Sabtu, 06 April 2019

Menjadi Reporter Cilik, Mencari Ilmu dari Guru


Ada hal yang cukup menggemaskan di Ekskul Sastra dan Public Speaking. Walau mereka sisa secuil, tetapi semangatnya selalu gebu. Materi yang mereka dapatkan adalah tentang menjadi "Reporter Cilik".

Sebelum terjun ke lapangan mencari informasi, mereka dibekali dengan ilmu menjadi wartawan. Mulai dari adab saat berada di depan narasumber hingga rumus 5W1H yang harus mereka kuasai. Seru, tegang, dan antusias saya dapati saat mereka mulai berlari dengan cekatan mencari narasumber untuk dikorek informasi tentang "Kebiasaan Membaca". Saya bahkan kelagapan mencari mereka di banyak tempat. Karena yang wajib mereka wawancarai adalah guru yang bukan mengajarinya di kelas. Ada yang bertabrakan, yang bingung sambil tertawa, dan bahkan saling berebut narasumber. "Silakan cari yang lain, Nak." Saya mengarahkan. Saya tidak tahu yang lain dimana karena mereka cukup lincah bergerak. Seorang reporter memang sebaiknya cekatan dan cepat untuk memperoleh informasi yang valid namun, tidak terburu-buru.

Setelah mencari mereka dimana-mana, Reporter Cilik yang berhasil saya dapati adalah ananda Farah Nafeeza. Si cantik berlesung pipit itu menemui ustadz Suwandi di ruang TPQ dengan bertanya beberapa hal. Saya melihat antusiasnya yang besar, padahal baru bergabung dengan kami sekitar dua bulan belakangan. Sambil memakai ID Card Reporter Cilik, Farah dengan baiknya menggali informasi dari narasumber.


Berdasarkan informasi yang didapatkan, "Ustadz Suwandi suka baca Alquran. Katanya, isi Alquran itu kalimatnya indah. Tersusun rapi dan tanpa kontradiksi. Alquran juga bisa mendatangkan banyak pahala, sebagai penasihat, dan sebagai obat." Tulis Farah saat mengolah berita dalam tulisan.

Selanjutnya ada Fayza Afifah atau yang akrab disapa Fey. Fey rupanya ada di lantai dua di ruang guru dan memilih Ustadz Sandi sebagai narasumbernya. Saya datang dan Fey terlihat malu. "Lanjut saja, Nak." Terang saya. _"Ustadz Sandi suka membaca buku tentang Sahabat Nabi dan selalu ditemani dengan kucingnya. Kalau baca buku selalu di atas pohon."_ Tulis Fey  saat mengolah berita. Saya sedikit tertawa. "Seperti bercanda Ustadz menjawab. Tapi katanya serius." Eluh Fey.

Selanjutnya ada Andi Arhesay. Si fanatik dengan kelas ekskul sastra dan public speaking. Perempuan berkulit hitam manis itu sejak dari tadi mondar mandir naik turun tangga hanya demi mencari narasumber yang menurutnya tidak akan membuatnya grogi. "Adami yang ambil narasumberku, Ustadzah." Ia membela diri saat setelah lima menit berlalu dan belum mendapatkan narasumber. Dan bertemulah ia dengan Ustadzah Fatimah Hasmi lalu bersalaman dan memperkenalkan diri. _"Ustadzah Fatimah sangat suka dengan buku parenting. Kebiasaan membacanya sangat kuat. Katanya buku Parenting itu dibacanya saat ada waktu luang. Ekspresi Ustadzah Fatimah saat itu sangat senang karena dengan membaca buku Parenting, ia bisa mendapatkan ilmu tentang cara merawat dan mendidik anaknya dengan baik."_ Tulis ananda yang akrab disapa Esa itu.

How about her? Yes, her name is Alfiah Najla. Perempuan yang suka mencuri perhatian dengan gerakan-gerakan yang entah. Dia berlari bersama Esa mencari narasumber hingga tidak tahu kemana dia beranjak setelahnya. Setelah mondar mandir, saya hanya mendapati Farah, Fey, dan Esa. Tidak menemukan yang lain. Foto ini diambil saat proses pengolahan berita. Rupanya, Najla mewawancarai Ustadz Suriadi, salah satu guru di tim TPQ. _Tempat yang panaaaaaalingggggg pas untuk membaca adalah di tempat lapang dan sunyi pada waktu sore hari. Mengapa Ustadz Suriadi menyukainya? Karena banyak berkaitan dengan biologi, tubuh manusia, dan semacamnya. Serta membuktikan bahwa ilmu agama juga pastinya berkaitan."_ Tulis Najla sebagai laporan isi beritanya.

Fatimah. Ananda yang satu ini juga baru bergabung dengan kami dua bulan belakangan. Paling sering mengurai senyum hingga terpancar di matanya. Saya juga tidak menemukannya dimanapun saat proses wawancara berlangsung. Rupanya dia datang pada Ustadzah Risma. "Nekad Jadi Guru" adalah buku yang sangat disukai oleh Ustadzah Risma. _"Suka membaca buku karena berhubungan dengan profesi dan harus terus belajar agar bisa menjadi yang lebih baik lagi sehingga menginspirasi."_ Tulis Fatimah.

Dan terakhir adalah lelakiku satu-satunya di Ekskul Sastra dan Public Speaking, Charly Kamase. Si Deng Toa yang semangatnya 45 kalau jam ekskul sudah tiba. "Ustadzah, kenapa tidak ada ekskul sastra di jam kedua? Mauka ikut saja jam pertama dan kedua." Pintanya dan saya hanya tertawa kecil. Saya heran dan bertanya-tanya tentang Charlie yang begitu cepat hilang dari pandangan tadi dan itu berarti dia akan menjadi yang pertama selesai mewawancarai. Tetapi dugaan saya salah. Ia begitu lama. Rupanya, usut punya usut dia mewawancarai sebanyak tiga orang guru. Padahal perintahnya hanya satu saja. Luar biasa. Adalah Ustadzah Nining, Ustadzah Yanti, dan Ustadz Fitrayang berhasil diwawancarai oleh Charlie. Katanya begini, "Ustadzah Yanti, Ustadzah Nining, dan Ustadzah Fitrah kompak bilang kalau mereka suka baca buku karena masih jomlo, masih sendiri."

Tulisan ini saya buat pada 29 Maret 2019. Tepat di hari yang sama mereka melakukan kegiatan tersebut dalam kelas ekskul sastra dan public speaking yang setiap pekan di hari Jumat mereka ikuti. Mereka adalah angkatan kedua di kelas ekskul ini. Sama seperti tahu lalu, walau peminatnya nyaris sama jumlahnya, satu-satunya lelaki juga ada di angkatan pertama. Fadhil namanya.

Oiya, selepas mendapatkan informasi tersebut, pada pertemuan selanjutnya, mereka akan menjadi pembawa berita. Mirip seperti pembawa acara di televisi. Mendengar hal itu, wajah mereka sumringah. Seperti senang sekali dengan tantangan.

Salam Literasi!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengabulan Allah

Kita tidak pernah tahu, bisik hati mana yang akan Allah kabulkan. Kita tidak pernah tahu doa dari siapa yang akan Allah indahkan. Dan kit...