Rabu, 17 April 2019

Jelita Hikmah Pemilu


Hari ini kita mengambil banyak hikmah. Kita mengambil nomor urut dan tahu di waktu ke berapa nama kita disebut. Pun tahu bekal apa yang telah kita siapkan. Semisal nama-nama capres dan cawapres yang sudah jauh lama terkantung di ingatan. Atau nama calon anggota legislagif yang telah kita tentukan untuk mendapatan hak suara kita.

Perhatikan. Hari ini kita belajar banyak.

Bahwa sejatinya, kita hanya menunggu giliran. Kapan panggilan Allah akan datang melalui malaikatnya, Israfil. Kita tidak tahu pula ada pada urutan ke berapa. Ia ghaib. Di akhirat kelak, saat penghitungan amal, kita juga tidak memiliki hak untuk bersuara sehurufpun. Kita memiliki pilihan untuk ditempatkan di Surga. Tetapi segalanya berpulang pada Allah, Dialah yang hak menempatkan kita bergantung pada ketakwaan.

Tetapi pula, kita sejatinya memiliki kesempatan yang sama. Kesempatan untuk mempersiapkan diri untuk dipilihkan tempat terbaik di sisiNya. 💕

#JelitaHikmahPemilu #Pemilu2019 #PAS

Sabtu, 06 April 2019

Kaki Kita, Kelak


Kelak, kaki-kaki kita akan bermulut tajam, tak berhati. Ia akan mengungkapkan seluruh perasaan kepada Tuhannya. Ia akan begitu kuat menyampaikan perihal rasa tidak sukanya dijadikan sebagai alat untuk berangkat menuju ke sebuah tempat yang sejatinya tidak pernah ia inginkan. Kelak, kaki-kaki kita, dengan langkah-langkahnya akan bersaksi dan bermulut manis, punya banyak hati. Ia akan mengungkapkan seluruh rasa bahagianya kepada Tuhannya, kepada seluruh yang ada. Ia akan begitu kuat menyampaikan tentang rasa harunya dijadikan sebagai alat untuk datang mengunjungi majelis-majelis surga, mengunjungi tempat-tempat terbaik di seluruh muka bumi, menemui orang-orang baik, orang-orang shalih-shalihah lalu saling berbagi dan bertukar ilmu. Hari ini, kita mendaku sebagai tuannya, mengaku sebagai pemiliknya yang sah. Merasa berhak atas segala langkah kaki, ia akan dibawa kemana, kepada siapa, untuk apa.

Kelak, kaki-kaki kita akan mampu mengungkapkan seluruh apa yang pernah ia pendam dalam-dalam, ia simpan lama-lama. Ia tidak akan merasa takut pada kita sebab ketakutannya hanya pada Tuhannya. Padahal saat itu kita hanya diam, menunduk malu. Padahal mulut kita sedang terkunci kuat-kuat.

Ilmu Sebaiknya Telaga Kautsar

Rugi sekali kita jika ilmu di dalam kepala tidak dijadikan ilmu di dalam tingkah. Betapa amat kasihan bila kita enggan menjadikan ilmu mi menjadi amal. Betapa hina sekali kita bila ilmu yang sedikit lantas yang datang di dada adalah keangkuhan yang banyak. Padahal bahkan, jika sebiji angkuh saja di sana, tak bisa menjadikan kita bisa membersamai Allah kelak di surgaNya. Padahal bahkan, ilmu itu adalah milik Allah dan akan sangat mudah bagiNya untuk menarik kembali titipan mulia itu. Ilmu seharusnya adalah amal, iman, telaga kautsar, dan Firdaus.

Perempuan Penuh Doa; Mamak



Setiap kali mata saya memejam, yang pertama terlintas adalah wajah Mamak dan Bapak. Lengkap dengan raut wajah mereka yang kulit wajahnya sudah terjatuh. Pun rambut kepala dan alisnya, penuh dengan warna putih mengkilat. Mereka tak lagi terlihat seperti usia tiga puluh atau empat puluh tahun.

Mamak adalah kekasih paling setia di dunia. Hatinya, bahkan seluruh bagian tubuhnya ia mampu relakan untuk kami, anak-anaknya. Ketika kudapati ia bekerja demikian giat dan keras, demikian juga kami memahami betapa cintanya tiada henti. Betapa kasih sayangnya luas tak bisa dibendung. Mamak yang tidak pernah membiarkan kami berjuang sendiri-sendiri, doanya selalu ikut bekerja, menemani langkah kaki kami. "Biarpun tidak meminta, doaku selalu mengiringi." Demikian selalu katanya ketika kami memohon doa restu atas langkah kaki. Lantas, setelah doa Mamak bekerja, kami dapat menata langkah-langkah. Allah membuatnya mudah.

Pernah, pada waktu beberapa malam, ketabahan saya hilang. Pergi entah ke mana. Tangan saya terus memegangi perut yang sakit hingga cucur keringat tak mampu lagi menahan dirinya untuk keluar dari pori-pori kulit. Seluruh bagian kepala saya seperti penuh, akan pecah, akan tumpah. Pada beberapa malam itu, ada seseorang yang dengan giat memberikan pemahaman, memberikan banyak perhatian. Seseorang yang sejak masih usia awal mengandungnya, kasih dan sayangnya selalu bertumpuk banyak, berlapis, hingga memberikan banyak kebaikan. Menjadi atap dan rumah yang paling aman dan nyaman untuk menaruh panas air mata. Ketabahannya selalu menguatkan menguat dan menguatkan. Seperti akar yang mengokoh kuat di bawah tanah, lalu menumbuhkan batang, ranting, dedaunan, bunga, hingga buah yang ranum rasa dan wanginya.

Pernah, pada beberapa waktu, saat berjuang pada kehidupan, tekad saya yang pernah kuat entah lenyap ke bagian bumi mana. Semangat saya ciut. Mirip seperti kerupuk yang lama terkena udara, atau seperti kertas tissue yang terendam air. Pada beberapa waktu itu, ada seseorang yang menjadi penguat. Seseorang yang doanya sungguh melangit hingga berkata, “Tenang saja, Nak. Doa kami (juga Bapak) tak pernah lepas sejengkalpun.” Seseorang itu adalah sosok yang menjadi anugerah terindah dalam hidup saya. Seseorang yang dengan kalimatnya yang bijak, mampu memberi rasa sakinah di dalam dada hingga mampu menjadikan hal-hal yang sebelumnya membuat pikiran penuh dengan buruk menjadi baik laiknya ombak yang menelan buih di lautan. Hilang sekejap, seketika.

Saya selalu percaya bahwa Allah adalah sumber seluruh kebaikan itu berasal. Saya senatiasa memercayai, bahwa Allah tidak akan pernah diam dan membiarkan hambaNya hanya duduk diam dan tidak diberikan apa-apa. Saya selalu percaya bahwa doa Mamak tidak pernah lepas dan adalah doa-doa yang tidak ada batas, tidak ada penghalang, tidak bersekat dengan kabulan dari Allah. Doa Mamak adalah perisai, adalah tombak. Hingga kalimat yang pernah saya baca, “Suksesmu saat ini adalah buah yang tidak lepas dari doa-doa Mamakmu” pun saya benarkan adanya.

Isi dari doa-doa Mamak memang jarang bahkan hampir tidak pernah didengar telinga. Isi dari doa-doanya adalah cinta yang disimpan dan diminta untuk dikabulkan oleh Allah. Bahkan semenjak masih rahim, sejak bulan demi bulan usia kandungan, sejak tangisan pertama terdengar, sejak menumbuh, sejak dunia memulai dirinya untuk memenuhi hidup kami. Doa-doa Mamak adalah doa yang penuh dengan harapan kebaikan bagi keluarganya, bagi anak-anaknya. Doa-doa itulah yang mampu menembus langit hingga lapis ke tujuh. Sebab doa-doa itulah yang Allah bisa jadikan sebagai salah satu takdir kebaikan. Sebab, jika ada takdir yang tidak berpihak, maka doa menjadi satu-satunya cara untuk mengubah takdir. "Tidak ada yang dapat menolak takdir terkecuali doa." Demikianlah bunyi hadis yang pernah Rasulallah saw. sampaikan kemudian dicatat oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Pernah,  saya meminta restu dan doa Mamak. Saya lupa pada kejadian yang mana, tetiba saya penasaran setelah doa-doa itu benar terkabul, “Mak, apa doa Mamak untuk saya? Bagaimana isinya?” Maka pertanyaan saya dijawab begini, “Rahasia. Intinya, doa-doa itu penuh dengan kebaikan.”

Demikianlah Mamak saya. Perempuan yang sederhana, yang penuh dengan harapan dan doa terbaik untuk keluarga dan anaknya. Perempuan yang penuh dengan doa-doa di isi hati dan kepalanya. Saya ingin seperti Mamak. Menjadi perempuan yang penuh doa untuk anak, keluarga, dan banyak orang.

Love you, Mamak. Love you so much!

Makassar, 23 Desember 2018

Kita yang Bukan Langit


Kita tidak pernah lebih daripada tanah tetapi berusaha untuk menjadi penghuni langit kelak adalah sebuah hal yang sama-sama akan terus kita juangkan. Kita tidak pernah lebih besar daripada amanah yang Allah embankan kepada Nabiullah Muhammad Shallallahu 'alaihi wassallam. Tetapi menjalankan sunnah serta hukum islam yang beliau jaga dan terap hingga akhir usia adalah juga amanah kita sebab telah mengikrar sumpah dengan syahadat. Kita tidak pernah lebih daripada lalat yang jika terjatuh dalam bejana berisi air, maka sebagian dari sayapnya adalah racun dan sebagian yang lain adalah penawar atau obatnya. Kita, manusia yang penuh buruk juga baik, yang penuh putih juga kadang hitam hatinya. Manusia yang kadang bermanfaat dan kadang memberi luka kepada saudara. Tetapi, Allah yang Maha Baik, telah menjadikan kita fitrah sejak lahir dan selalu memberikan kita petunjuk untuk selalu mengingatNya dengan shalat dan dzikir. Kita harus pandai benar membaca tanda-tandaNya sebagai bukti cinta yang agung dariNya.

Take care, Muslimah!


Take care, berdakwah tidak selalu mulus. Selalu ada orang-orang yang penuh dengki dalam hatinya, lalu mengolok dan mengejek. Take care, berdakwah tidak selalu mengalami penerimaan. Selalu saja ada yang menolak dan berpaling. Take care, tetapi jangan lengah dari rintangan dakwah yang cukup banyak. Take care, we have to be strong! Allah is always with us.


Belajar Banyak Hal dari Film "The Book Thief"


Setelah menonton film "The Book Thief" (2013) yang menggambarkan seorang remaja keturunan Yahudi yang ketagihan membaca dan mencuri buku untuk membacakannya kepada seorang Yahudi yang jatuh sakit dan disembunyikan di bawah tanah rumahnya, di film itu, saya justru lebih tertarik dengan kisah Hitler dan tentara Nazi-nya yang mengecam seluruh Yahudi untuk keluar dari negaranya, Jerman. Saya tetiba penasaran dan bertanya tentang: mengapa Hitler sangat membenci Yahudi? Hal ini pernah saya tanyakan kepada seorang teman dan tidak menemui jawaban.

Rupanya, setelah membaca buku "Armageddon, Peperangan Akhir Zaman" (Gema Insani, 2003), pertanyaan saya terjawab. Bahwa pada 31 Agustus 1949, Ben Gurion yang merupakan pemimpin Zionis Israel, dihadapan delegasi Amerika yang sedang berkunjung ke Israel menyatakan, "Walaupun kami merealisasikam mimpi kami untuk menciptakan sebuah negara Yahudi, kami masih berada dalam tahap permulaan. Sekarang hanya ada 900 ribu orang Yahudi di Israel, sementara itu mayoritas orang Yahudi masih berada di luar negeri. Tugas masa depan kami adalah membawa seluruh orang Yahudi ke Israel."
Nah, untuk merealisasikan kembalinya bangsa Yahudi ke Israel, maka para pemimpin Zionis membuat program pemaksaan agar seluruh Yahudi yang berada di luar Israel segera kembali ke Israel. Di antaranya adalah kerja sama atau kesepakatan rahasia antara Zionis dan Nazi Jerman agar dengan kekejaman tentara Nazi tersebut, maka Yahudi di Jerman segera pergi ke Palestina.

Dalam film "The Book Thief" yang mengklaim sebagai kisah nyata yang terjadi pada Februari 1938, orang-orang Yahudi diusir dari Jerman dimana mereka telah banyak bermukim di sana. Siapa saja yang membela Yahudi, siapa saja yang ketahuan menyembunyikan seorang Yahudi di rumahnya, maka akan dihukum berat bahkan dibunuh. Kekejaman yang dilakukan oleh tentara Nazi untuk menciptakan kondisi tidak nyaman dan orang Yahudi memilih kembali ke negaranya.
Selain di Jerman, juga dilakukan teror untuk mengganggu orang Yahudi di Polandia dan Irak yang disebut sebagai teror Haganah, dikomandani oleh Ben Gurion sendiri yang bertujuan sama yaitu agar orang Yahudi kembali ke Israel.
Hal ini tentu beralasan, mengumpulnya Yahudi di Israel, merupakan janji Allah yang terakhir dan akan memicu mereka berkumpul di Yerussalem sebagai tempat mereka akan diazab dengan azab yang pedih. Mereka yang berasal dari berbagai negara telah menyebabkan berbagai perubahan kultur, bahasa, dll, sehingga keadaan mereka saat dikumpulkan seperti logam yang bercampur baur/berlainan jenis.

"Dan kami berfirman setelah itu kepada bani Israel, 'Berdiamlah kalian di bumi ini dan apabila datang Wa'dul Akhiroh (janji akhir), niscaya kami akan mendatangkan kalian dalam keadaan bercampur baur.'" (Q.S Al-Israa: 104)
.
.
.
.
Makassar, 10 Juni 2016

Yang Tuturnya Selalu Ilmu; Coach Gunawan


"Seni kehidupan adalah melepaskan dan menerima apa yang telah ditetapkan oleh Allah." Kalimat itu diujar oleh Coach Gunawan. Kalimat yang memilki maknanya sendiri. Kalimat yang mengajarkan kita bahwa setiap apa yang ada di dunia ini adalah milik Allah dan akan kembali kepadaNya. Mengajarkan kita bahwa setiap apa yang pernah datang, tidak pernah benar-benar menetap. Mengajarkan kita bahwa setiap apapun hanya singgah, tidak pernah benar-benar tinggal.

Kebaikan akan datang untuk kita mencari hikmah yang banyak. Kebaikan pergi untuk menitipkan hikmah lalu kita dapat merenunginya untuk menjadi penerungan yang panjang lalu diamalkan dalam kebaikan yang lain.

Coach Gunawan (Internasional Certified NLP Trainer) telah genap setahun membersamai guru-guru dan pegawai di SIT Nurul Fikri Makassar. Sejak delapan Januari dua ribu delapan belas hingga sebelas januari dua ribu sembilan belas. Membersamai dalam kebaikan yang banyak, dengan pesan kehidupan yang banyak. Beliau yang penuh ilmu di isi hati dan kepalanya adalah sesosok yang akan selalu kami rindukan. Saat ini, beliau akan kembali belajar, lalu mengajar, berbagi banyak kebaikan di banyak tempat. Bukan hanya di Indonesia.

"Temukan aktivitas akhakul karimah kalian. Hadirkan rasa nyaman ketika melakukannya. Jadilah sebagai manusia yang banyak memberikan kebaikan kepada orang lain. Dan yang terakhir adalah libatkan Allah dalam setiap hal." Pesan Coach Gunawan pada siang di hari Kamis (9/01/19).

Apapun profesi kita, apapun hal yang kita yakini, apapun hal yang kita ingin lakukan, kita harus menjadi sebuah solusi bagi ummat. Memberikan kualitas amalan terbaik kalau ada masalah.

"Jadikan Nurul Fikri sebagai tempat untuk menggodok diri sebagai pribadi yang baik ke depan. Yang akan memandu untuk lebih baik ke depan." Tambahnya sebelum berpamitan. "Saya titip anak-anak Nurul Fikri. Mereka adalah imamul muttaqin, anak-anak surga yang akan memimpin ummat islam ke depannya. Sungguh, perjuangan kita masih cukup panjang." Air mata akhirnya tumpah, tak mampu lagi tertampung. Beliau mengusapnya, tetapi air mata kami semakin menjadi.

Sungguh, kalimat itu penuh dengan amanah. Seperti titipan yang harus dijaga baik-baik, benar-benar, sungguh-sungguh, yakin-yakin. Kalimat yang meminta untuk diterjemahkan bukan hanya dalam bentuk visi dan misi, tetapi juga aksi. Sebuah aksi yang harus dilakukan dengan langkah pertama. Sebab keputusan dengan hajat banyak, selalu dilakukan dengan langkah pertama. Sebab satu atau seratus kesuksesan yang besar selalu diawali dengan langkah pertama.

Dua hari yang lalu, beliau berjalan hingga punggungnya meninggalkan kami di balik pintu. Beliau adalah buku berjalan. Kepalanya adalah kumpulan ribuan memori yang terus diisi dengan keilmuan yang banyak dan beragam. Tak perlu dipertanyakan bagaimana kontribusinya dalam dakwah dan perjuangan. Tak perlu dipertanyakan bagaimana beliau begitu gigih menuntut ilmu dan berbagi banyak hal.

Perilaku manusia ada pada dua sisi. Yaitu positif dan negatif. Kita tahu, bahwa hal yang negatif itu ada tetapi kita tak bisa menghentikannya. Ia melekat. Pun beliau, juga tidak lepas dari yang namanya sisi negatif. "Tetapi sisi negatif kita bisa diubah ke arah baru, ke arah yang lebih baik. Misalnya, karakter boros. Itu adalah sifat alamiah yang dimiliki, tetapi kita bisa menjadikannya sebagai potensi kebaikan dengan misalnya 'boros' membelanjakan materi di jalan dakwah dan di jalan perjuangan kita sebagai ummat Islam." Di sebuah sesi pertemuan, beliau pernah menyebut kalimat itu.

Selamat mengerjakan seribu urusan, Coach. Selamat belajar banyak hal (lagi). Semoga dimudahkan. Sungguh, kami menunggu kisah-kisah hikmah yang datang dari seluruh penjuru dunia untuk didengarkan dan dijadikan pelajaran.

Syukran, Jazakallahu Khairan atas setiap ilmu yang diberikan. Atas setiap nilai-nilai kehidupan yang didatangkan di telinga kami. Atas setiap kebaikan yang diberikan. Atas setiap semangat gigih. Atas setiap yang telah kami jadikan visi misi lalu telah menjadi aksi. Atas setiap hal-hal yang kami rencanakan dan akan berusaha kami tunaikan dengan sungguh. Atas setiap kebersamaan yang indah di SIT Nurul Fikri Makassar.

Kami mohon doanya selalu agar tetap istikamah dalam medan juang ini. Untuk terus membersamai anak-anak Surga kami di sekolah. Untuk terus membimbing mereka dengan niat-niat tulus dan niat Lillah.

Sekali lagi, Syukran Jazakallahu Khairan. Pula kepada Ayah Tono (Ketua Yayasan SIT Nurul Fikri Makassar) yang dijadikan oleh Allah sebagai perantara dalam pertemuan ukhuwah ini. Juga kepada Coach Wiguna yang dengan setia mendampingi Coach Gunawan dalam setiap pertemuan. Barakallah fiikum.

Wassalam,
Makassar, 12 Januari 2018

Tentang yang Perlu Sama-sama Kita Ketahui; TERORIS


Sebab belum pandai berkendara motor, saya kerap pulang bekerja naik layanan kendaraan online; Grabcar, bersama seorang teman kerja. Hampir setiap hari, saya menemui supir dengan berbagai macam karakter. Mulai dari supir yang tidak mengeluarkan satu katapun, ada juga yang sangat cerewet, ada juga yang suka berceramah, ada yang bertanya tentang pekerjaan, sekolah, ada yang menasihati, mendoakan, bahkan tidak sedikit yang berbagi kisah masa lalu; curhat.

Seperti yang saya alami tadi di dalam sebuah mobil berwarna silver. Sebelumnya, dari arah jalan Meranti menuju ke perbelokan ke jalan Anggrek Raya, tiba-tiba ada banyak sekali palang kawat berduri berjejer di sepanjang pinggir jalan hingga masuk ke sebuah lahan kosong. Saya dan teman lalu saling menebak, saling mengira "Mungkin itu digunakan untuk memberantas demo." Kata teman saya.

Lalu saya menimpali, "mana ada demo di sini? Demo tentang apa juga yang akan orang-orang lakukan?" Teman saya lalu mengiyakan. "Atau kalau menurut saya, itu disiapkan untuk tindakan terorisme?" Saya bergidik takut sementara teman saya kembali menimpali. "Astagfirullah. Semoga tidak ada." Saya lalu sadar kalau ucapan saya berlebihan padahal saya sedang bercanda. Saya kemudian ikut beristighfar.

Lalu kami mendengar Pak Supir tertawa pelan. "Luar biasa kalau ada Teroris. Menakutkan sekali. Saya pernah alami di daerah (*tiiiiiit! Sensor)" Kalimatnya kemudian membuat saya penasaran.

"Betul, Pak?" Saya memperbaiki posisi duduk. Sementara teman saya masih santai dengan posisi duduknya dengan memegang kantung plastik di tangannya.

"Iya. Di sana, saya bahkan harus memakai identitas agama lain. Padahal saya muslim." Pak Supir itu berbicara dengan nada serius sambil menggeleng kepala pelan. "Kalau ditahu sebagai muslim, langsung dibantai, dibunuh ditempat!" Tambahnya.

"Bagaimana dengan keluarga Bapak yang lain?" Saya penasaran.

"Mereka di Makassar. Ke sana, saya berdagang. Menjual barang-barang."

"Merantau, Pak?"

"Bukan, hanya menjual saja." Ucapnya meyakinkan. "Namanya cari uang", "Dulu itu, saya bahkan tinggal di atas gunung dengan orang-orang muslim lainnya selama dua bulan. Itupun awalnya teman yang mengajak saya ke sana itu meninggalkan saya. Dia baru menelpon saat sudah ada di atas gunung." Pak Supir berkisah dengan apik sekali. Kepalanya kembali menggeleng pelan.

"Tega, ya, Pak?"

"Iya. Tapi alhamdulillah saya tetap ditelpon. Setelah mendapat telepon, saya langsung mencari gunung itu dan saya mendakinya." Pak Supir mengenang. "Bayangkan, kami makan mie rebus selama dua bulan! Bagaimana perut tidak sakit?" Dia tertawa cukup keras.

"Kasian." Pelan-pelan, saya iba padanya. "Tahun berapa itu, Pak?"

"Sekitar tahun.. (dia menyebut nama tahun, tapi saya lupa) kalau tidak salah. Saya sudah agak lupa."

"Berarti usia Bapak saat itu masih belasan?" Saya menebak.

"Ya. Kira-kira tujuh belas atau delapan belas tahun."

"Masih muda, ya, Pak." Sekarang, rambut kepala Pak Supir sudah mulai memutih. Diikuti dengan kacamata yang menandakan penglihatannya yang sudah cukup menghawatirkan. Mungkin di dalam hati, Pak Supir bilang begini, "Memangnya saya sudah tua sekali?"

"Di sana saya punya teman nonmuslim. Teman SD. Tapi, teman saya itu pernah bilang 'berapa nyawamu mau datang ke rumahku'?"

Kami kaget. "Wah!"

"Itulah, padahal dia teman SD. Biasanya kalau teman mendukung."

"Iya. Biasa juga melindungi." Teman saya menimpali.

"Ya itu yang saya harapkan tapi mendengar pertanyaan itu, 'berapa nyawamu mau datang ke rumahku?" Siapa yang mau mati sementara kita sedang mencari rezeki ke sana?" Kesalnya. "Kalau mereka tahu kalau kita orang muslim, dibunuh!"

"Setelah dua bulan, kami berjalan dan menemui sebuah jembatan kecil. Kalau sudah lolos dari jembatan itu, maka amanlah. Kita bebas." Dia bernapas lega diikuti suara tawa yang pelan. "Semenjak hari itu saya bilang PERTAMA DAN TERAKHIR KALI SAYA MENGINJAKKAN KAKI DI DAERAH ITU! SAYA TIDAK AKAN KEMBALI!  Walaupun orang-orang bilang di sana sangat bagus untuk berdagang, bisa banyak uang." Tambahnya sambil menyungging senyum kemenangan.

"Bukankah itu konfik yang didamaikan oleh Pak Jusuf Kalla, Pak?"

"Nah! Iya! Betul itu."

Saya mengangguk pelan.

"Sebenarnya, itu karena ada pendatang dari Daerah (tttiiiiit! Sensor!) yang ingin memerintah orang-orang sana. Ingin menguasai. Jadi, masyarakat daerah yang mayoritas nonmuslim itu menjadi sangat marah dan merasa harga diri mereka diinjak-injak. Jadilah orang muslim menjadi sasaran. Entah siapa yang memprovokasi dan terjadi pembantaian dimana-mana." Kenangnya. "Yang berbahaya sebenarnya si tukang provokasi itu."

"Iya, ya, Pak. Betul sekali." Saya mengangguk pelan, membenarkan. "Tapi, sekarang sudah aman, kan, Pak?"

"Iya. Sudah. Tapi saya tidak akan pernah ke sana lagi." Ucapnya menambah keyakinan.

Beberapa putar roda lagi, tujuan kami sudah tiba. Saya lalu menyiapkan ongkos dan bilang terimakasih saat kami sudah tiba.

Jadi, kita bisa sama-sama belajar. Bahwa sebenarnya, tindak teroris itu bukan dilakukan oleh yang mengatasnamakan dirinya muslim ataupun nonmuslim. Hanya saja, ada orang-orang yang otaknya penuh ilusi dan mempengaruhi orang lain dengan iming-iming yang tidak masuk akal. Berawal dari kepala yang tidak berakal, maka keluarannya adalah orang-orang yang dengan kepala dan sikapnya yang tidak masuk akal. Mereka seperti tidak memilki tujuan, tidak ada arah hidup.

15 Mei 2018





Menjadi Reporter Cilik, Mencari Ilmu dari Guru


Ada hal yang cukup menggemaskan di Ekskul Sastra dan Public Speaking. Walau mereka sisa secuil, tetapi semangatnya selalu gebu. Materi yang mereka dapatkan adalah tentang menjadi "Reporter Cilik".

Sebelum terjun ke lapangan mencari informasi, mereka dibekali dengan ilmu menjadi wartawan. Mulai dari adab saat berada di depan narasumber hingga rumus 5W1H yang harus mereka kuasai. Seru, tegang, dan antusias saya dapati saat mereka mulai berlari dengan cekatan mencari narasumber untuk dikorek informasi tentang "Kebiasaan Membaca". Saya bahkan kelagapan mencari mereka di banyak tempat. Karena yang wajib mereka wawancarai adalah guru yang bukan mengajarinya di kelas. Ada yang bertabrakan, yang bingung sambil tertawa, dan bahkan saling berebut narasumber. "Silakan cari yang lain, Nak." Saya mengarahkan. Saya tidak tahu yang lain dimana karena mereka cukup lincah bergerak. Seorang reporter memang sebaiknya cekatan dan cepat untuk memperoleh informasi yang valid namun, tidak terburu-buru.

Setelah mencari mereka dimana-mana, Reporter Cilik yang berhasil saya dapati adalah ananda Farah Nafeeza. Si cantik berlesung pipit itu menemui ustadz Suwandi di ruang TPQ dengan bertanya beberapa hal. Saya melihat antusiasnya yang besar, padahal baru bergabung dengan kami sekitar dua bulan belakangan. Sambil memakai ID Card Reporter Cilik, Farah dengan baiknya menggali informasi dari narasumber.


Berdasarkan informasi yang didapatkan, "Ustadz Suwandi suka baca Alquran. Katanya, isi Alquran itu kalimatnya indah. Tersusun rapi dan tanpa kontradiksi. Alquran juga bisa mendatangkan banyak pahala, sebagai penasihat, dan sebagai obat." Tulis Farah saat mengolah berita dalam tulisan.

Selanjutnya ada Fayza Afifah atau yang akrab disapa Fey. Fey rupanya ada di lantai dua di ruang guru dan memilih Ustadz Sandi sebagai narasumbernya. Saya datang dan Fey terlihat malu. "Lanjut saja, Nak." Terang saya. _"Ustadz Sandi suka membaca buku tentang Sahabat Nabi dan selalu ditemani dengan kucingnya. Kalau baca buku selalu di atas pohon."_ Tulis Fey  saat mengolah berita. Saya sedikit tertawa. "Seperti bercanda Ustadz menjawab. Tapi katanya serius." Eluh Fey.

Selanjutnya ada Andi Arhesay. Si fanatik dengan kelas ekskul sastra dan public speaking. Perempuan berkulit hitam manis itu sejak dari tadi mondar mandir naik turun tangga hanya demi mencari narasumber yang menurutnya tidak akan membuatnya grogi. "Adami yang ambil narasumberku, Ustadzah." Ia membela diri saat setelah lima menit berlalu dan belum mendapatkan narasumber. Dan bertemulah ia dengan Ustadzah Fatimah Hasmi lalu bersalaman dan memperkenalkan diri. _"Ustadzah Fatimah sangat suka dengan buku parenting. Kebiasaan membacanya sangat kuat. Katanya buku Parenting itu dibacanya saat ada waktu luang. Ekspresi Ustadzah Fatimah saat itu sangat senang karena dengan membaca buku Parenting, ia bisa mendapatkan ilmu tentang cara merawat dan mendidik anaknya dengan baik."_ Tulis ananda yang akrab disapa Esa itu.

How about her? Yes, her name is Alfiah Najla. Perempuan yang suka mencuri perhatian dengan gerakan-gerakan yang entah. Dia berlari bersama Esa mencari narasumber hingga tidak tahu kemana dia beranjak setelahnya. Setelah mondar mandir, saya hanya mendapati Farah, Fey, dan Esa. Tidak menemukan yang lain. Foto ini diambil saat proses pengolahan berita. Rupanya, Najla mewawancarai Ustadz Suriadi, salah satu guru di tim TPQ. _Tempat yang panaaaaaalingggggg pas untuk membaca adalah di tempat lapang dan sunyi pada waktu sore hari. Mengapa Ustadz Suriadi menyukainya? Karena banyak berkaitan dengan biologi, tubuh manusia, dan semacamnya. Serta membuktikan bahwa ilmu agama juga pastinya berkaitan."_ Tulis Najla sebagai laporan isi beritanya.

Fatimah. Ananda yang satu ini juga baru bergabung dengan kami dua bulan belakangan. Paling sering mengurai senyum hingga terpancar di matanya. Saya juga tidak menemukannya dimanapun saat proses wawancara berlangsung. Rupanya dia datang pada Ustadzah Risma. "Nekad Jadi Guru" adalah buku yang sangat disukai oleh Ustadzah Risma. _"Suka membaca buku karena berhubungan dengan profesi dan harus terus belajar agar bisa menjadi yang lebih baik lagi sehingga menginspirasi."_ Tulis Fatimah.

Dan terakhir adalah lelakiku satu-satunya di Ekskul Sastra dan Public Speaking, Charly Kamase. Si Deng Toa yang semangatnya 45 kalau jam ekskul sudah tiba. "Ustadzah, kenapa tidak ada ekskul sastra di jam kedua? Mauka ikut saja jam pertama dan kedua." Pintanya dan saya hanya tertawa kecil. Saya heran dan bertanya-tanya tentang Charlie yang begitu cepat hilang dari pandangan tadi dan itu berarti dia akan menjadi yang pertama selesai mewawancarai. Tetapi dugaan saya salah. Ia begitu lama. Rupanya, usut punya usut dia mewawancarai sebanyak tiga orang guru. Padahal perintahnya hanya satu saja. Luar biasa. Adalah Ustadzah Nining, Ustadzah Yanti, dan Ustadz Fitrayang berhasil diwawancarai oleh Charlie. Katanya begini, "Ustadzah Yanti, Ustadzah Nining, dan Ustadzah Fitrah kompak bilang kalau mereka suka baca buku karena masih jomlo, masih sendiri."

Tulisan ini saya buat pada 29 Maret 2019. Tepat di hari yang sama mereka melakukan kegiatan tersebut dalam kelas ekskul sastra dan public speaking yang setiap pekan di hari Jumat mereka ikuti. Mereka adalah angkatan kedua di kelas ekskul ini. Sama seperti tahu lalu, walau peminatnya nyaris sama jumlahnya, satu-satunya lelaki juga ada di angkatan pertama. Fadhil namanya.

Oiya, selepas mendapatkan informasi tersebut, pada pertemuan selanjutnya, mereka akan menjadi pembawa berita. Mirip seperti pembawa acara di televisi. Mendengar hal itu, wajah mereka sumringah. Seperti senang sekali dengan tantangan.

Salam Literasi!


Pengabulan Allah

Kita tidak pernah tahu, bisik hati mana yang akan Allah kabulkan. Kita tidak pernah tahu doa dari siapa yang akan Allah indahkan. Dan kit...