Senin, 25 Maret 2019

Tentang Batas


Setiap kita pernah bertemu dengan orang-orang baru, lantas waktu menjadi sangat baik menjadikan kita memiliki perbincangan yang baik. Tentang pekerjaan atau hal lainnya. Tetapi setelah perbincangan itu selesai, maka waktu juga akan menjadi diam. Sisanya, hanya bisa mengingat-ingat perbincangan apa yang masih singgah di kepala. Atau bahkan, jika berbincang sambil membawa perasaan, maka ingatan akan kuat membekas.

Perjumpaan telah bekerja sebagaimana mestinya, tetapi juga ingatan akan bekerja dengan kuat sekali. Ia akan mengingat perihal perjumpaan yang baik yang kemudian menjadikan perjumpaan itu dirindukan. Tetapi wujud perjumpaan yang dilakukan adalah bukan dengan berjumpa secara tatap muka lalu kemudian akan berbincang banyak hal, berdua. Bukan demikian. Perjumpaan yang satu ini adalah perjumpaan untuk saling mempertemukan, menyatukan ruh-ruh yang sebelumnya tidak berjumpa.

Perjumpaan selanjutnya yang dimulai dengan doa-doa yang melangit kepada Allah. Dengan bahasa lain, jika ingin menjadi dekat dengan makhlukNya, maka dekatilah penciptaNya terlebih dahulu. Siapakah dia selain Allah yang Mulia, yang Maha Pemilik Hati Manusia, yang Maha Membolak-balikkan hati manusia?

Tetapi, untuk memulai, hal apa yang harus diperbincangkan sementara hal yang musti dibincangkan telah usai masanya? Lagipula, berat sekali rasanya untuk kemudian memulai tanpa harus terlebih dahulu memulai berbincang dengan Allah. Kadang, sebelum  ingatan-ingatan itu benar menjadi ada lalu menetap, kita sering kali merasa takut untuk membayangkannya benar-benar terjadi. Takut untuk kemudian tidak lagi melakukan perbincangan apapun.. Padahal semua perasaan  itu, perasaan yang jatuhnya terdapat syahwat berasal dari setan jika kita tidak bisa mengontrol diri dengan baik. Hati kita milik Allah, kita hanya dititipi, jadi kita juga harus dengan bijak menaruhnya di tempat yang tepat, harus dengan baik menyimpannya dengan sungguh pada sesuatu.

Perbincangan usai dan hanya menyisa apa yang bisa dibaca dan diingat. Selalu sesederhana itu ketika kita memilih untuk tidak memulai lagi lebih dulu dan menarik perbincangan yang lain untuk saling duduk bersama. Bukan berat karena pembahasannya, tetapi lebih dari itu. Ada batas yang tidak boleh dilalui. Ada penyangga yang tidak boleh dilintasi. Ada tirai yang kemudian menjadi penghalang.

Ialah untuk menjaga sebongkah daging di dada. Yang Rasulullah ajarkan, yang apabila sebongkah daging itu baik, maka baiklah seluruhnya. Kita harus benar-benar menjaganya.

Pertanyaan Cinta

Setan itu akan mewujudkan dirinya menjadi apa saja yang dia inginkan karena memang dia telah disepakati maunya oleh Allah untuk mengooda manusia-manusia untuk jauh dari kebenaran. Bahkan, godaannya itu bukan hanya dibisikkan kepada orang dewasa saja. Tetapi bagi semua orang baik ketika imannya sedang kuat-kuatnya terlebih kepada manusia yang telah jauh hari berhasil untuk terus digoda. Pun kepada anak-anak. Kekuatan godaan mereka juga sangat kuat di sana. Itulah pentingnya menanamkan hal-hal yang baik kepada anak-anak , memberikan mereka pemahaman-pemahaman tentang ilmu agama yang seharusnya mereka tahu sejak kecil. Setan paling senang menggoda anak-anak. Bahkan seringkali muncul di hadapan mereka. Mengaku sebagai teman bagi anak-anak.

Agustus dua ribu enam belas..
"Ibu guru, kenapa kalau saya sedang main sama teman, di hati saya seperti ada yang sedang berbicara bilang 'Pergilah belajar! Pergilah belajar!'." Murid saya yang akrab disapa Cinta tiba-tiba mendekat.

Waktu itu, jam pelajaran di sekolah sudah selesai semua. Siswa yang lain bahkan telah pulang menggandeng tas masing-masing dengan wajah ceria ingin kembali bertemu dengan ayah dan ibu di rumah.

Saya mendapati pertanyaan Cinta dengan wajah yang bingung. Tangannya sibuk merapikan buku-buku dan memasukkannya ke dalam tas.
Saya memberikan senyuman terbaik. “Sini, mendekat dengan Ibu.”

Maka Cinta mendekat. Wajahnya yang mirip bule’ dengan kulit yang putih dan rambut pirang didekatkan di wajah saya.

"Itu artinya, ada malaikat yang membisiki hati Cinta ke arah kebaikan." Saya ikut  mendekatkan wajah lebih dekat, "Cinta, kalau ada yang ajak berbuat  baik, mau?"

Dia mengangguk pelan.

Saya menarik tubuh dan bersandar di punggung kursi. "Nah. Belajar itu, kan baik. Jadi malaikat tidak mau kalau Cinta terus-terusan main." Saya memasang wajah yakin. "Main boleh. Asal jangan terlalu. Belajar juga penting sekali."
Dia menggangguk lebih cepat.

"Sebaliknya, kalau Cinta terus-terusan main, itu justru ada yang menggoda." Saya tersenyum sebentar. Saya melihat wajah Cinta berubah penasaran. Dia tersenyum kecil-kecil menunggu jawaban lanjutan dari saay.
“Setan.”

Wajah Cinta tiba-tiba berubah, “Hii.” Dia bergidik ketakutan.

"Jadi Cinta mau belajar atau main terus?" Saya memberikannya pilihan.

"Belajar, Bu." Jawabnya mantap, kepalanya mengangguk dan suaranya agak dibesarkan.
"Nah, gitu!" Saya menaikkan jempol tangan sebagai wujud apresiasi atas pilihannya.
Saya pikir jawabannya sudah tuntas dan sudah cukup mampu memahamkannya perihal pertanyaannya. Ya, dia sudah benar-benar paham. Selanjtnya giliran saya yang merapikan dan memasukkan barang-barang ke dalam tas.
"Ibu guru!" Dia memanggil lagi dengan wajah bingung.

"Hm?”

"Saya juga pernah mimpi Bapak saya kecelakaan saat mau pergi menjual di pasar." Saya lalu menatapnya. Saya pikir Cinta akan memberi salam dan berpamitan pulang.

Ayah Cinta memang adalah seorang pedagang rempah-rempah di pasar yang tidak cukup jauh dari sekolah. Saya tahu karena pernah diberi sebungkus rempah-rempah; bawang-bawangan, dan teman-temannya. Lengkap dengan arahan, "Kalau misal Ibu ke pasar, silahkan singgah di kios saya, ya, Bu." Ayah Cinta memberi tahu.

Kalau saya mengingat-ingat, Cinta lebih mirip wajah ayahnya ketimbang Ibunya. Kulitnya dari Ayahnya. Matanya juga, hampir terlihat seperti garis tiga senti meter yang sempurna ketika tersenyum.

"Maksudnya kecelakaan bagaimana?" Gantian, saya yang berubah bingung. Tepatnya penasaran.
"Jatuh dari motor, Bu." Cinta menjelaskan mimpinya.

Saya kemudian menimbang-nimbang jawaban. Mencari jawaban terbaik untuk anak seusianya. Kalau jawaban saya tidak tepat, tentu jawaban itu akan berbuah tanya-tanya yang semakin berkembang, bercabang-cabang.  "Itu artinya, kalau Bapak Cinta ke pasar, Cinta harus sudah bangun. Doakan Bapak biar selamat di jalan. Pulang juga selamat sampai rumah." Saya tersenyum. Mata saya ikut tersenyum, menyipit kecil-kecil.

Dia mengangguk, "Iya, Bu."

"Karena doa itu yang akan menyelamatkan Bapak Cinta dari hal-hal yang tidak baik. Bukan hanya kecelakaan saja."

"Cinta mau doakan Bapak, kan?"

"Iya, Bu."

"Jadi kalau Bapak Cinta ke pasar, Cinta mau bangun lebih awal?”

Dia mengangguk dan tersenyum. Wajahnya yang berseri-seri lalu menyalami tangan saya dan berpamitan pulang.

Demikianlah anak-anak dengan banyak sekali pertanyaan di kepalanya. Tetapi, mereka adalah ladang amal yang paling luas bagi kita, bagi guru.

(Cinta adalah murid saya ketika mengajar di SD Berbantuan Bungaya 2016 lalu)

Berlapis Hikmah; Jejak-jejak Peradaban, Jejak-jejak Ketenangan


Duduk bermajelis ilmu adalah duduk-duduk penuh makna. Duduk-duduk ibadah. Duduk-duduk yang dibersamai para malaikat yang tengah membentangkan sayapnya sebagai tanda keridhaan Allah dan ridhonya atas orang-orang yang menuntut ilmu.

"Barangsiapa yang menempuh jalan menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju Surga." Hadis yang Rasulallah saw. sebut itu kemudian dicatat oleh Imam Muslim dan Imam Baihaqi.

Duduk berdirinya kita, duduk dan berbaringnya kita, duduk dan berlarinya kita, insyaallah semuanya penuh dengan hikmah. Bukan satu atau dua, bukan hitungan jari, tetapi berlapis-lapis, bertumpuk-tumpuk.

"Al arwahun junuudummujannadah. Famaa ta'aarofa minhaa i'talafa, wamaa tanaa karoo minha ikhtalafa." Sabda indah Rasulullah saw. tersebut dicatat oleh Imam Muslim dan Imam Bukhari. Dan kali pertama telinga saya menjumpainya adalah juga saat pertama kali menonton video Ustadz Salim A. Fillah beberapa tahun yang lalu. Bahwa ruh-ruh itu akan saling mencari dengan yang sepakat dengannya. Laiknya tentara yang berkumpul sebab visi yang sama. Selama saling mengenal, kodenya nyambung, walau bahkan terhalang oleh bukit, maka ruh-ruh itu, jiwa-jiwa itu akan saling menyatu. Tetapi apabila ruh-ruh, jiwa-jiwa  saling berselisih, kodenya tidak nyambung, maka ruh-ruh kita tidak akan saling menyatu.

Demikianlah. Demikianlah maknanya. Demikianlah resonansi bekerja pada tokoh, ruang, dan waktu.

"Pemimpin berbeda jauh dengan kepemimpinan. Maka yang akan kita ciptakan adalah mewujudkan kepemimpinan global. Kepemimpinan yang berdasar pada peradaban bangsa Islam. Sebab, jika visi kita hanya menjadi pemimpin, maka itu hanya akan bisa dihitung jari dan hanya pada orang-orangnya, bukan pada peradabannya." Kurang lebih, begitu tutur Coach Gunawan begitu membuka kajiannya hari itu (07/10).

Tentu, kita sama-sama berharap bahwa ummat Islam akan menjadi penggerak pertama dan utama. Tentu kita berharap bahwa calon-calon kepemimpinan atas kebangkitan peradaban Islam adalah berasal dari anak-anak kita. "Sungguh kebangkitan Islam akan bermula dan datang dari arah Timur." Ujar Dr. Abu Bakr Al-'Awawidah, Wakil ketua Rabithah Ulama Palestina. Kalimat itu berasal dari sabda Rasulullah saw.

"Beliau menyebut demikian sebab melihat potensi ummat Islam begitu besar di Indonesia." Begitu kalimat yang disimpulkan oleh Direktur Tarbiyah di sekolah tempat saya mengajar. "Maka Indonesia yang menjadi salah satu negara yang berada di bagian Timur dinilai sangat berpotensi. Insyaallah, dari Indonesia akan lahir peradaban dan cahaya Islam. Lahir calon-calon pemegang amanah Islam ke depannya." Tambahnya.
Lalu, yang kemudian harus kita lakukan adalah memperkuat azzam kita untuk terus memantaskan diri memegang amanah yang indah itu. Amanah untuk membentuk calon-calon pemegang peradaban Islam.

Penguatan Sejarah Islam dan Sastra kemudian menjadi wacana besar yang akan memperkuat ruhiyah kita untuk mendidik diri dan anak-anak kita, murid-murid kita. Ia akan mewujud menjadi seindah-indahnya ilmu, semanis-manisnya teman duduk.

Mengapa sejarah? Sebab orang yang bisa memenangkan masa depan adalah orang yang memenangkan sejarah. Lalu, mengapa harus sastra? Sebab Quran, sebab bahasa arab itu indah. Ia akan merasuk ke dalam dada-dada kita, dalam hati dan pikiran kita, memberikan ketenangan. Itulah mengapa ada yang menyebut kalimat: "Pelajarilah sastra. Sebab sastra dapat melembutkan hati, membuat berani." Masyaallah.
Indahnya lisan kita akan senantiasa mencerminkan indahnya fiqrah dan qalbu. Indahnya lisan kita akan senantiasa mengindahkan akhlak kita, amalan kita. Sebab, Rasulullah saw. pernah berkata, "Ada segumpal daging di dalam tubuh manusia, yang jika segumpal daging itu baik, maka akan baiklah seluruhnya."

Dalam hal ini, qalbu yang dimaksud adalah bukan organ lever. Tetapi segumpal daging itu ialah hati, jantung. Kita benar harus menjaganya. Kita benar harus mengarahkannya kepada kebaikan-kebaikan. Sebab sehatnya jantung, sehat pula pikiran kita. Pikiran sehat, sehat pula tubuh kita. Sehat tubuh kita, sehat pula fokus kita pada kebaikan.

Allah memberikan kita kitab Alquran sebagai petunjuk, sebagai pengarah. Di sana, bermula dari kitab Injil, lalu Zabur, Taurat, lalu kemudian sang pencerah bagi rahmatan lil 'alamin, Alquranul Karim. Kesemuanya adalah bentuk-bentuk kebaikan Allah yang jika kita membacanya, mengerti, meyakini, dan menyadarinya, maka perasaan tenang akan merasuk ke dalam hati kita, pikiran kita, akhlak kita.

Peristiwa yang terjadi dalam hidup kita telah tertakdirkan dengan apik oleh Allah. Peristiwa luka, juga duka. Peristiwa bahagia, juga gundah. Namun, satu hal yang harus kita yakini adalah bahwa Allah akan mendatangkan banyak hikmah di dalamnya. Hikmah yang akan kita rasakan hanya ketika kita merasa tenang, ikhlas, dan ingat Allah. Namun, mengingat Allah tidak semata hanya dalam hal peristiwa. Juga dalam amal. Pula dalam hati.

"Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang" Kalimat Allah yang indah itu tercatat dalam QS. Ar-Ra'du ayat 28.
Di sisi lain, ketika hati kita tenang dalam perjalanan menujuNya, ketika malaikat Maut datang menunaikan tugasnya, Allah berseru:
“Ya ayyuhan nafsul muthmainnah, irji’i ila rabbiki radhiyatam mardhiyyah (wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati puas lagi diridhai-Nya),” Begitu nantinya Allah akan memanggil kita sebagai jiwa yang Khusnul Khatimah yang kemudian bisa kita temui dan pahami maknanya dalam QS. Al-Fajr, ayat 27-28.
Selain mati dan azan shalat, salah satu peristiwa hati yang akan terus mengingatkan kita pada ketenangan adalah perjalanan haji dan umrah. Perjalanan meninggalkan dunia menuju kepada akhirat. Perjalanan yang selalu mengingatkan untuk senantiasa menjadikan aktifitas kita di atas bumi bernilai langit, bernilai akhirat, bernilai telaga kautsar.

Kain ihram mengajarkan kita untuk merasakan akhirat lebih berharga daripada dunia. Mengajarkan untuk mencabut dunia dari hati kita. Mengajarkan untuk senantiasa merasa bahwa diri kita yang bumi ini untuk selalu merasa rendah hati. Mengajarkan kita bahwa dunia bukanlah tempat berbangga-bangga. Menuntun untuk secara alami melepaskan seluruh simbol-simbol duniawi. Padahal Allah memandang kita dengan derajat yang sama. Tiada beda, terkecuali takwa kita padanya.

Tawaf mengajarkan kita bahwa hidup tidak pernah lepas dari Allah. Selalu dalam pengawasanNya. Senantiasa mengajarkan kita bahwa hidup ini seperti pusaran air yang terus berputar, selalu berjalan, untuk kemudian mendekatkan kita kepada Allah yang Mulia. Allahu Akbar!

Sedangkan Sai, mengajarkan kita untuk lapang menerima dan menjalani apapun dengan yang telah digariskan oleh Allah, yang telah menjadi ketentuanNya, yang telah tercatat dalam takdirNya. Hingga menjadikam niat-niat kita menjadi niat surga sebagai akhir dari upaya yang dilakukan bersebab karena Allah dan Rasulullah saw. Allahumma sholli 'alaa muhammad.
Sehingga Kain Ihram mencerminkan "ketenangan", tawaf menggambarkan "ingat Allah", dan Sai melukiskan "ikhlas" kita.
"Sungguh, Allah tidak pernah salah pilih, tidak salah pundak, menempatkan kalian di sekolah ini. Sebab Allah percaya kalian adalah bagian dari perjuangan ini. Perjuangan islam di masa yang akan datang untuk menciptakan generasi kepemimpinan yang berperadaban, yang berpengaruh, yang menjadikan dunia sebagai serendah-rendahnya harapan." Kalimat ini pernah diujar oleh Ayah Tono, ketua Yayasan sekolah dan Coach Gunawan.

Di akhir sesi pada lingkar surga itu, Coach Gunawan mengajak kita untuk memantaskan diri. Mengajak kita untuk menemui tempat yang penuh dengan resonansi. Yang memiliki tokoh, ruang, dan waktu. Semisal mengunjungi Makkah dan Madinah, mengunjugi makam Rasulullah saw dan para sahabatnya. Semisal kisah penaklukan Kota Konstantinopel oleh Muhammad Al-Fatih yang setelah Rasulullah saw, ialah sebaik sebaik-baik raja, sebaik-baik pemimipin, dan pasukannya ialah sebaik-baik pasukan.

Allah lah yang telah mempertemukan dan memperjalankan kita ke jalan yang baik, yang lurus dengan luka dan likunya sebagai konsekuensi atas keimanan kita.
"Mengapa kita dikumpulkan di sini?" Tanya Coach Gunawan dengan mata yang sudah berkaca-kaca, hendak menumpahkannya namun begitu berusaha ia tahan. Lalu dengan nada rendah, seperti sedang berusaha mengumpulkan energi, beliau berkata, "Kita dikumpulkan di sini untuk nantinya dipanggil oleh Allah dengan sebutan "Ya ayyuhan nafsul muthmainnah", "Ya ayyuhan nafsul muthmainnah", "Ya ayyuhan nafsul muthmainnah". Wahai jiwa-jiwa yang tenang, wahai jiwa-jiwa yang tenang, wahai jiwa-jiwa yang tenang." Beliau diam sejenak.
Sungguh, haru sekali waktu itu.

Beliau kemudian berbicara dengan sepenuh hati, "Semoga Allah mempertemukan kita di Baitullah, semoga Allah mempertemukan kita di Padang Masyar bersama Rasulallah saw." Kali ini, kantung matanya tak mampu lagi menampung air mata. Ia tumpah.

Masyaallah. Sungguh, sebuah kesyukuran besar Allah telah menakdirkan hal-hal baik dalam hidup kita. Sungguh, sebuah berkah yang banyak Allah telah menggariskan kita berada dalam sebuah garis perjuangan. Sungguh, adalah berlapis-lapis hikmah yang tak terhingga sebab Allah telah menjadikan setiap peristiwa, setiap amal, setiap hati kita penuh dengan kebaikan.
Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillahirabbil 'alamiin.
"Anaa uhibbukum fillah. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh." Ujar Coach Gunawan mengakhiri pertemuan.

MAKASSAR, 07 Oktober 2018.

Sepercik Surga di Rumah Hijau Denassa (Bagian 1 dan 2)


BAGIAN PERTAMA
Suasana pedesaan. Itulah isi kepala saya pertama kali saat memasuki halaman "Rumah Hijau Denassa". Sejuk dan teduh. Suara teman-teman guru sudah gemuruh dan riuh. Rupanya, ada yang menarik perhatian. Kami diberikan caping berwarna hijau dan meletakkannya di kepala. Mata saya lalu tertuju pada sebuah tulisan "Selamat Datang di Rumah Hijau Denassa". Lengkap dengan pisang yang bertandang-tandang di sisiannya. Buku-buku berjejer rapi memanggil untuk segera dinikmati isinya yang tentu bergizi. Sarapan yang enak. Tetapi, tak ada waktu melahapnya.


Tempat ini pertama kali saya dengar saat salah satu teman berkunjung ke sini dalam rangka temu penulis Makassar beberapa bulan yang lalu. Tetiba saya penasaran. Dan akhirnya, Allah rupanya menjadikan itu sebagai doa dan berbuah pengabulan. Ya, saya berada di sini hari ini. Sebuah kampung literasi yang luar biasa sekali. Semua bibir merekah menyambut, seperti bunga-bunga yang tumbuh di sekitarnya. Pun hati mereka bewarna-warni, mirip seperti lampion yang berjejer rapi menggantung di dahan dan ranting pohon.

Setelah berfoto banyak dan mengisi lembar kehadiran, ada hal unik yang saya dapatkan. Berjalan di antara dedaunan yang seperti semakin tinggi semakin merunduk. Teman-teman guru telah lebih dulu beberapa detik masuk dan melepas alas sepatu. Dan, saya kembali menemukan hal unik yang lain. Yaitu saat menyusun sepatu bukan pada rak. Tetapi meletakkannya tepat di tengah blok-blok batu yang berjejer rapi di depan bangunan yang akan kami masuki. Posisi sepatunya juga harus menghadap keluar agar tidak perlu berbalik badan lagi saat akan memakai kembali alas kaki.


Hampir di setiap sudut di tempat ini penuh dengan buku-buku. Juga tumbuhan-tumbuhan yang baru kukenal namanya. Kereeeen! Masyaallah. Allah seperti meletakkan sepercik surganya di sini.


Kak Darmawan lalu mengarahkan kami untuk memulai menulis. "Buatlah tulisan minimal tiga paragraf tentang kunjungan kalian ke tempat ini. Boleh dimulai saat berangkat atau tiba di tempat ini. Bisa dikirim melalui japri WA, ya." Kami menulis di note hape masing-masing.


Kami berkunjung pada hari ahad (24/03), tepat di hari ketiga rangkaian kegiatan Workshop Pembekalan Sekolah Guru Indonesia (SGI) Literat yang sebelumnya digelar di Aula JILC Perintis selama dua hari, yaitu Jumat dan Sabtu (22-23/03) bersama dengan guru yang berasal dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan yang berjumlah 30 peserta guru seleksi.

BAGIAN KEDUA

Manisnya Labu Kuning, Manisnya duduk di Denassa. Awalnya, saya sangsi memakan sayur tanpa kuah. Berteman dengan kelapa parut, rupanya, rasa labu kuning itu manis dan gurih. Itu adalah kali pertama saya memakan labu yang disebut sebagai kue. Kami melingkar dan kak Darmawan menaiki anak tangga satu persatu lalu berteriak, "buatlah lingkaran sempurna dan kita berfoto." Perintahnya sambil memegang hape dari atas tangga. Teman-teman guru lalu menyebut aksi tersebut sebagai drone alami. :D

Kue labu itu merupakan makanan khas kabupaten Takalar yang kalau bisa dikata, masih dicukup sedikit yang mencobanya. Sebab, biasanya labu dijadikan sebagai sayuran, disantan atau dimasak bening.


Perjalanan kami lalu berlanjut menuju ke sawah. Sepanjang mata melihat, gambaran sawah nyaris seperti lautan yang berwarna hijau. Perjalanan kaki ditempuh kurang lebih satu kilometer. Berjalan bersama, sebaris, dan seru sekali. Kami menjumpai beberapa warga yang meyambut kami dengan senyum yang mekar. Ada yang duduk makan di pinggir sawah melepas lelah, ada juga yang sedang memisahkan padi dengan batangnya. Beberapa anak juga melambaikan tangan ketika saya berujar salam kepada mereka. Bukan hanya itu, seekor monyet juga tidak melepas pandangannya dari kami sampai akhirnya saya mengambil gambarnya, ia langsung loncat, tidak meninggalkan jejak.


Amunisi kami untuk ke sawah selain niat dan kesungguhan untuk belajar adalah tumbler berisi air minum yang telah diisi dengan setumpuk es batu.

Kami tiba dan disambut dengan sebuah tulisan "Selamat Datang di Sawahku". Ya. Tempat terbaik di muka bumi ini adalah tempat yang orang-orangnya menyambut baik kehadiran kita dan Denassa mampu menunjukkannya sejak awal.

"Bisa malu kalau angin kencang. Bukan hanya ketika disentuh oleh manusia saja." Ujar Kak Darmawan sambil memperlihatkan kepada kami daun putri malu yang telah dipetik. Lalu ada yang bertanya tentang alasan mengapa putri malu seperti itu. "Itu adalah caranya  menyelamatkan drari dari hewan sapi, kambing, serangga, dan lain-lain."

Momosa adalah nama latin dari putri malu. Akarnya memiliki bintil dan kandungannya sama persis dengan kedelai. Bintil itulah yang memicu pembuahan. "Akarnya bisa dikeringkan dan diseduh untuk menjadi teh. Bermanfaat untuk menyembuhkan radang tenggorokan." Kami takjub. "Waw!"

Kedua adalah keong emas yang rupanya adalah hama bagi padi. Hingga bahkan, ketika dikumpulkan akan dihancurkan demi menjaga padi dari hama. (gambar keong emas diambil dari pencarian google, gambar yang saya ambil terhapus di hape. Hiks)

Selanjutnya, kami diajak untuk menanam padi lalu ditunjukkan cara menanamnya dengan menggunakan jari telunjuk dan jari tengah untuk mendorong bibit padi hingga masuk ke tanah dengan sempurna. "Jangan lupa, tiga batang saja." Ujar Daeng Taba yang menuntun kami. Beliau adalah salah satu tim RHD pada bagian "Sawahku".


Oleh kak Darmawan, kami lalu diajak mengulang kembali masa kecil dengan membuat hewan dari tanah liat. "Sapi-sapi" namanya. Saya menerima tanah liat dari salah satu tim RHD yang berbaik hati menggenggam langsung dari sawah memberikannya kepada saya.

Tidak perlu tanah liat yang banyak. Secukupnya saja untuk membentuknya menjadi sapi. Tapi, jadinya mungkin lebih mirip dengan gajah, ya? Wkwkw. "Tidak apa-apa. Memang bukan hanya bisa dibentuk sapi. Bisa membentuk hewan atau benda apa saja." Kak Darmawan menenangkan.

Kami berkumpul di bawah sebuah gubuk (mungkin), berteduh dan Kak Darmawan memberikan pengetahuan mengenai jenis-jenis literasi dasar. Mulai dari literasi sains yang sedang kami pelajari, yaitu ilmu tentang sawah, ekosistem yang ada di dalamnya, literasi numerik, literasi finansial, literasi digital, hingga literasi budaya dan kewargaan. Menarik sekali.


Kami pulang dengan tidak berjalan kaki lagi. Tetapi mobil pick up dan bus datang menjemput. Baik sekali mereka, ya. Rombongan pertama naik mobil pick up, sedang rombongan kedua naik bus. Saya dan beberapa teman guru yang lain naik bus.


Kami kembali ke RHD dengan banyak ilmu di kepala. Alhamdulillah.

Setelah berlelah, nikmat mengisi kampung tengah adalah kenikmatan selanjutnya. Aih, semua menunya andalan. Ikan kering, rumput laut, sambal, tahu balado, kerang, dan sayur bening. Tetapi, kami tidak langsung makan. Walau makanan telah mengoda di hadapan, Kak Darmawan memberikan sebuah pernyataan yang keren. Beliau menjelaskan semua manfaat dari nasi dan lauk yang akan kami makan bersama. Pun lengkap dengan perjalanan mereka hingga tiba di hadapan. Bagaimana para petani begitu giat dan gigih menanam hingga akhirnya selama tiga bulan siap untuk dipanen, dipisahkan dari kulit gabah, hingga dimasak menjadi nasi. "Saya berjanji tidak akan menyisakan makanan walau hanya sedikit." Kak Darmawan meminta kami umtuk menyebutnya bersama-sama sebagai bentuk syukur kita kepada Allah yang telah memberikan banyak kebaikan. "Silakan baca doa."

Ternikmatttt.


Betapa baik Allah. Betapa Maha Baik Dia. Rezeki memang tak melulu soal materi dan uang. Sebab bahagia, syukur, adalah hal yang paling emas dan merupakan bentuk rezeki yang tak bisa diujar dengan kata-kata.

(Makassar, 24 Maret 2019)

*BAGIAN KETIGA tentang "Kekayaan Hayati RHD" bisa dibaca pada postingan selanjutnya

TENTANG YANG BERNILAI AKHIRAT; Tenang, Ikhlas, dan Ingat Allah


"Silakan dipejamkan matanya dan kumpulkan semua peristiwa menyakitkan di masa lalu. Kemudian rasakan, perasaan apa yang datang." Suara lembut itu terdengar menyentuh hati, mengarahkan seluruh pikiran saya, guru lainnya, dan pegawai untuk mendengarkan.
Sebagai manusia biasa yang tak dapat lari atas salah dan luka, masing kita pasti memiliki masa lalu yang menyakitkan. Masing kita memiliki masa lalu yang luka dan penuh liku. Maka tidak butuh lima detik, tangisan terdengar sesekali dari banyak suara orang-orang. Kami kemudian seperti merasa sangat rendah sekali sebab pernah menjadikan peristiwa menyakitkan masa lalu menghuni hati-hati kami pada banyak tahun. Kami kemudian merasa begitu bodoh membiarkan rasa marah, benci, takut, dan perasaan negatif lainnya hidup di pikiran kami. Pernah hidup menetap di dalam hati kami.
"Sekarang, taruh tangan kanan kalian di atas dada dan elus pelan-pelan. Dan katakan, 'Rodhitu billahi robba, wabil islami diina wabimuhammadinnabiyya warosuula." Suara itu kembali terdengar, menuntun kami lalu menyebut artinya dengan lembut, penuh ketulusan, "Ya Allah, aku ridha Engkau menjadi Rabbku, aku ridha Islam adalah agama kami, dan aku ridha Muhammad adalah Rasul kami."
Aih, apalah kita ini. Sangat kerdil di hadapan Allah. Hanya bagian kecil dari kehidupan dan lantas dengan begitu jahat membiarkan diri menjadi sombong sekali di hadapan Allah dengan tidak mengikhlaskan masa lalu yang menyakitkan.


"Ikhlaskan, katakan pada Allah bahwa kita ridho atas setiap takdirNya. Maafkan semua peristiwa masa lalu yang menyakitkan hati kita. Maafkan. Ikhlaskan." Suara itu terdengar lagi. Seperti bisikan-bisikan yang tak bisa dihidari.
Maka air mata kami semakin tumpah. Tangan juga ikut sibuk menarik tissue di depan kami masing-masing. Atau kalau ada yang belum mempersiapkan, tangan dan kain jilbab bisa menjadi penampung air mata yang cukup baik.
“Astagfirullah, astagfirullah, astagfirullah.” Suara itu kembali menuntun kami. Suaranya penuh dengan kebaikan. “Ucapkan kalimat istigfar dengan sungguh-sungguh. Ucapkan dengan sungguh-sungguh. Mohon ampun pada Allah.”
Lalu tangis kami semakin berulah saja. Rasa-rasanya tidak memiliki tombol untuk sedikit meredam tangisnya. Atau sekadar berhenti sejenak walau senapas.
Betapa, perasaan kami menjadi sangat damai sekali. Setelah memaafkan, setelah merelakan, setelah mengiklaskan, setelah ridha atas peristiwa masa lalu, kami mengikhlaskan semua yang telah Allah takdirkan.
Ketenangan duniawi yang bernilai akhirat hanya bisa didapatkan ketika hati kita tenang, ikhlas atas setiap yang Allah takdirkan, dan senantiasa berdzikrullah, mengingat Allah. Sebab dengan selalu berdzikrullah, akan mengalir dalam diri kita ketenangan.
"Hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang." Demikian Allah menyampaikan NashNya yang mulia dalam QS. Ar-Ra'du ayat 28.
Adalah Coach Gunawan, lelaki berpostur tinggi cukup besar, berjanggut cukup lebat tak panjang, berambut rapi yang beliau katakan dengan nada yang bercanda kalau rambutnya hanya dicukur di tempat terbaik di Muka Bumi, Makkah Al-Mukarramah. Beliau senang sekali bercanda di tengah keseriusan kami mendengarkan materi. Kadang, beliau bisa menjadi cukup tega berteriak keras kalau kami tidak bisa menjawab pertanyaannya atau ada hal-hal yang cukup menggelisahkan hatinya sebab kami. Tapi sungguh, "Ana uhibbukum fillah. Sungguh, saya sangat mencintai kalian." Itu adalah kalimatnya yang paling syahdu di setiap sesi pertemuan. Dan dengan suara yang cukup tinggi, beliau melanjutkan, "Kita ingin melihat sekolah ini bukan sekadar menjadi Nurul Fikri (cahaya berpikir), tetapi juga Nurul Qalbu (cahaya hati), Nurul Iman (cahaya iman), dan Nurul Zaman (cahaya zaman)!" Sejenak, beliau terdiam menatap kami satu persatu. "Kita akan sama-sama membentuk generasi Rabbani yang cinta kepada Rabbnya, yang cinta pada Rasulullah dan Sunnahnya."
Kemudian, beliau melanjutkan, "Pahamilah bahwa setiap peristiwa pasti Allah datangkan atas izinNya. Yakinilah bahwa setiap kejadian pasti membawa kebaikan. Dan sadarilah bahwa setiap peristiwa adalah ladang amal bagi kita, ia akan menghadirkan amal baik dalam hidup kita." Kembali, beliau terdiam sejenak menatap kami. Entah mengapa, kali ini tubuh kami seperti dipaku atau menjadi seperti batu. Kami tak berkutik.
"Jadi sebenarnya, yang menjadi masalah dalam hidup kita adalah hubungan kita kepada Allah. Bukan kepada yang lain. Kita tidak tenang karena kita tidak ingat sama Allah. Akhirnya tidak ada ikhlas dalam hati kita menerima takdirNya. Kita belum mengenal masalah yang ada dalam diri kita, belum memahami bahwa masalah kita itu sama Allah. Sama Allah! Bukan sama yang lain!"
Kami terdiam. Lagi. Kali ini rasanya seperti anak panah yang melaju dan tepat pada sasaran kepada kami.
"Benar, tidak?"
Kami diam. Seperti diamnya seorang wanita ketika dimintai pendapat, kami menerima keputusan itu.
Beliau kemudian mengingatkan kepada kami kembali bahwa peristiwa yang kita miliki di dunia ini ada dua hal. Yaitu peristiwa negatif dan yang kedua adalah peristiwa positif. Dan setiap peristiwa yang ada pasti akan mendatang hikmah. Bukan satu atau dua hikmah tetapi hikmah yang berlapis-lapis. Lapisannya tak pernah habis-habis. Berkahnya menebar-nebar. Hikmah yang penuh dengan kebaikan. Hikmah yang harus pandai-pandai kita deteksi sebagai hal yang luar biasa yang Allah datangkan pada kita. Yang kemudian bisa kita syukuri dengan alhamdulillah yang banyak. Yang kemudian bisa kita ingat dengan astagfirullah yang melangit.


Hikmah itu menghadirkan ketenangan, menghadirkan ketentraman, sakinah. Dalam satu peristiwa luka, ada jutaan hikmah dari Allah. Sebab Dialah yang Maha atas segala Maha. Dialah yang memberi kita hikmah berupa petunjuk setiap saat. Dalam satu peristiwa duka, ada jutaan kebaikan yang akan Allah datangkan. Sebab Dialah yang Maha Agung atas KeAgunganNya. Dialah yang tak memberi batas atas setiap Nikmat yang kita rasakan.


(Makassar, 22 September 2018)

Jelita Hikmah Pemilu

Hari ini kita mengambil banyak hikmah. Kita mengambil nomor urut dan tahu di waktu ke berapa nama kita disebut. Pun tahu bekal apa yang t...