Senin, 25 Maret 2019

Pertanyaan Cinta

Setan itu akan mewujudkan dirinya menjadi apa saja yang dia inginkan karena memang dia telah disepakati maunya oleh Allah untuk mengooda manusia-manusia untuk jauh dari kebenaran. Bahkan, godaannya itu bukan hanya dibisikkan kepada orang dewasa saja. Tetapi bagi semua orang baik ketika imannya sedang kuat-kuatnya terlebih kepada manusia yang telah jauh hari berhasil untuk terus digoda. Pun kepada anak-anak. Kekuatan godaan mereka juga sangat kuat di sana. Itulah pentingnya menanamkan hal-hal yang baik kepada anak-anak , memberikan mereka pemahaman-pemahaman tentang ilmu agama yang seharusnya mereka tahu sejak kecil. Setan paling senang menggoda anak-anak. Bahkan seringkali muncul di hadapan mereka. Mengaku sebagai teman bagi anak-anak.

Agustus dua ribu enam belas..
"Ibu guru, kenapa kalau saya sedang main sama teman, di hati saya seperti ada yang sedang berbicara bilang 'Pergilah belajar! Pergilah belajar!'." Murid saya yang akrab disapa Cinta tiba-tiba mendekat.

Waktu itu, jam pelajaran di sekolah sudah selesai semua. Siswa yang lain bahkan telah pulang menggandeng tas masing-masing dengan wajah ceria ingin kembali bertemu dengan ayah dan ibu di rumah.

Saya mendapati pertanyaan Cinta dengan wajah yang bingung. Tangannya sibuk merapikan buku-buku dan memasukkannya ke dalam tas.
Saya memberikan senyuman terbaik. “Sini, mendekat dengan Ibu.”

Maka Cinta mendekat. Wajahnya yang mirip bule’ dengan kulit yang putih dan rambut pirang didekatkan di wajah saya.

"Itu artinya, ada malaikat yang membisiki hati Cinta ke arah kebaikan." Saya ikut  mendekatkan wajah lebih dekat, "Cinta, kalau ada yang ajak berbuat  baik, mau?"

Dia mengangguk pelan.

Saya menarik tubuh dan bersandar di punggung kursi. "Nah. Belajar itu, kan baik. Jadi malaikat tidak mau kalau Cinta terus-terusan main." Saya memasang wajah yakin. "Main boleh. Asal jangan terlalu. Belajar juga penting sekali."
Dia menggangguk lebih cepat.

"Sebaliknya, kalau Cinta terus-terusan main, itu justru ada yang menggoda." Saya tersenyum sebentar. Saya melihat wajah Cinta berubah penasaran. Dia tersenyum kecil-kecil menunggu jawaban lanjutan dari saay.
“Setan.”

Wajah Cinta tiba-tiba berubah, “Hii.” Dia bergidik ketakutan.

"Jadi Cinta mau belajar atau main terus?" Saya memberikannya pilihan.

"Belajar, Bu." Jawabnya mantap, kepalanya mengangguk dan suaranya agak dibesarkan.
"Nah, gitu!" Saya menaikkan jempol tangan sebagai wujud apresiasi atas pilihannya.
Saya pikir jawabannya sudah tuntas dan sudah cukup mampu memahamkannya perihal pertanyaannya. Ya, dia sudah benar-benar paham. Selanjtnya giliran saya yang merapikan dan memasukkan barang-barang ke dalam tas.
"Ibu guru!" Dia memanggil lagi dengan wajah bingung.

"Hm?”

"Saya juga pernah mimpi Bapak saya kecelakaan saat mau pergi menjual di pasar." Saya lalu menatapnya. Saya pikir Cinta akan memberi salam dan berpamitan pulang.

Ayah Cinta memang adalah seorang pedagang rempah-rempah di pasar yang tidak cukup jauh dari sekolah. Saya tahu karena pernah diberi sebungkus rempah-rempah; bawang-bawangan, dan teman-temannya. Lengkap dengan arahan, "Kalau misal Ibu ke pasar, silahkan singgah di kios saya, ya, Bu." Ayah Cinta memberi tahu.

Kalau saya mengingat-ingat, Cinta lebih mirip wajah ayahnya ketimbang Ibunya. Kulitnya dari Ayahnya. Matanya juga, hampir terlihat seperti garis tiga senti meter yang sempurna ketika tersenyum.

"Maksudnya kecelakaan bagaimana?" Gantian, saya yang berubah bingung. Tepatnya penasaran.
"Jatuh dari motor, Bu." Cinta menjelaskan mimpinya.

Saya kemudian menimbang-nimbang jawaban. Mencari jawaban terbaik untuk anak seusianya. Kalau jawaban saya tidak tepat, tentu jawaban itu akan berbuah tanya-tanya yang semakin berkembang, bercabang-cabang.  "Itu artinya, kalau Bapak Cinta ke pasar, Cinta harus sudah bangun. Doakan Bapak biar selamat di jalan. Pulang juga selamat sampai rumah." Saya tersenyum. Mata saya ikut tersenyum, menyipit kecil-kecil.

Dia mengangguk, "Iya, Bu."

"Karena doa itu yang akan menyelamatkan Bapak Cinta dari hal-hal yang tidak baik. Bukan hanya kecelakaan saja."

"Cinta mau doakan Bapak, kan?"

"Iya, Bu."

"Jadi kalau Bapak Cinta ke pasar, Cinta mau bangun lebih awal?”

Dia mengangguk dan tersenyum. Wajahnya yang berseri-seri lalu menyalami tangan saya dan berpamitan pulang.

Demikianlah anak-anak dengan banyak sekali pertanyaan di kepalanya. Tetapi, mereka adalah ladang amal yang paling luas bagi kita, bagi guru.

(Cinta adalah murid saya ketika mengajar di SD Berbantuan Bungaya 2016 lalu)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengabulan Allah

Kita tidak pernah tahu, bisik hati mana yang akan Allah kabulkan. Kita tidak pernah tahu doa dari siapa yang akan Allah indahkan. Dan kit...