkan telah usai masanya? Lagipula, berat sekali rasanya untuk kemudian memulai tanpa harus terlebih dahulu memulai berbincang dengan Allah. Kadang, sebelum  ingatan-ingatan itu benar menjadi ada lalu menetap, kita sering kali merasa takut untuk membayangkannya benar-benar terjadi. Takut untuk kemudian tidak lagi melakukan perbincangan apapun.. Padahal semua perasaan  itu, perasaan yang jatuhnya terdapat syahwat berasal dari setan jika kita tidak bisa mengontrol diri dengan baik. Hati kita milik Allah, kita hanya dititipi, jadi kita juga harus dengan bijak menaruhnya di tempat yang tepat, harus dengan baik menyimpannya dengan sungguh pada sesuatu.

Perbincangan usai dan hanya menyisa apa yang bisa dibaca dan diingat. Selalu sesederhana itu ketika kita memilih untuk tidak memulai lagi lebih dulu dan menarik perbincangan yang lain untuk saling duduk bersama. Bukan berat karena pembahasannya, tetapi lebih dari itu. Ada batas yang tidak boleh dilalui. Ada penyangga yang tidak boleh dilintasi. Ada tirai yang kemudian menjadi penghalang.

Ialah untuk menjaga sebongkah daging di dada. Yang Rasulullah ajarkan, yang apabila sebongkah daging itu baik, maka baiklah seluruhnya. Kita harus benar-benar menjaganya.

Pertanyaan Cinta

Setan itu akan mewujudkan dirinya menjadi apa saja yang dia inginkan karena memang dia telah disepakati maunya oleh Allah untuk mengooda manusia-manusia untuk jauh dari kebenaran. Bahkan, godaannya itu bukan hanya dibisikkan kepada orang dewasa saja. Tetapi bagi semua orang baik ketika imannya sedang kuat-kuatnya terlebih kepada manusia yang telah jauh hari berhasil untuk terus digoda. Pun kepada anak-anak. Kekuatan godaan mereka juga sangat kuat di sana. Itulah pentingnya menanamkan hal-hal yang baik kepada anak-anak , memberikan mereka pemahaman-pemahaman tentang ilmu agama yang seharusnya mereka tahu sejak kecil. Setan paling senang menggoda anak-anak. Bahkan seringkali muncul di hadapan mereka. Mengaku sebagai teman bagi anak-anak.

Agustus dua ribu enam belas..
"Ibu guru, kenapa kalau saya sedang main sama teman, di hati saya seperti ada yang sedang berbicara bilang 'Pergilah belajar! Pergilah belajar!'." Murid saya yang akrab disapa Cinta tiba-tiba mendekat.

Waktu itu, jam pelajaran di sekolah sudah selesai semua. Siswa yang lain bahkan telah pulang menggandeng tas masing-masing dengan wajah ceria ingin kembali bertemu dengan ayah dan ibu di rumah.

Saya mendapati pertanyaan Cinta dengan wajah yang bingung. Tangannya sibuk merapikan buku-buku dan memasukkannya ke dalam tas.
Saya memberikan senyuman terbaik. “Sini, mendekat dengan Ibu.”

Maka Cinta mendekat. Wajahnya yang mirip bule’ dengan kulit yang putih dan rambut pirang didekatkan di wajah saya.

"Itu artinya, ada malaikat yang membisiki hati Cinta ke arah kebaikan." Saya ikut  mendekatkan wajah lebih dekat, "Cinta, kalau ada yang ajak berbuat  baik, mau?"

Dia mengangguk pelan.

Saya menarik tubuh dan bersandar di punggung kursi. "Nah. Belajar itu, kan baik. Jadi malaikat tidak mau kalau Cinta terus-terusan main." Saya memasang wajah yakin. "Main boleh. Asal jangan terlalu. Belajar juga penting sekali."
Dia menggangguk lebih cepat.

"Sebaliknya, kalau Cinta terus-terusan main, itu justru ada yang menggoda." Saya tersenyum sebentar. Saya melihat wajah Cinta berubah penasaran. Dia tersenyum kecil-kecil menunggu jawaban lanjutan dari saay.
“Setan.”

Wajah Cinta tiba-tiba berubah, “Hii.” Dia bergidik ketakutan.

"Jadi Cinta mau belajar atau main terus?" Saya memberikannya pilihan.

"Belajar, Bu." Jawabnya mantap, kepalanya mengangguk dan suaranya agak dibesarkan.
"Nah, gitu!" Saya menaikkan jempol tangan sebagai wujud apresiasi atas pilihannya.
Saya pikir jawabannya sudah tuntas dan sudah cukup mampu memahamkannya perihal pertanyaannya. Ya, dia sudah benar-benar paham. Selanjtnya giliran saya yang merapikan dan memasukkan barang-barang ke dalam tas.
"Ibu guru!" Dia memanggil lagi dengan wajah bingung.

"Hm?”

"Saya juga pernah mimpi Bapak saya kecelakaan saat mau pergi menjual di pasar." Saya lalu menatapnya. Saya pikir Cinta akan memberi salam dan berpamitan pulang.

Ayah Cinta memang adalah seorang pedagang rempah-rempah di pasar yang tidak cukup jauh dari sekolah. Saya tahu karena pernah diberi sebungkus rempah-rempah; bawang-bawangan, dan teman-temannya. Lengkap dengan arahan, "Kalau misal Ibu ke pasar, silahkan singgah di kios saya, ya, Bu." Ayah Cinta memberi tahu.

Kalau saya mengingat-ingat, Cinta lebih mirip wajah ayahnya ketimbang Ibunya. Kulitnya dari Ayahnya. Matanya juga, hampir terlihat seperti garis tiga senti meter yang sempurna ketika tersenyum.

"Maksudnya kecelakaan bagaimana?" Gantian, saya yang berubah bingung. Tepatnya penasaran.
"Jatuh dari motor, Bu." Cinta menjelaskan mimpinya.

Saya kemudian menimbang-nimbang jawaban. Mencari jawaban terbaik untuk anak seusianya. Kalau jawaban saya tidak tepat, tentu jawaban itu akan berbuah tanya-tanya yang semakin berkembang, bercabang-cabang.  "Itu artinya, kalau Bapak Cinta ke pasar, Cinta harus sudah bangun. Doakan Bapak biar selamat di jalan. Pulang juga selamat sampai rumah." Saya tersenyum. Mata saya ikut tersenyum, menyipit kecil-kecil.

Dia mengangguk, "Iya, Bu."

"Karena doa itu yang akan menyelamatkan Bapak Cinta dari hal-hal yang tidak baik. Bukan hanya kecelakaan saja."

"Cinta mau doakan Bapak, kan?"

"Iya, Bu."

"Jadi kalau Bapak Cinta ke pasar, Cinta mau bangun lebih awal?”

Dia mengangguk dan tersenyum. Wajahnya yang berseri-seri lalu menyalami tangan saya dan berpamitan pulang.

Demikianlah anak-anak dengan banyak sekali pertanyaan di kepalanya. Tetapi, mereka adalah ladang amal yang paling luas bagi kita, bagi guru.

(Cinta adalah murid saya ketika mengajar di SD Berbantuan Bungaya 2016 lalu)

Berlapis Hikmah; Jejak-jejak Peradaban, Jejak-jejak Ketenangan


Duduk bermajelis ilmu adalah duduk-duduk penuh makna. Duduk-duduk ibadah. Duduk-duduk yang dibersamai para malaikat yang tengah membentangkan sayapnya sebagai tanda keridhaan Allah dan ridhonya atas orang-orang yang menuntut ilmu.

"Barangsiapa yang menempuh jalan menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju Surga." Hadis yang Rasulallah saw. sebut itu kemudian dicatat oleh Imam Muslim dan Imam Baihaqi.

Duduk berdirinya kita, duduk dan berbaringnya kita, duduk dan berlarinya kita, insyaallah semuanya penuh dengan hikmah. Bukan satu atau dua, bukan hitungan jari, tetapi berlapis-lapis, bertumpuk-tumpuk.

"Al arwahun junuudummujannadah. Famaa ta'aarofa minhaa i'talafa, wamaa tanaa karoo minha ikhtalafa." Sabda indah Rasulullah saw. tersebut dicatat oleh Imam Muslim dan Imam Bukhari. Dan kali pertama telinga saya menjumpainya adalah juga saat pertama kali menonton video Ustadz Salim A. Fillah beberapa tahun yang lalu. Bahwa ruh-ruh itu akan saling mencari dengan yang sepakat dengannya. Laiknya tentara yang berkumpul sebab visi yang sama. Selama saling mengenal, kodenya nyambung, walau bahkan terhalang oleh bukit, maka ruh-ruh itu, jiwa-jiwa itu akan saling menyatu. Tetapi apabila ruh-ruh, jiwa-jiwa  saling berselisih, kodenya tidak nyambung, maka ruh-ruh kita tidak akan saling menyatu.

Demikianlah. Demikianlah maknanya. Demikianlah resonansi bekerja pada tokoh, ruang, dan waktu.

"Pemimpin berbeda jauh dengan kepemimpinan. Maka yang akan kita ciptakan adalah mewujudkan kepemimpinan global. Kepemimpinan yang berdasar pada peradaban bangsa Islam. Sebab, jika visi kita hanya menjadi pemimpin, maka itu hanya akan bisa dihitung jari dan hanya pada orang-orangnya, bukan pada peradabannya." Kurang lebih, begitu tutur Coach Gunawan begitu membuka kajiannya hari itu (07/10).

Tentu, kita sama-sama berharap bahwa ummat Islam akan menjadi penggerak pertama dan utama. Tentu kita berharap bahwa calon-calon kepemimpinan atas kebangkitan peradaban Islam adalah berasal dari anak-anak kita. "Sungguh kebangkitan Islam akan bermula dan datang dari arah Timur." Ujar Dr. Abu Bakr Al-'Awawidah, Wakil ketua Rabithah Ulama Palestina. Kalimat itu berasal dari sabda Rasulullah saw.

"Beliau menyebut demikian sebab melihat potensi ummat Islam begitu besar di Indonesia." Begitu kalimat yang disimpulkan oleh Direktur Tarbiyah di sekolah tempat saya mengajar. "Maka Indonesia yang menjadi salah satu negara yang berada di bagian Timur dinilai sangat berpotensi. Insyaallah, dari Indonesia akan lahir peradaban dan cahaya Islam. Lahir calon-calon pemegang amanah Islam ke depannya." Tambahnya.
Lalu, yang kemudian harus kita lakukan adalah memperkuat azzam kita untuk terus memantaskan diri memegang amanah yang indah itu. Amanah untuk membentuk calon-calon pemegang peradaban Islam.

Penguatan Sejarah Islam dan Sastra kemudian menjadi wacana besar yang akan memperkuat ruhiyah kita untuk mendidik diri dan anak-anak kita, murid-murid kita. Ia akan mewujud menjadi seindah-indahnya ilmu, semanis-manisnya teman duduk.

Mengapa sejarah? Sebab orang yang bisa memenangkan masa depan adalah orang yang memenangkan sejarah. Lalu, mengapa harus sastra? Sebab Quran, sebab bahasa arab itu indah. Ia akan merasuk ke dalam dada-dada kita, dalam hati dan pikiran kita, memberikan ketenangan. Itulah mengapa ada yang menyebut kalimat: "Pelajarilah sastra. Sebab sastra dapat melembutkan hati, membuat berani." Masyaallah.
Indahnya lisan kita akan senantiasa mencerminkan indahnya fiqrah dan qalbu. Indahnya lisan kita akan senantiasa mengindahkan akhlak kita, amalan kita. Sebab, Rasulullah saw. pernah berkata, "Ada segumpal daging di dalam tubuh manusia, yang jika segumpal daging itu baik, maka akan baiklah seluruhnya."

Dalam hal ini, qalbu yang dimaksud adalah bukan organ lever. Tetapi segumpal daging itu ialah hati, jantung. Kita benar harus menjaganya. Kita benar harus mengarahkannya kepada kebaikan-kebaikan. Sebab sehatnya jantung, sehat pula pikiran kita. Pikiran sehat, sehat pula tubuh kita. Sehat tubuh kita, sehat pula fokus kita pada kebaikan.

Allah memberikan kita kitab Alquran sebagai petunjuk, sebagai pengarah. Di sana, bermula dari kitab Injil, lalu Zabur, Taurat, lalu kemudian sang pencerah bagi rahmatan lil 'alamin, Alquranul Karim. Kesemuanya adalah bentuk-bentuk kebaikan Allah yang jika kita membacanya, mengerti, meyakini, dan menyadarinya, maka perasaan tenang akan merasuk ke dalam hati kita, pikiran kita, akhlak kita.

Peristiwa yang terjadi dalam hidup kita telah tertakdirkan dengan apik oleh Allah. Peristiwa luka, juga duka. Peristiwa bahagia, juga gundah. Namun, satu hal yang harus kita yakini adalah bahwa Allah akan mendatangkan banyak hikmah di dalamnya. Hikmah yang akan kita rasakan hanya ketika kita merasa tenang, ikhlas, dan ingat Allah. Namun, mengingat Allah tidak semata hanya dalam hal peristiwa. Juga dalam amal. Pula dalam hati.

"Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang" Kalimat Allah yang indah itu tercatat dalam QS. Ar-Ra'du ayat 28.
Di sisi lain, ketika hati kita tenang dalam perjalanan menujuNya, ketika malaikat Maut datang menunaikan tugasnya, Allah berseru:
“Ya ayyuhan nafsul muthmainnah, irji’i ila rabbiki radhiyatam mardhiyyah (wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati puas lagi diridhai-Nya),” Begitu nantinya Allah akan memanggil kita sebagai jiwa yang Khusnul Khatimah yang kemudian bisa kita temui dan pahami maknanya dalam QS. Al-Fajr, ayat 27-28.
Selain mati dan azan shalat, salah satu peristiwa hati yang akan terus mengingatkan kita pada ketenangan adalah perjalanan haji dan umrah. Perjalanan meninggalkan dunia menuju kepada akhirat. Perjalanan yang selalu mengingatkan untuk senantiasa menjadikan aktifitas kita di atas bumi bernilai langit, bernilai akhirat, bernilai telaga kautsar.

Kain ihram mengajarkan kita untuk merasakan akhirat lebih berharga daripada dunia. Mengajarkan untuk mencabut dunia dari hati kita. Mengajarkan untuk senantiasa merasa bahwa diri kita yang bumi ini untuk selalu merasa rendah hati. Mengajarkan kita bahwa dunia bukanlah tempat berbangga-bangga. Menuntun untuk secara alami melepaskan seluruh simbol-simbol duniawi. Padahal Allah memandang kita dengan derajat yang sama. Tiada beda, terkecuali takwa kita padanya.

Tawaf mengajarkan kita bahwa hidup tidak pernah lepas dari Allah. Selalu dalam pengawasanNya. Senantiasa mengajarkan kita bahwa hidup ini seperti pusaran air yang terus berputar, selalu berjalan, untuk kemudian mendekatkan kita kepada Allah yang Mulia. Allahu Akbar!

Sedangkan Sai, mengajarkan kita untuk lapang menerima dan menjalani apapun dengan yang telah digariskan oleh Allah, yang telah menjadi ketentuanNya, yang telah tercatat dalam takdirNya. Hingga menjadikam niat-niat kita menjadi niat surga sebagai akhir dari upaya yang dilakukan bersebab karena Allah dan Rasulullah saw. Allahumma sholli 'alaa muhammad.
Sehingga Kain Ihram mencerminkan "ketenangan", tawaf menggambarkan "ingat Allah", dan Sai melukiskan "ikhlas" kita.
"Sungguh, Allah tidak pernah salah pilih, tidak salah pundak, menempatkan kalian di sekolah ini. Sebab Allah percaya kalian adalah bagian dari perjuangan ini. Perjuangan islam di masa yang akan datang untuk menciptakan generasi kepemimpinan yang berperadaban, yang berpengaruh, yang menjadikan dunia sebagai serendah-rendahnya harapan." Kalimat ini pernah diujar oleh Ayah Tono, ketua Yayasan sekolah dan Coach Gunawan.

Di akhir sesi pada lingkar surga itu, Coach Gunawan mengajak kita untuk memantaskan diri. Mengajak kita untuk menemui tempat yang penuh dengan resonansi. Yang memiliki tokoh, ruang, dan waktu. Semisal mengunjungi Makkah dan Madinah, mengunjugi makam Rasulullah saw dan para sahabatnya. Semisal kisah penaklukan Kota Konstantinopel oleh Muhammad Al-Fatih yang setelah Rasulullah saw, ialah sebaik sebaik-baik raja, sebaik-baik pemimipin, dan pasukannya ialah sebaik-baik pasukan.

Allah lah yang telah mempertemukan dan memperjalankan kita ke jalan yang baik, yang lurus dengan luka dan likunya sebagai konsekuensi atas keimanan kita.
"Mengapa kita dikumpulkan di sini?" Tanya Coach Gunawan dengan mata yang sudah berkaca-kaca, hendak menumpahkannya namun begitu berusaha ia tahan. Lalu dengan nada rendah, seperti sedang berusaha mengumpulkan energi, beliau berkata, "Kita dikumpulkan di sini untuk nantinya dipanggil oleh Allah dengan sebutan "Ya ayyuhan nafsul muthmainnah", "Ya ayyuhan nafsul muthmainnah", "Ya ayyuhan nafsul muthmainnah". Wahai jiwa-jiwa yang tenang, wahai jiwa-jiwa yang tenang, wahai jiwa-jiwa yang tenang." Beliau diam sejenak.
Sungguh, haru sekali waktu itu.

Beliau kemudian berbicara dengan sepenuh hati, "Semoga Allah mempertemukan kita di Baitullah, semoga Allah mempertemukan kita di Padang Masyar bersama Rasulallah saw." Kali ini, kantung matanya tak mampu lagi menampung air mata. Ia tumpah.

Masyaallah. Sungguh, sebuah kesyukuran besar Allah telah menakdirkan hal-hal baik dalam hidup kita. Sungguh, sebuah berkah yang banyak Allah telah menggariskan kita berada dalam sebuah garis perjuangan. Sungguh, adalah berlapis-lapis hikmah yang tak terhingga sebab Allah telah menjadikan setiap peristiwa, setiap amal, setiap hati kita penuh dengan kebaikan.
Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillahirabbil 'alamiin.
"Anaa uhibbukum fillah. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh." Ujar Coach Gunawan mengakhiri pertemuan.

MAKASSAR, 07 Oktober 2018.

Sepercik Surga di Rumah Hijau Denassa (Bagian 1 dan 2)


BAGIAN PERTAMA
Suasana pedesaan. Itulah isi kepala saya pertama kali saat memasuki halaman "Rumah Hijau Denassa". Sejuk dan teduh. Suara teman-teman guru sudah gemuruh dan riuh. Rupanya, ada yang menarik perhatian. Kami diberikan caping berwarna hijau dan meletakkannya di kepala. Mata saya lalu tertuju pada sebuah tulisan "Selamat Datang di Rumah Hijau Denassa". Lengkap dengan pisang yang bertandang-tandang di sisiannya. Buku-buku berjejer rapi memanggil untuk segera dinikmati isinya yang tentu bergizi. Sarapan yang enak. Tetapi, tak ada waktu melahapnya.


Tempat ini pertama kali saya dengar saat salah satu teman berkunjung ke sini dalam rangka temu penulis Makassar beberapa bulan yang lalu. Tetiba saya penasaran. Dan akhirnya, Allah rupanya menjadikan itu sebagai doa dan berbuah pengabulan. Ya, saya berada di sini hari ini. Sebuah kampung literasi yang luar biasa sekali. Semua bibir merekah menyambut, seperti bunga-bunga yang tumbuh di sekitarnya. Pun hati mereka bewarna-warni, mirip seperti lampion yang berjejer rapi menggantung di dahan dan ranting pohon.

Setelah berfoto banyak dan mengisi lembar kehadiran, ada hal unik yang saya dapatkan. Berjalan di antara dedaunan yang seperti semakin tinggi semakin merunduk. Teman-teman guru telah lebih dulu beberapa detik masuk dan melepas alas sepatu. Dan, saya kembali menemukan hal unik yang lain. Yaitu saat menyusun sepatu bukan pada rak. Tetapi meletakkannya tepat di tengah blok-blok batu yang berjejer rapi di depan bangunan yang akan kami masuki. Posisi sepatunya juga harus menghadap keluar agar tidak perlu berbalik badan lagi saat akan memakai kembali alas kaki.


Hampir di setiap sudut di tempat ini penuh dengan buku-buku. Juga tumbuhan-tumbuhan yang baru kukenal namanya. Kereeeen! Masyaallah. Allah seperti meletakkan sepercik surganya di sini.


Kak Darmawan lalu mengarahkan kami untuk memulai menulis. "Buatlah tulisan minimal tiga paragraf tentang kunjungan kalian ke tempat ini. Boleh dimulai saat berangkat atau tiba di tempat ini. Bisa dikirim melalui japri WA, ya." Kami menulis di note hape masing-masing.


Kami berkunjung pada hari ahad (24/03), tepat di hari ketiga rangkaian kegiatan Workshop Pembekalan Sekolah Guru Indonesia (SGI) Literat yang sebelumnya digelar di Aula JILC Perintis selama dua hari, yaitu Jumat dan Sabtu (22-23/03) bersama dengan guru yang berasal dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan yang berjumlah 30 peserta guru seleksi.

BAGIAN KEDUA

Manisnya Labu Kuning, Manisnya duduk di Denassa. Awalnya, saya sangsi memakan sayur tanpa kuah. Berteman dengan kelapa parut, rupanya, rasa labu kuning itu manis dan gurih. Itu adalah kali pertama saya memakan labu yang disebut sebagai kue. Kami melingkar dan kak Darmawan menaiki anak tangga satu persatu lalu berteriak, "buatlah lingkaran sempurna dan kita berfoto." Perintahnya sambil memegang hape dari atas tangga. Teman-teman guru lalu menyebut aksi tersebut sebagai drone alami. :D

Kue labu itu merupakan makanan khas kabupaten Takalar yang kalau bisa dikata, masih dicukup sedikit yang mencobanya. Sebab, biasanya labu dijadikan sebagai sayuran, disantan atau dimasak bening.


Perjalanan kami lalu berlanjut menuju ke sawah. Sepanjang mata melihat, gambaran sawah nyaris seperti lautan yang berwarna hijau. Perjalanan kaki ditempuh kurang lebih satu kilometer. Berjalan bersama, sebaris, dan seru sekali. Kami menjumpai beberapa warga yang meyambut kami dengan senyum yang mekar. Ada yang duduk makan di pinggir sawah melepas lelah, ada juga yang sedang memisahkan padi dengan batangnya. Beberapa anak juga melambaikan tangan ketika saya berujar salam kepada mereka. Bukan hanya itu, seekor monyet juga tidak melepas pandangannya dari kami sampai akhirnya saya mengambil gambarnya, ia langsung loncat, tidak meninggalkan jejak.


Amunisi kami untuk ke sawah selain niat dan kesungguhan untuk belajar adalah tumbler berisi air minum yang telah diisi dengan setumpuk es batu.

Kami tiba dan disambut dengan sebuah tulisan "Selamat Datang di Sawahku". Ya. Tempat terbaik di muka bumi ini adalah tempat yang orang-orangnya menyambut baik kehadiran kita dan Denassa mampu menunjukkannya sejak awal.

"Bisa malu kalau angin kencang. Bukan hanya ketika disentuh oleh manusia saja." Ujar Kak Darmawan sambil memperlihatkan kepada kami daun putri malu yang telah dipetik. Lalu ada yang bertanya tentang alasan mengapa putri malu seperti itu. "Itu adalah caranya  menyelamatkan drari dari hewan sapi, kambing, serangga, dan lain-lain."

Momosa adalah nama latin dari putri malu. Akarnya memiliki bintil dan kandungannya sama persis dengan kedelai. Bintil itulah yang memicu pembuahan. "Akarnya bisa dikeringkan dan diseduh untuk menjadi teh. Bermanfaat untuk menyembuhkan radang tenggorokan." Kami takjub. "Waw!"

Kedua adalah keong emas yang rupanya adalah hama bagi padi. Hingga bahkan, ketika dikumpulkan akan dihancurkan demi menjaga padi dari hama. (gambar keong emas diambil dari pencarian google, gambar yang saya ambil terhapus di hape. Hiks)

Selanjutnya, kami diajak untuk menanam padi lalu ditunjukkan cara menanamnya dengan menggunakan jari telunjuk dan jari tengah untuk mendorong bibit padi hingga masuk ke tanah dengan sempurna. "Jangan lupa, tiga batang saja." Ujar Daeng Taba yang menuntun kami. Beliau adalah salah satu tim RHD pada bagian "Sawahku".


Oleh kak Darmawan, kami lalu diajak mengulang kembali masa kecil dengan membuat hewan dari tanah liat. "Sapi-sapi" namanya. Saya menerima tanah liat dari salah satu tim RHD yang berbaik hati menggenggam langsung dari sawah memberikannya kepada saya.

Tidak perlu tanah liat yang banyak. Secukupnya saja untuk membentuknya menjadi sapi. Tapi, jadinya mungkin lebih mirip dengan gajah, ya? Wkwkw. "Tidak apa-apa. Memang bukan hanya bisa dibentuk sapi. Bisa membentuk hewan atau benda apa saja." Kak Darmawan menenangkan.

Kami berkumpul di bawah sebuah gubuk (mungkin), berteduh dan Kak Darmawan memberikan pengetahuan mengenai jenis-jenis literasi dasar. Mulai dari literasi sains yang sedang kami pelajari, yaitu ilmu tentang sawah, ekosistem yang ada di dalamnya, literasi numerik, literasi finansial, literasi digital, hingga literasi budaya dan kewargaan. Menarik sekali.


Kami pulang dengan tidak berjalan kaki lagi. Tetapi mobil pick up dan bus datang menjemput. Baik sekali mereka, ya. Rombongan pertama naik mobil pick up, sedang rombongan kedua naik bus. Saya dan beberapa teman guru yang lain naik bus.


Kami kembali ke RHD dengan banyak ilmu di kepala. Alhamdulillah.

Setelah berlelah, nikmat mengisi kampung tengah adalah kenikmatan selanjutnya. Aih, semua menunya andalan. Ikan kering, rumput laut, sambal, tahu balado, kerang, dan sayur bening. Tetapi, kami tidak langsung makan. Walau makanan telah mengoda di hadapan, Kak Darmawan memberikan sebuah pernyataan yang keren. Beliau menjelaskan semua manfaat dari nasi dan lauk yang akan kami makan bersama. Pun lengkap dengan perjalanan mereka hingga tiba di hadapan. Bagaimana para petani begitu giat dan gigih menanam hingga akhirnya selama tiga bulan siap untuk dipanen, dipisahkan dari kulit gabah, hingga dimasak menjadi nasi. "Saya berjanji tidak akan menyisakan makanan walau hanya sedikit." Kak Darmawan meminta kami umtuk menyebutnya bersama-sama sebagai bentuk syukur kita kepada Allah yang telah memberikan banyak kebaikan. "Silakan baca doa."

Ternikmatttt.


Betapa baik Allah. Betapa Maha Baik Dia. Rezeki memang tak melulu soal materi dan uang. Sebab bahagia, syukur, adalah hal yang paling emas dan merupakan bentuk rezeki yang tak bisa diujar dengan kata-kata.

(Makassar, 24 Maret 2019)

*BAGIAN KETIGA tentang "Kekayaan Hayati RHD" bisa dibaca pada postingan selanjutnya

TENTANG YANG BERNILAI AKHIRAT; Tenang, Ikhlas, dan Ingat Allah


"Silakan dipejamkan matanya dan kumpulkan semua peristiwa menyakitkan di masa lalu. Kemudian rasakan, perasaan apa yang datang." Suara lembut itu terdengar menyentuh hati, mengarahkan seluruh pikiran saya, guru lainnya, dan pegawai untuk mendengarkan.
Sebagai manusia biasa yang tak dapat lari atas salah dan luka, masing kita pasti memiliki masa lalu yang menyakitkan. Masing kita memiliki masa lalu yang luka dan penuh liku. Maka tidak butuh lima detik, tangisan terdengar sesekali dari banyak suara orang-orang. Kami kemudian seperti merasa sangat rendah sekali sebab pernah menjadikan peristiwa menyakitkan masa lalu menghuni hati-hati kami pada banyak tahun. Kami kemudian merasa begitu bodoh membiarkan rasa marah, benci, takut, dan perasaan negatif lainnya hidup di pikiran kami. Pernah hidup menetap di dalam hati kami.
"Sekarang, taruh tangan kanan kalian di atas dada dan elus pelan-pelan. Dan katakan, 'Rodhitu billahi robba, wabil islami diina wabimuhammadinnabiyya warosuula." Suara itu kembali terdengar, menuntun kami lalu menyebut artinya dengan lembut, penuh ketulusan, "Ya Allah, aku ridha Engkau menjadi Rabbku, aku ridha Islam adalah agama kami, dan aku ridha Muhammad adalah Rasul kami."
Aih, apalah kita ini. Sangat kerdil di hadapan Allah. Hanya bagian kecil dari kehidupan dan lantas dengan begitu jahat membiarkan diri menjadi sombong sekali di hadapan Allah dengan tidak mengikhlaskan masa lalu yang menyakitkan.


"Ikhlaskan, katakan pada Allah bahwa kita ridho atas setiap takdirNya. Maafkan semua peristiwa masa lalu yang menyakitkan hati kita. Maafkan. Ikhlaskan." Suara itu terdengar lagi. Seperti bisikan-bisikan yang tak bisa dihidari.
Maka air mata kami semakin tumpah. Tangan juga ikut sibuk menarik tissue di depan kami masing-masing. Atau kalau ada yang belum mempersiapkan, tangan dan kain jilbab bisa menjadi penampung air mata yang cukup baik.
“Astagfirullah, astagfirullah, astagfirullah.” Suara itu kembali menuntun kami. Suaranya penuh dengan kebaikan. “Ucapkan kalimat istigfar dengan sungguh-sungguh. Ucapkan dengan sungguh-sungguh. Mohon ampun pada Allah.”
Lalu tangis kami semakin berulah saja. Rasa-rasanya tidak memiliki tombol untuk sedikit meredam tangisnya. Atau sekadar berhenti sejenak walau senapas.
Betapa, perasaan kami menjadi sangat damai sekali. Setelah memaafkan, setelah merelakan, setelah mengiklaskan, setelah ridha atas peristiwa masa lalu, kami mengikhlaskan semua yang telah Allah takdirkan.
Ketenangan duniawi yang bernilai akhirat hanya bisa didapatkan ketika hati kita tenang, ikhlas atas setiap yang Allah takdirkan, dan senantiasa berdzikrullah, mengingat Allah. Sebab dengan selalu berdzikrullah, akan mengalir dalam diri kita ketenangan.
"Hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang." Demikian Allah menyampaikan NashNya yang mulia dalam QS. Ar-Ra'du ayat 28.
Adalah Coach Gunawan, lelaki berpostur tinggi cukup besar, berjanggut cukup lebat tak panjang, berambut rapi yang beliau katakan dengan nada yang bercanda kalau rambutnya hanya dicukur di tempat terbaik di Muka Bumi, Makkah Al-Mukarramah. Beliau senang sekali bercanda di tengah keseriusan kami mendengarkan materi. Kadang, beliau bisa menjadi cukup tega berteriak keras kalau kami tidak bisa menjawab pertanyaannya atau ada hal-hal yang cukup menggelisahkan hatinya sebab kami. Tapi sungguh, "Ana uhibbukum fillah. Sungguh, saya sangat mencintai kalian." Itu adalah kalimatnya yang paling syahdu di setiap sesi pertemuan. Dan dengan suara yang cukup tinggi, beliau melanjutkan, "Kita ingin melihat sekolah ini bukan sekadar menjadi Nurul Fikri (cahaya berpikir), tetapi juga Nurul Qalbu (cahaya hati), Nurul Iman (cahaya iman), dan Nurul Zaman (cahaya zaman)!" Sejenak, beliau terdiam menatap kami satu persatu. "Kita akan sama-sama membentuk generasi Rabbani yang cinta kepada Rabbnya, yang cinta pada Rasulullah dan Sunnahnya."
Kemudian, beliau melanjutkan, "Pahamilah bahwa setiap peristiwa pasti Allah datangkan atas izinNya. Yakinilah bahwa setiap kejadian pasti membawa kebaikan. Dan sadarilah bahwa setiap peristiwa adalah ladang amal bagi kita, ia akan menghadirkan amal baik dalam hidup kita." Kembali, beliau terdiam sejenak menatap kami. Entah mengapa, kali ini tubuh kami seperti dipaku atau menjadi seperti batu. Kami tak berkutik.
"Jadi sebenarnya, yang menjadi masalah dalam hidup kita adalah hubungan kita kepada Allah. Bukan kepada yang lain. Kita tidak tenang karena kita tidak ingat sama Allah. Akhirnya tidak ada ikhlas dalam hati kita menerima takdirNya. Kita belum mengenal masalah yang ada dalam diri kita, belum memahami bahwa masalah kita itu sama Allah. Sama Allah! Bukan sama yang lain!"
Kami terdiam. Lagi. Kali ini rasanya seperti anak panah yang melaju dan tepat pada sasaran kepada kami.
"Benar, tidak?"
Kami diam. Seperti diamnya seorang wanita ketika dimintai pendapat, kami menerima keputusan itu.
Beliau kemudian mengingatkan kepada kami kembali bahwa peristiwa yang kita miliki di dunia ini ada dua hal. Yaitu peristiwa negatif dan yang kedua adalah peristiwa positif. Dan setiap peristiwa yang ada pasti akan mendatang hikmah. Bukan satu atau dua hikmah tetapi hikmah yang berlapis-lapis. Lapisannya tak pernah habis-habis. Berkahnya menebar-nebar. Hikmah yang penuh dengan kebaikan. Hikmah yang harus pandai-pandai kita deteksi sebagai hal yang luar biasa yang Allah datangkan pada kita. Yang kemudian bisa kita syukuri dengan alhamdulillah yang banyak. Yang kemudian bisa kita ingat dengan astagfirullah yang melangit.


Hikmah itu menghadirkan ketenangan, menghadirkan ketentraman, sakinah. Dalam satu peristiwa luka, ada jutaan hikmah dari Allah. Sebab Dialah yang Maha atas segala Maha. Dialah yang memberi kita hikmah berupa petunjuk setiap saat. Dalam satu peristiwa duka, ada jutaan kebaikan yang akan Allah datangkan. Sebab Dialah yang Maha Agung atas KeAgunganNya. Dialah yang tak memberi batas atas setiap Nikmat yang kita rasakan.


(Makassar, 22 September 2018)

Pengabulan Allah

Kita tidak pernah tahu, bisik hati mana yang akan Allah kabulkan. Kita tidak pernah tahu doa dari siapa yang akan Allah indahkan. Dan kit...