Senin, 25 Maret 2019

TENTANG YANG BERNILAI AKHIRAT; Tenang, Ikhlas, dan Ingat Allah


"Silakan dipejamkan matanya dan kumpulkan semua peristiwa menyakitkan di masa lalu. Kemudian rasakan, perasaan apa yang datang." Suara lembut itu terdengar menyentuh hati, mengarahkan seluruh pikiran saya, guru lainnya, dan pegawai untuk mendengarkan.
Sebagai manusia biasa yang tak dapat lari atas salah dan luka, masing kita pasti memiliki masa lalu yang menyakitkan. Masing kita memiliki masa lalu yang luka dan penuh liku. Maka tidak butuh lima detik, tangisan terdengar sesekali dari banyak suara orang-orang. Kami kemudian seperti merasa sangat rendah sekali sebab pernah menjadikan peristiwa menyakitkan masa lalu menghuni hati-hati kami pada banyak tahun. Kami kemudian merasa begitu bodoh membiarkan rasa marah, benci, takut, dan perasaan negatif lainnya hidup di pikiran kami. Pernah hidup menetap di dalam hati kami.
"Sekarang, taruh tangan kanan kalian di atas dada dan elus pelan-pelan. Dan katakan, 'Rodhitu billahi robba, wabil islami diina wabimuhammadinnabiyya warosuula." Suara itu kembali terdengar, menuntun kami lalu menyebut artinya dengan lembut, penuh ketulusan, "Ya Allah, aku ridha Engkau menjadi Rabbku, aku ridha Islam adalah agama kami, dan aku ridha Muhammad adalah Rasul kami."
Aih, apalah kita ini. Sangat kerdil di hadapan Allah. Hanya bagian kecil dari kehidupan dan lantas dengan begitu jahat membiarkan diri menjadi sombong sekali di hadapan Allah dengan tidak mengikhlaskan masa lalu yang menyakitkan.


"Ikhlaskan, katakan pada Allah bahwa kita ridho atas setiap takdirNya. Maafkan semua peristiwa masa lalu yang menyakitkan hati kita. Maafkan. Ikhlaskan." Suara itu terdengar lagi. Seperti bisikan-bisikan yang tak bisa dihidari.
Maka air mata kami semakin tumpah. Tangan juga ikut sibuk menarik tissue di depan kami masing-masing. Atau kalau ada yang belum mempersiapkan, tangan dan kain jilbab bisa menjadi penampung air mata yang cukup baik.
“Astagfirullah, astagfirullah, astagfirullah.” Suara itu kembali menuntun kami. Suaranya penuh dengan kebaikan. “Ucapkan kalimat istigfar dengan sungguh-sungguh. Ucapkan dengan sungguh-sungguh. Mohon ampun pada Allah.”
Lalu tangis kami semakin berulah saja. Rasa-rasanya tidak memiliki tombol untuk sedikit meredam tangisnya. Atau sekadar berhenti sejenak walau senapas.
Betapa, perasaan kami menjadi sangat damai sekali. Setelah memaafkan, setelah merelakan, setelah mengiklaskan, setelah ridha atas peristiwa masa lalu, kami mengikhlaskan semua yang telah Allah takdirkan.
Ketenangan duniawi yang bernilai akhirat hanya bisa didapatkan ketika hati kita tenang, ikhlas atas setiap yang Allah takdirkan, dan senantiasa berdzikrullah, mengingat Allah. Sebab dengan selalu berdzikrullah, akan mengalir dalam diri kita ketenangan.
"Hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang." Demikian Allah menyampaikan NashNya yang mulia dalam QS. Ar-Ra'du ayat 28.
Adalah Coach Gunawan, lelaki berpostur tinggi cukup besar, berjanggut cukup lebat tak panjang, berambut rapi yang beliau katakan dengan nada yang bercanda kalau rambutnya hanya dicukur di tempat terbaik di Muka Bumi, Makkah Al-Mukarramah. Beliau senang sekali bercanda di tengah keseriusan kami mendengarkan materi. Kadang, beliau bisa menjadi cukup tega berteriak keras kalau kami tidak bisa menjawab pertanyaannya atau ada hal-hal yang cukup menggelisahkan hatinya sebab kami. Tapi sungguh, "Ana uhibbukum fillah. Sungguh, saya sangat mencintai kalian." Itu adalah kalimatnya yang paling syahdu di setiap sesi pertemuan. Dan dengan suara yang cukup tinggi, beliau melanjutkan, "Kita ingin melihat sekolah ini bukan sekadar menjadi Nurul Fikri (cahaya berpikir), tetapi juga Nurul Qalbu (cahaya hati), Nurul Iman (cahaya iman), dan Nurul Zaman (cahaya zaman)!" Sejenak, beliau terdiam menatap kami satu persatu. "Kita akan sama-sama membentuk generasi Rabbani yang cinta kepada Rabbnya, yang cinta pada Rasulullah dan Sunnahnya."
Kemudian, beliau melanjutkan, "Pahamilah bahwa setiap peristiwa pasti Allah datangkan atas izinNya. Yakinilah bahwa setiap kejadian pasti membawa kebaikan. Dan sadarilah bahwa setiap peristiwa adalah ladang amal bagi kita, ia akan menghadirkan amal baik dalam hidup kita." Kembali, beliau terdiam sejenak menatap kami. Entah mengapa, kali ini tubuh kami seperti dipaku atau menjadi seperti batu. Kami tak berkutik.
"Jadi sebenarnya, yang menjadi masalah dalam hidup kita adalah hubungan kita kepada Allah. Bukan kepada yang lain. Kita tidak tenang karena kita tidak ingat sama Allah. Akhirnya tidak ada ikhlas dalam hati kita menerima takdirNya. Kita belum mengenal masalah yang ada dalam diri kita, belum memahami bahwa masalah kita itu sama Allah. Sama Allah! Bukan sama yang lain!"
Kami terdiam. Lagi. Kali ini rasanya seperti anak panah yang melaju dan tepat pada sasaran kepada kami.
"Benar, tidak?"
Kami diam. Seperti diamnya seorang wanita ketika dimintai pendapat, kami menerima keputusan itu.
Beliau kemudian mengingatkan kepada kami kembali bahwa peristiwa yang kita miliki di dunia ini ada dua hal. Yaitu peristiwa negatif dan yang kedua adalah peristiwa positif. Dan setiap peristiwa yang ada pasti akan mendatang hikmah. Bukan satu atau dua hikmah tetapi hikmah yang berlapis-lapis. Lapisannya tak pernah habis-habis. Berkahnya menebar-nebar. Hikmah yang penuh dengan kebaikan. Hikmah yang harus pandai-pandai kita deteksi sebagai hal yang luar biasa yang Allah datangkan pada kita. Yang kemudian bisa kita syukuri dengan alhamdulillah yang banyak. Yang kemudian bisa kita ingat dengan astagfirullah yang melangit.


Hikmah itu menghadirkan ketenangan, menghadirkan ketentraman, sakinah. Dalam satu peristiwa luka, ada jutaan hikmah dari Allah. Sebab Dialah yang Maha atas segala Maha. Dialah yang memberi kita hikmah berupa petunjuk setiap saat. Dalam satu peristiwa duka, ada jutaan kebaikan yang akan Allah datangkan. Sebab Dialah yang Maha Agung atas KeAgunganNya. Dialah yang tak memberi batas atas setiap Nikmat yang kita rasakan.


(Makassar, 22 September 2018)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengabulan Allah

Kita tidak pernah tahu, bisik hati mana yang akan Allah kabulkan. Kita tidak pernah tahu doa dari siapa yang akan Allah indahkan. Dan kit...