Senin, 25 Maret 2019

Sepercik Surga di Rumah Hijau Denassa (Bagian 1 dan 2)


BAGIAN PERTAMA
Suasana pedesaan. Itulah isi kepala saya pertama kali saat memasuki halaman "Rumah Hijau Denassa". Sejuk dan teduh. Suara teman-teman guru sudah gemuruh dan riuh. Rupanya, ada yang menarik perhatian. Kami diberikan caping berwarna hijau dan meletakkannya di kepala. Mata saya lalu tertuju pada sebuah tulisan "Selamat Datang di Rumah Hijau Denassa". Lengkap dengan pisang yang bertandang-tandang di sisiannya. Buku-buku berjejer rapi memanggil untuk segera dinikmati isinya yang tentu bergizi. Sarapan yang enak. Tetapi, tak ada waktu melahapnya.


Tempat ini pertama kali saya dengar saat salah satu teman berkunjung ke sini dalam rangka temu penulis Makassar beberapa bulan yang lalu. Tetiba saya penasaran. Dan akhirnya, Allah rupanya menjadikan itu sebagai doa dan berbuah pengabulan. Ya, saya berada di sini hari ini. Sebuah kampung literasi yang luar biasa sekali. Semua bibir merekah menyambut, seperti bunga-bunga yang tumbuh di sekitarnya. Pun hati mereka bewarna-warni, mirip seperti lampion yang berjejer rapi menggantung di dahan dan ranting pohon.

Setelah berfoto banyak dan mengisi lembar kehadiran, ada hal unik yang saya dapatkan. Berjalan di antara dedaunan yang seperti semakin tinggi semakin merunduk. Teman-teman guru telah lebih dulu beberapa detik masuk dan melepas alas sepatu. Dan, saya kembali menemukan hal unik yang lain. Yaitu saat menyusun sepatu bukan pada rak. Tetapi meletakkannya tepat di tengah blok-blok batu yang berjejer rapi di depan bangunan yang akan kami masuki. Posisi sepatunya juga harus menghadap keluar agar tidak perlu berbalik badan lagi saat akan memakai kembali alas kaki.


Hampir di setiap sudut di tempat ini penuh dengan buku-buku. Juga tumbuhan-tumbuhan yang baru kukenal namanya. Kereeeen! Masyaallah. Allah seperti meletakkan sepercik surganya di sini.


Kak Darmawan lalu mengarahkan kami untuk memulai menulis. "Buatlah tulisan minimal tiga paragraf tentang kunjungan kalian ke tempat ini. Boleh dimulai saat berangkat atau tiba di tempat ini. Bisa dikirim melalui japri WA, ya." Kami menulis di note hape masing-masing.


Kami berkunjung pada hari ahad (24/03), tepat di hari ketiga rangkaian kegiatan Workshop Pembekalan Sekolah Guru Indonesia (SGI) Literat yang sebelumnya digelar di Aula JILC Perintis selama dua hari, yaitu Jumat dan Sabtu (22-23/03) bersama dengan guru yang berasal dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan yang berjumlah 30 peserta guru seleksi.

BAGIAN KEDUA

Manisnya Labu Kuning, Manisnya duduk di Denassa. Awalnya, saya sangsi memakan sayur tanpa kuah. Berteman dengan kelapa parut, rupanya, rasa labu kuning itu manis dan gurih. Itu adalah kali pertama saya memakan labu yang disebut sebagai kue. Kami melingkar dan kak Darmawan menaiki anak tangga satu persatu lalu berteriak, "buatlah lingkaran sempurna dan kita berfoto." Perintahnya sambil memegang hape dari atas tangga. Teman-teman guru lalu menyebut aksi tersebut sebagai drone alami. :D

Kue labu itu merupakan makanan khas kabupaten Takalar yang kalau bisa dikata, masih dicukup sedikit yang mencobanya. Sebab, biasanya labu dijadikan sebagai sayuran, disantan atau dimasak bening.


Perjalanan kami lalu berlanjut menuju ke sawah. Sepanjang mata melihat, gambaran sawah nyaris seperti lautan yang berwarna hijau. Perjalanan kaki ditempuh kurang lebih satu kilometer. Berjalan bersama, sebaris, dan seru sekali. Kami menjumpai beberapa warga yang meyambut kami dengan senyum yang mekar. Ada yang duduk makan di pinggir sawah melepas lelah, ada juga yang sedang memisahkan padi dengan batangnya. Beberapa anak juga melambaikan tangan ketika saya berujar salam kepada mereka. Bukan hanya itu, seekor monyet juga tidak melepas pandangannya dari kami sampai akhirnya saya mengambil gambarnya, ia langsung loncat, tidak meninggalkan jejak.


Amunisi kami untuk ke sawah selain niat dan kesungguhan untuk belajar adalah tumbler berisi air minum yang telah diisi dengan setumpuk es batu.

Kami tiba dan disambut dengan sebuah tulisan "Selamat Datang di Sawahku". Ya. Tempat terbaik di muka bumi ini adalah tempat yang orang-orangnya menyambut baik kehadiran kita dan Denassa mampu menunjukkannya sejak awal.

"Bisa malu kalau angin kencang. Bukan hanya ketika disentuh oleh manusia saja." Ujar Kak Darmawan sambil memperlihatkan kepada kami daun putri malu yang telah dipetik. Lalu ada yang bertanya tentang alasan mengapa putri malu seperti itu. "Itu adalah caranya  menyelamatkan drari dari hewan sapi, kambing, serangga, dan lain-lain."

Momosa adalah nama latin dari putri malu. Akarnya memiliki bintil dan kandungannya sama persis dengan kedelai. Bintil itulah yang memicu pembuahan. "Akarnya bisa dikeringkan dan diseduh untuk menjadi teh. Bermanfaat untuk menyembuhkan radang tenggorokan." Kami takjub. "Waw!"

Kedua adalah keong emas yang rupanya adalah hama bagi padi. Hingga bahkan, ketika dikumpulkan akan dihancurkan demi menjaga padi dari hama. (gambar keong emas diambil dari pencarian google, gambar yang saya ambil terhapus di hape. Hiks)

Selanjutnya, kami diajak untuk menanam padi lalu ditunjukkan cara menanamnya dengan menggunakan jari telunjuk dan jari tengah untuk mendorong bibit padi hingga masuk ke tanah dengan sempurna. "Jangan lupa, tiga batang saja." Ujar Daeng Taba yang menuntun kami. Beliau adalah salah satu tim RHD pada bagian "Sawahku".


Oleh kak Darmawan, kami lalu diajak mengulang kembali masa kecil dengan membuat hewan dari tanah liat. "Sapi-sapi" namanya. Saya menerima tanah liat dari salah satu tim RHD yang berbaik hati menggenggam langsung dari sawah memberikannya kepada saya.

Tidak perlu tanah liat yang banyak. Secukupnya saja untuk membentuknya menjadi sapi. Tapi, jadinya mungkin lebih mirip dengan gajah, ya? Wkwkw. "Tidak apa-apa. Memang bukan hanya bisa dibentuk sapi. Bisa membentuk hewan atau benda apa saja." Kak Darmawan menenangkan.

Kami berkumpul di bawah sebuah gubuk (mungkin), berteduh dan Kak Darmawan memberikan pengetahuan mengenai jenis-jenis literasi dasar. Mulai dari literasi sains yang sedang kami pelajari, yaitu ilmu tentang sawah, ekosistem yang ada di dalamnya, literasi numerik, literasi finansial, literasi digital, hingga literasi budaya dan kewargaan. Menarik sekali.


Kami pulang dengan tidak berjalan kaki lagi. Tetapi mobil pick up dan bus datang menjemput. Baik sekali mereka, ya. Rombongan pertama naik mobil pick up, sedang rombongan kedua naik bus. Saya dan beberapa teman guru yang lain naik bus.


Kami kembali ke RHD dengan banyak ilmu di kepala. Alhamdulillah.

Setelah berlelah, nikmat mengisi kampung tengah adalah kenikmatan selanjutnya. Aih, semua menunya andalan. Ikan kering, rumput laut, sambal, tahu balado, kerang, dan sayur bening. Tetapi, kami tidak langsung makan. Walau makanan telah mengoda di hadapan, Kak Darmawan memberikan sebuah pernyataan yang keren. Beliau menjelaskan semua manfaat dari nasi dan lauk yang akan kami makan bersama. Pun lengkap dengan perjalanan mereka hingga tiba di hadapan. Bagaimana para petani begitu giat dan gigih menanam hingga akhirnya selama tiga bulan siap untuk dipanen, dipisahkan dari kulit gabah, hingga dimasak menjadi nasi. "Saya berjanji tidak akan menyisakan makanan walau hanya sedikit." Kak Darmawan meminta kami umtuk menyebutnya bersama-sama sebagai bentuk syukur kita kepada Allah yang telah memberikan banyak kebaikan. "Silakan baca doa."

Ternikmatttt.


Betapa baik Allah. Betapa Maha Baik Dia. Rezeki memang tak melulu soal materi dan uang. Sebab bahagia, syukur, adalah hal yang paling emas dan merupakan bentuk rezeki yang tak bisa diujar dengan kata-kata.

(Makassar, 24 Maret 2019)

*BAGIAN KETIGA tentang "Kekayaan Hayati RHD" bisa dibaca pada postingan selanjutnya

2 komentar:

Jelita Hikmah Pemilu

Hari ini kita mengambil banyak hikmah. Kita mengambil nomor urut dan tahu di waktu ke berapa nama kita disebut. Pun tahu bekal apa yang t...