Sabtu, 06 April 2019

Tentang yang Perlu Sama-sama Kita Ketahui; TERORIS


Sebab belum pandai berkendara motor, saya kerap pulang bekerja naik layanan kendaraan online; Grabcar, bersama seorang teman kerja. Hampir setiap hari, saya menemui supir dengan berbagai macam karakter. Mulai dari supir yang tidak mengeluarkan satu katapun, ada juga yang sangat cerewet, ada juga yang suka berceramah, ada yang bertanya tentang pekerjaan, sekolah, ada yang menasihati, mendoakan, bahkan tidak sedikit yang berbagi kisah masa lalu; curhat.

Seperti yang saya alami tadi di dalam sebuah mobil berwarna silver. Sebelumnya, dari arah jalan Meranti menuju ke perbelokan ke jalan Anggrek Raya, tiba-tiba ada banyak sekali palang kawat berduri berjejer di sepanjang pinggir jalan hingga masuk ke sebuah lahan kosong. Saya dan teman lalu saling menebak, saling mengira "Mungkin itu digunakan untuk memberantas demo." Kata teman saya.

Lalu saya menimpali, "mana ada demo di sini? Demo tentang apa juga yang akan orang-orang lakukan?" Teman saya lalu mengiyakan. "Atau kalau menurut saya, itu disiapkan untuk tindakan terorisme?" Saya bergidik takut sementara teman saya kembali menimpali. "Astagfirullah. Semoga tidak ada." Saya lalu sadar kalau ucapan saya berlebihan padahal saya sedang bercanda. Saya kemudian ikut beristighfar.

Lalu kami mendengar Pak Supir tertawa pelan. "Luar biasa kalau ada Teroris. Menakutkan sekali. Saya pernah alami di daerah (*tiiiiiit! Sensor)" Kalimatnya kemudian membuat saya penasaran.

"Betul, Pak?" Saya memperbaiki posisi duduk. Sementara teman saya masih santai dengan posisi duduknya dengan memegang kantung plastik di tangannya.

"Iya. Di sana, saya bahkan harus memakai identitas agama lain. Padahal saya muslim." Pak Supir itu berbicara dengan nada serius sambil menggeleng kepala pelan. "Kalau ditahu sebagai muslim, langsung dibantai, dibunuh ditempat!" Tambahnya.

"Bagaimana dengan keluarga Bapak yang lain?" Saya penasaran.

"Mereka di Makassar. Ke sana, saya berdagang. Menjual barang-barang."

"Merantau, Pak?"

"Bukan, hanya menjual saja." Ucapnya meyakinkan. "Namanya cari uang", "Dulu itu, saya bahkan tinggal di atas gunung dengan orang-orang muslim lainnya selama dua bulan. Itupun awalnya teman yang mengajak saya ke sana itu meninggalkan saya. Dia baru menelpon saat sudah ada di atas gunung." Pak Supir berkisah dengan apik sekali. Kepalanya kembali menggeleng pelan.

"Tega, ya, Pak?"

"Iya. Tapi alhamdulillah saya tetap ditelpon. Setelah mendapat telepon, saya langsung mencari gunung itu dan saya mendakinya." Pak Supir mengenang. "Bayangkan, kami makan mie rebus selama dua bulan! Bagaimana perut tidak sakit?" Dia tertawa cukup keras.

"Kasian." Pelan-pelan, saya iba padanya. "Tahun berapa itu, Pak?"

"Sekitar tahun.. (dia menyebut nama tahun, tapi saya lupa) kalau tidak salah. Saya sudah agak lupa."

"Berarti usia Bapak saat itu masih belasan?" Saya menebak.

"Ya. Kira-kira tujuh belas atau delapan belas tahun."

"Masih muda, ya, Pak." Sekarang, rambut kepala Pak Supir sudah mulai memutih. Diikuti dengan kacamata yang menandakan penglihatannya yang sudah cukup menghawatirkan. Mungkin di dalam hati, Pak Supir bilang begini, "Memangnya saya sudah tua sekali?"

"Di sana saya punya teman nonmuslim. Teman SD. Tapi, teman saya itu pernah bilang 'berapa nyawamu mau datang ke rumahku'?"

Kami kaget. "Wah!"

"Itulah, padahal dia teman SD. Biasanya kalau teman mendukung."

"Iya. Biasa juga melindungi." Teman saya menimpali.

"Ya itu yang saya harapkan tapi mendengar pertanyaan itu, 'berapa nyawamu mau datang ke rumahku?" Siapa yang mau mati sementara kita sedang mencari rezeki ke sana?" Kesalnya. "Kalau mereka tahu kalau kita orang muslim, dibunuh!"

"Setelah dua bulan, kami berjalan dan menemui sebuah jembatan kecil. Kalau sudah lolos dari jembatan itu, maka amanlah. Kita bebas." Dia bernapas lega diikuti suara tawa yang pelan. "Semenjak hari itu saya bilang PERTAMA DAN TERAKHIR KALI SAYA MENGINJAKKAN KAKI DI DAERAH ITU! SAYA TIDAK AKAN KEMBALI!  Walaupun orang-orang bilang di sana sangat bagus untuk berdagang, bisa banyak uang." Tambahnya sambil menyungging senyum kemenangan.

"Bukankah itu konfik yang didamaikan oleh Pak Jusuf Kalla, Pak?"

"Nah! Iya! Betul itu."

Saya mengangguk pelan.

"Sebenarnya, itu karena ada pendatang dari Daerah (tttiiiiit! Sensor!) yang ingin memerintah orang-orang sana. Ingin menguasai. Jadi, masyarakat daerah yang mayoritas nonmuslim itu menjadi sangat marah dan merasa harga diri mereka diinjak-injak. Jadilah orang muslim menjadi sasaran. Entah siapa yang memprovokasi dan terjadi pembantaian dimana-mana." Kenangnya. "Yang berbahaya sebenarnya si tukang provokasi itu."

"Iya, ya, Pak. Betul sekali." Saya mengangguk pelan, membenarkan. "Tapi, sekarang sudah aman, kan, Pak?"

"Iya. Sudah. Tapi saya tidak akan pernah ke sana lagi." Ucapnya menambah keyakinan.

Beberapa putar roda lagi, tujuan kami sudah tiba. Saya lalu menyiapkan ongkos dan bilang terimakasih saat kami sudah tiba.

Jadi, kita bisa sama-sama belajar. Bahwa sebenarnya, tindak teroris itu bukan dilakukan oleh yang mengatasnamakan dirinya muslim ataupun nonmuslim. Hanya saja, ada orang-orang yang otaknya penuh ilusi dan mempengaruhi orang lain dengan iming-iming yang tidak masuk akal. Berawal dari kepala yang tidak berakal, maka keluarannya adalah orang-orang yang dengan kepala dan sikapnya yang tidak masuk akal. Mereka seperti tidak memilki tujuan, tidak ada arah hidup.

15 Mei 2018





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengabulan Allah

Kita tidak pernah tahu, bisik hati mana yang akan Allah kabulkan. Kita tidak pernah tahu doa dari siapa yang akan Allah indahkan. Dan kit...