Sabtu, 06 April 2019

Perempuan Penuh Doa; Mamak



Setiap kali mata saya memejam, yang pertama terlintas adalah wajah Mamak dan Bapak. Lengkap dengan raut wajah mereka yang kulit wajahnya sudah terjatuh. Pun rambut kepala dan alisnya, penuh dengan warna putih mengkilat. Mereka tak lagi terlihat seperti usia tiga puluh atau empat puluh tahun.

Mamak adalah kekasih paling setia di dunia. Hatinya, bahkan seluruh bagian tubuhnya ia mampu relakan untuk kami, anak-anaknya. Ketika kudapati ia bekerja demikian giat dan keras, demikian juga kami memahami betapa cintanya tiada henti. Betapa kasih sayangnya luas tak bisa dibendung. Mamak yang tidak pernah membiarkan kami berjuang sendiri-sendiri, doanya selalu ikut bekerja, menemani langkah kaki kami. "Biarpun tidak meminta, doaku selalu mengiringi." Demikian selalu katanya ketika kami memohon doa restu atas langkah kaki. Lantas, setelah doa Mamak bekerja, kami dapat menata langkah-langkah. Allah membuatnya mudah.

Pernah, pada waktu beberapa malam, ketabahan saya hilang. Pergi entah ke mana. Tangan saya terus memegangi perut yang sakit hingga cucur keringat tak mampu lagi menahan dirinya untuk keluar dari pori-pori kulit. Seluruh bagian kepala saya seperti penuh, akan pecah, akan tumpah. Pada beberapa malam itu, ada seseorang yang dengan giat memberikan pemahaman, memberikan banyak perhatian. Seseorang yang sejak masih usia awal mengandungnya, kasih dan sayangnya selalu bertumpuk banyak, berlapis, hingga memberikan banyak kebaikan. Menjadi atap dan rumah yang paling aman dan nyaman untuk menaruh panas air mata. Ketabahannya selalu menguatkan menguat dan menguatkan. Seperti akar yang mengokoh kuat di bawah tanah, lalu menumbuhkan batang, ranting, dedaunan, bunga, hingga buah yang ranum rasa dan wanginya.

Pernah, pada beberapa waktu, saat berjuang pada kehidupan, tekad saya yang pernah kuat entah lenyap ke bagian bumi mana. Semangat saya ciut. Mirip seperti kerupuk yang lama terkena udara, atau seperti kertas tissue yang terendam air. Pada beberapa waktu itu, ada seseorang yang menjadi penguat. Seseorang yang doanya sungguh melangit hingga berkata, “Tenang saja, Nak. Doa kami (juga Bapak) tak pernah lepas sejengkalpun.” Seseorang itu adalah sosok yang menjadi anugerah terindah dalam hidup saya. Seseorang yang dengan kalimatnya yang bijak, mampu memberi rasa sakinah di dalam dada hingga mampu menjadikan hal-hal yang sebelumnya membuat pikiran penuh dengan buruk menjadi baik laiknya ombak yang menelan buih di lautan. Hilang sekejap, seketika.

Saya selalu percaya bahwa Allah adalah sumber seluruh kebaikan itu berasal. Saya senatiasa memercayai, bahwa Allah tidak akan pernah diam dan membiarkan hambaNya hanya duduk diam dan tidak diberikan apa-apa. Saya selalu percaya bahwa doa Mamak tidak pernah lepas dan adalah doa-doa yang tidak ada batas, tidak ada penghalang, tidak bersekat dengan kabulan dari Allah. Doa Mamak adalah perisai, adalah tombak. Hingga kalimat yang pernah saya baca, “Suksesmu saat ini adalah buah yang tidak lepas dari doa-doa Mamakmu” pun saya benarkan adanya.

Isi dari doa-doa Mamak memang jarang bahkan hampir tidak pernah didengar telinga. Isi dari doa-doanya adalah cinta yang disimpan dan diminta untuk dikabulkan oleh Allah. Bahkan semenjak masih rahim, sejak bulan demi bulan usia kandungan, sejak tangisan pertama terdengar, sejak menumbuh, sejak dunia memulai dirinya untuk memenuhi hidup kami. Doa-doa Mamak adalah doa yang penuh dengan harapan kebaikan bagi keluarganya, bagi anak-anaknya. Doa-doa itulah yang mampu menembus langit hingga lapis ke tujuh. Sebab doa-doa itulah yang Allah bisa jadikan sebagai salah satu takdir kebaikan. Sebab, jika ada takdir yang tidak berpihak, maka doa menjadi satu-satunya cara untuk mengubah takdir. "Tidak ada yang dapat menolak takdir terkecuali doa." Demikianlah bunyi hadis yang pernah Rasulallah saw. sampaikan kemudian dicatat oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Pernah,  saya meminta restu dan doa Mamak. Saya lupa pada kejadian yang mana, tetiba saya penasaran setelah doa-doa itu benar terkabul, “Mak, apa doa Mamak untuk saya? Bagaimana isinya?” Maka pertanyaan saya dijawab begini, “Rahasia. Intinya, doa-doa itu penuh dengan kebaikan.”

Demikianlah Mamak saya. Perempuan yang sederhana, yang penuh dengan harapan dan doa terbaik untuk keluarga dan anaknya. Perempuan yang penuh dengan doa-doa di isi hati dan kepalanya. Saya ingin seperti Mamak. Menjadi perempuan yang penuh doa untuk anak, keluarga, dan banyak orang.

Love you, Mamak. Love you so much!

Makassar, 23 Desember 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengabulan Allah

Kita tidak pernah tahu, bisik hati mana yang akan Allah kabulkan. Kita tidak pernah tahu doa dari siapa yang akan Allah indahkan. Dan kit...