Senin, 25 Maret 2019

Berlapis Hikmah; Jejak-jejak Peradaban, Jejak-jejak Ketenangan


Duduk bermajelis ilmu adalah duduk-duduk penuh makna. Duduk-duduk ibadah. Duduk-duduk yang dibersamai para malaikat yang tengah membentangkan sayapnya sebagai tanda keridhaan Allah dan ridhonya atas orang-orang yang menuntut ilmu.

"Barangsiapa yang menempuh jalan menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju Surga." Hadis yang Rasulallah saw. sebut itu kemudian dicatat oleh Imam Muslim dan Imam Baihaqi.

Duduk berdirinya kita, duduk dan berbaringnya kita, duduk dan berlarinya kita, insyaallah semuanya penuh dengan hikmah. Bukan satu atau dua, bukan hitungan jari, tetapi berlapis-lapis, bertumpuk-tumpuk.

"Al arwahun junuudummujannadah. Famaa ta'aarofa minhaa i'talafa, wamaa tanaa karoo minha ikhtalafa." Sabda indah Rasulullah saw. tersebut dicatat oleh Imam Muslim dan Imam Bukhari. Dan kali pertama telinga saya menjumpainya adalah juga saat pertama kali menonton video Ustadz Salim A. Fillah beberapa tahun yang lalu. Bahwa ruh-ruh itu akan saling mencari dengan yang sepakat dengannya. Laiknya tentara yang berkumpul sebab visi yang sama. Selama saling mengenal, kodenya nyambung, walau bahkan terhalang oleh bukit, maka ruh-ruh itu, jiwa-jiwa itu akan saling menyatu. Tetapi apabila ruh-ruh, jiwa-jiwa  saling berselisih, kodenya tidak nyambung, maka ruh-ruh kita tidak akan saling menyatu.

Demikianlah. Demikianlah maknanya. Demikianlah resonansi bekerja pada tokoh, ruang, dan waktu.

"Pemimpin berbeda jauh dengan kepemimpinan. Maka yang akan kita ciptakan adalah mewujudkan kepemimpinan global. Kepemimpinan yang berdasar pada peradaban bangsa Islam. Sebab, jika visi kita hanya menjadi pemimpin, maka itu hanya akan bisa dihitung jari dan hanya pada orang-orangnya, bukan pada peradabannya." Kurang lebih, begitu tutur Coach Gunawan begitu membuka kajiannya hari itu (07/10).

Tentu, kita sama-sama berharap bahwa ummat Islam akan menjadi penggerak pertama dan utama. Tentu kita berharap bahwa calon-calon kepemimpinan atas kebangkitan peradaban Islam adalah berasal dari anak-anak kita. "Sungguh kebangkitan Islam akan bermula dan datang dari arah Timur." Ujar Dr. Abu Bakr Al-'Awawidah, Wakil ketua Rabithah Ulama Palestina. Kalimat itu berasal dari sabda Rasulullah saw.

"Beliau menyebut demikian sebab melihat potensi ummat Islam begitu besar di Indonesia." Begitu kalimat yang disimpulkan oleh Direktur Tarbiyah di sekolah tempat saya mengajar. "Maka Indonesia yang menjadi salah satu negara yang berada di bagian Timur dinilai sangat berpotensi. Insyaallah, dari Indonesia akan lahir peradaban dan cahaya Islam. Lahir calon-calon pemegang amanah Islam ke depannya." Tambahnya.
Lalu, yang kemudian harus kita lakukan adalah memperkuat azzam kita untuk terus memantaskan diri memegang amanah yang indah itu. Amanah untuk membentuk calon-calon pemegang peradaban Islam.

Penguatan Sejarah Islam dan Sastra kemudian menjadi wacana besar yang akan memperkuat ruhiyah kita untuk mendidik diri dan anak-anak kita, murid-murid kita. Ia akan mewujud menjadi seindah-indahnya ilmu, semanis-manisnya teman duduk.

Mengapa sejarah? Sebab orang yang bisa memenangkan masa depan adalah orang yang memenangkan sejarah. Lalu, mengapa harus sastra? Sebab Quran, sebab bahasa arab itu indah. Ia akan merasuk ke dalam dada-dada kita, dalam hati dan pikiran kita, memberikan ketenangan. Itulah mengapa ada yang menyebut kalimat: "Pelajarilah sastra. Sebab sastra dapat melembutkan hati, membuat berani." Masyaallah.
Indahnya lisan kita akan senantiasa mencerminkan indahnya fiqrah dan qalbu. Indahnya lisan kita akan senantiasa mengindahkan akhlak kita, amalan kita. Sebab, Rasulullah saw. pernah berkata, "Ada segumpal daging di dalam tubuh manusia, yang jika segumpal daging itu baik, maka akan baiklah seluruhnya."

Dalam hal ini, qalbu yang dimaksud adalah bukan organ lever. Tetapi segumpal daging itu ialah hati, jantung. Kita benar harus menjaganya. Kita benar harus mengarahkannya kepada kebaikan-kebaikan. Sebab sehatnya jantung, sehat pula pikiran kita. Pikiran sehat, sehat pula tubuh kita. Sehat tubuh kita, sehat pula fokus kita pada kebaikan.

Allah memberikan kita kitab Alquran sebagai petunjuk, sebagai pengarah. Di sana, bermula dari kitab Injil, lalu Zabur, Taurat, lalu kemudian sang pencerah bagi rahmatan lil 'alamin, Alquranul Karim. Kesemuanya adalah bentuk-bentuk kebaikan Allah yang jika kita membacanya, mengerti, meyakini, dan menyadarinya, maka perasaan tenang akan merasuk ke dalam hati kita, pikiran kita, akhlak kita.

Peristiwa yang terjadi dalam hidup kita telah tertakdirkan dengan apik oleh Allah. Peristiwa luka, juga duka. Peristiwa bahagia, juga gundah. Namun, satu hal yang harus kita yakini adalah bahwa Allah akan mendatangkan banyak hikmah di dalamnya. Hikmah yang akan kita rasakan hanya ketika kita merasa tenang, ikhlas, dan ingat Allah. Namun, mengingat Allah tidak semata hanya dalam hal peristiwa. Juga dalam amal. Pula dalam hati.

"Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang" Kalimat Allah yang indah itu tercatat dalam QS. Ar-Ra'du ayat 28.
Di sisi lain, ketika hati kita tenang dalam perjalanan menujuNya, ketika malaikat Maut datang menunaikan tugasnya, Allah berseru:
“Ya ayyuhan nafsul muthmainnah, irji’i ila rabbiki radhiyatam mardhiyyah (wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati puas lagi diridhai-Nya),” Begitu nantinya Allah akan memanggil kita sebagai jiwa yang Khusnul Khatimah yang kemudian bisa kita temui dan pahami maknanya dalam QS. Al-Fajr, ayat 27-28.
Selain mati dan azan shalat, salah satu peristiwa hati yang akan terus mengingatkan kita pada ketenangan adalah perjalanan haji dan umrah. Perjalanan meninggalkan dunia menuju kepada akhirat. Perjalanan yang selalu mengingatkan untuk senantiasa menjadikan aktifitas kita di atas bumi bernilai langit, bernilai akhirat, bernilai telaga kautsar.

Kain ihram mengajarkan kita untuk merasakan akhirat lebih berharga daripada dunia. Mengajarkan untuk mencabut dunia dari hati kita. Mengajarkan untuk senantiasa merasa bahwa diri kita yang bumi ini untuk selalu merasa rendah hati. Mengajarkan kita bahwa dunia bukanlah tempat berbangga-bangga. Menuntun untuk secara alami melepaskan seluruh simbol-simbol duniawi. Padahal Allah memandang kita dengan derajat yang sama. Tiada beda, terkecuali takwa kita padanya.

Tawaf mengajarkan kita bahwa hidup tidak pernah lepas dari Allah. Selalu dalam pengawasanNya. Senantiasa mengajarkan kita bahwa hidup ini seperti pusaran air yang terus berputar, selalu berjalan, untuk kemudian mendekatkan kita kepada Allah yang Mulia. Allahu Akbar!

Sedangkan Sai, mengajarkan kita untuk lapang menerima dan menjalani apapun dengan yang telah digariskan oleh Allah, yang telah menjadi ketentuanNya, yang telah tercatat dalam takdirNya. Hingga menjadikam niat-niat kita menjadi niat surga sebagai akhir dari upaya yang dilakukan bersebab karena Allah dan Rasulullah saw. Allahumma sholli 'alaa muhammad.
Sehingga Kain Ihram mencerminkan "ketenangan", tawaf menggambarkan "ingat Allah", dan Sai melukiskan "ikhlas" kita.
"Sungguh, Allah tidak pernah salah pilih, tidak salah pundak, menempatkan kalian di sekolah ini. Sebab Allah percaya kalian adalah bagian dari perjuangan ini. Perjuangan islam di masa yang akan datang untuk menciptakan generasi kepemimpinan yang berperadaban, yang berpengaruh, yang menjadikan dunia sebagai serendah-rendahnya harapan." Kalimat ini pernah diujar oleh Ayah Tono, ketua Yayasan sekolah dan Coach Gunawan.

Di akhir sesi pada lingkar surga itu, Coach Gunawan mengajak kita untuk memantaskan diri. Mengajak kita untuk menemui tempat yang penuh dengan resonansi. Yang memiliki tokoh, ruang, dan waktu. Semisal mengunjungi Makkah dan Madinah, mengunjugi makam Rasulullah saw dan para sahabatnya. Semisal kisah penaklukan Kota Konstantinopel oleh Muhammad Al-Fatih yang setelah Rasulullah saw, ialah sebaik sebaik-baik raja, sebaik-baik pemimipin, dan pasukannya ialah sebaik-baik pasukan.

Allah lah yang telah mempertemukan dan memperjalankan kita ke jalan yang baik, yang lurus dengan luka dan likunya sebagai konsekuensi atas keimanan kita.
"Mengapa kita dikumpulkan di sini?" Tanya Coach Gunawan dengan mata yang sudah berkaca-kaca, hendak menumpahkannya namun begitu berusaha ia tahan. Lalu dengan nada rendah, seperti sedang berusaha mengumpulkan energi, beliau berkata, "Kita dikumpulkan di sini untuk nantinya dipanggil oleh Allah dengan sebutan "Ya ayyuhan nafsul muthmainnah", "Ya ayyuhan nafsul muthmainnah", "Ya ayyuhan nafsul muthmainnah". Wahai jiwa-jiwa yang tenang, wahai jiwa-jiwa yang tenang, wahai jiwa-jiwa yang tenang." Beliau diam sejenak.
Sungguh, haru sekali waktu itu.

Beliau kemudian berbicara dengan sepenuh hati, "Semoga Allah mempertemukan kita di Baitullah, semoga Allah mempertemukan kita di Padang Masyar bersama Rasulallah saw." Kali ini, kantung matanya tak mampu lagi menampung air mata. Ia tumpah.

Masyaallah. Sungguh, sebuah kesyukuran besar Allah telah menakdirkan hal-hal baik dalam hidup kita. Sungguh, sebuah berkah yang banyak Allah telah menggariskan kita berada dalam sebuah garis perjuangan. Sungguh, adalah berlapis-lapis hikmah yang tak terhingga sebab Allah telah menjadikan setiap peristiwa, setiap amal, setiap hati kita penuh dengan kebaikan.
Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillahirabbil 'alamiin.
"Anaa uhibbukum fillah. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh." Ujar Coach Gunawan mengakhiri pertemuan.

MAKASSAR, 07 Oktober 2018.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jelita Hikmah Pemilu

Hari ini kita mengambil banyak hikmah. Kita mengambil nomor urut dan tahu di waktu ke berapa nama kita disebut. Pun tahu bekal apa yang t...