Sabtu, 12 Oktober 2019

Pengabulan Allah


Kita tidak pernah tahu, bisik hati mana yang akan Allah kabulkan. Kita tidak pernah tahu doa dari siapa yang akan Allah indahkan. Dan kita tidak pernah tahu kata-kata yang mana yang akan berubah menjadi pengabulan.

Selasa, 08 Oktober 2019

Menjadi Pemimpin yang Bukan Sekadar "Hanya Soal Waktu" (1)


Apa kabar kepemimpinan kita hari in?
Apa kabar shalat kita?
Apa kabar luka-luka batin kita?

"Enam bulan yang lalu, saya pamit ke Amerika. Tiga tahun akan di sana. Rupanya, Allah punya rencana lain. Allah mempertemukan kita kembali."

Betapa. Adalah kabar yang baik Coach Gunawan kembali ke Indonesia selama tiga bulan. Saya lupa untuk urusan apa. Yang jelas, menurut pengakuan beliau, rekan-rekan guru di SIT Nurul Fikri Makassar seperti memanggil hatinya untuk datang kembali bertamu, bertemu, dan berbagi ilmu. "Ana Uhibbukum Fillah." Itu kalimat terakhir beliau sebelum benar-benar meninggalkan tempat pelatihan dan kemudian menuju ke bandara.

"Saya bertanya kabar kepemimpinan antum. Itu berkaitan dengan raga. Saya bertanya tentang shalat antum. Itu berarti berkaitan dengan ketenangan kita. Terakhir, saya bertanya apa?" Coach Gunawan mengangkat telunjuknya ke atas. Pelan-pelan terdengar ada yang menjawab pertanyaannya. "Betul. Apa kabar luka-kuka batin kita?" Beliau diam beberapa detik. "Luka batin itu tidak ada. Yang seharusnya ada adalah perasaan kita baik-baik saja. Nyaman dan merasa aman saat berada di dekat orang."

Kami mendengar dengan penuh perhatian.

Pekan ini, saya membaca sebuah buku yang ditulis oleh Ustadz Salim A.Fillah, "Sunnah Sedirham Surga". Saya menemukan banyak sekali hal baik menyoal bagaimana sebaiknya sikap kita terhadap ilmu. Adab kita, rupa niat kita, perlakuan kita, hingga apakah benar ilmu itu akan berdiam pada laku kita. Salah satunya adalah kalimat Imam Syafi'i yang menyadarkan saya betapa menuntut ilmu itu sangat penting sekali.

"Aku terhadap ilmu seperti seorang Ibu yang mencari anak semata wayangnya. Ketika mendengar ilmu, maka aku berharap bahwa seluruh tubuhku adalah telinga." Ya, kalimat Imam Syafi'i itu indah sekali. Masuk ke dalam isi kepala saya. Maka, pada momen baik ini, pada perjumpaan dengan orang-orang hebat di Sekolah yang menghadirkan kembali Coach Gunawan, saya merasa butuh untuk bukan saja memasang badan dan telinga. Tetapi juga meibatkan tangan untuk mengingat ilmu yang keluar dari lisan beliau.

Coach Gunawan adalah seorang International NFNLP Trainer. Juga bagian dari John Maxwell Team. Beliau belajar langsung ke John C. Maxwell beserta para pemimpin perusahaan besar dunia. Barakallahu fiikk.

"Sediakan selembar kertas dan tuliskan dua masalah yang mengganggu pikiran antum dan belum terselesaikan hingga saat ini." Beliau mengarahkan kami. "Tulis dua masalah kalian dan kualitas leadership kalian akan terlihat dari apa yang dituliskan."

Deg! Ada apa ini? Baru beberapa menit bertemu yang diminta oleh beliau, kok, ya masalah-masalah?

Di waktu sepuluh menit kami mencoba menggali informasi di kelapa tentang masalah yang ada pada diri kami dalam hal memimpin tim kerja di sekolah. Selesai. Kami lalu diberi kesempatan untuk membacanya satu persatu.

Banyak hal yang mengejutkan, tentu.

Adalah hal yang manusiawi jika setiap kita memiliki masalah dalam hidup. Baik masalah dalam diri sendiri maupun dalam lingkungan kerja. "Itulah yang kita sebut sebagai masalah. Kepikiran, mengganjal, dan belum ada solusinya." Ujar Coach sesaat setelah kami menghabiskan giliran menyampaikan masalah masing-masing.

Level masalah yang paling banyak rupanya ada pada level personal. Dari sekitar empat puluh lebih orang, sebanyak 1tujuh belas orang yang bermasalah pada level tersebut. Selebihnya pada level operasional, managerial, hingga strategi. "Mari kita dudukkan masalah dan keluar dari masalah." Ajaknya dengan penuh keyakinan.

"Kapasitas kepemimpinan kita menentukan kesuksesan kita di dunia dan akhirat. Itu kalimat Maxwell. Hanya saja kita menambahkan kata "akhirat". Sebab memang itulah puncak dari tujuan kita sebenarnya."

"Tapi.. Suka tidak suka. Senang atau tidak senang. Bagi seorang pemimpin, level personal seharusnya sudah selesai!" Dengan nada sedikit keras, wajah Coach terlihat datar. Lalu dengan sesegera mungkin, beliau mengembangkan senyum. Bola matanya nyaris tidak terlihat.

Salah seorang rekan kerja yang baru bergabung terlihat sedikit kaget. Tetapi, seorang teman dengan cepat menjelaskan kalau karakter beliau memang seperti itu.

"Sangat manusiawi. Sangat manusiawi. Tapi, seorang pemimpin bukan manusia biasa. Karena dunia ini maju karena apa? Karena pemimpin!" Ujarnya sedikit gebu. "Permasalahan menjadi pemimpin memang berat. Tidak ada yang salah dengan masalah personal. Tapi kalau tidak bisa menyelesaikan masalah personal, bagaimana caranya seorang pemimpin menyelesaikan masalah timnya?"  Pertanyaan yang menghentak. Andai kata bisa bersembunyi, saya mungkin akan melakukannya. Sebab salah satu dari tujuh belas orang itu adalah diri saya sendiri.

"Hanya ada dua pilihan. Resign atau berubah. Pilih mana?" Beliau bertanya dengan menatap kami satu persatu yang diam seribu bahasa. "Pilih mana?!" Pertanyaan itu diulang dengan intonasi yang cukup keras.

"Berubah." Secara bersamaan kami menyebutnya  pelan-pelan. Ada juga yang cukup lantang memperdengarkan suaranya.

Berubah. Adalah sebuah kata yang sangat mudah disebut namun penerapan prosesnya butuh juang yang panjang dan serius. Serius yang dimaksud oleh John. C Maxwell adalah jika mengeluarkan keringat, materi, dan juga waktu.

"Tadi, juga banyak yang bermasalah dengan waktu." Beliau kembali berbicara. "Don't manage you time. Kita sama sekali tidak bisa mengatur waktu karena waktu tidak bisa diatur."

"Tahu Oxymoron?" Beliau mengangat tangan kanannya.

Tidak ada yang tahu. Telinga saya bahkan baru sekali itu saja mendengarnya.

"Oxymoron itu cara menghitung matahari dengan tangan. Bagaimana caranya?" Beliau sedikit mencontohkan. "Tetapi itu sebenarnya tidak realistis." Ah, isi lisan beliau selalu menarik untuk didengar. "Apa maksudnya? Kita kadang yakin pada hal-hal yang justru tidak bisa diyakini."

Demikianlah.

"Atur diri kita. Tidak ada yang gagal, kita yang gagal mengatur waktu kita. Kalau sudah begitu, masalah personal sampai kapanpun tidak pernah ada. Begitu masalah datang, kita langsung bisa mengaturnya untuk segera diselesaikan."

"Ini masalah ummat. Kita mau maju atau tidak?" Pertanyaan itu membuat hati bergetar.

Ummat. Ummat. Ummat.

Jika beliau mulai menyebut satu kata itu, ujung mata saya bisa jadi tiba-tiba basah. Hujan di sana. Betapa, waktu yang kita hibahkan sepanjang hari di sekolah harus memiliki satu tujuan yang puncak. Yaitu Allah. Kita harus menyiapkan banyak hal untuk kebaikan ummat saat ini dan pada waktu yang akan datang. Kita harus menyiapkan anak-anak kita menjadi pemimpin masa depan yang akan membela ummat. Menjadikan diri mereka menaruh akhirat di atas segala-galanya.

"Ada satu persen manusia yang akan menjadi pemimpin. Sementara ada sembilan puluh delapan persen yang bisa dikembangkan menjadi pemimpin. Sisanya yang satu persen adalah mereka yang tidak mau atau tidak bisa menjadi pemimpin." Kali ini beliau menjelaskan dengan wajah yang serius. Sekali.

"Sungguh. Tugas kita tidak ringan. Maka belajar dari Nabi Ibrahim sebagai sebaik-baik suami, sebaik-baik Ayah, yang demi abdinya kepada Allah, beliau meninggalkan Ismail yang saat itu tubuhnya masih merah. Lihatlah, tidak ada waktu yang cukup untuk Ibrahim bertemu Ismail di saat bayi."

Betapa, Nabi Ibrahim, Bapaknya para Nabi adalah teladan yang paling baik bagi seorang Ayah, bagi seorang pemimpin keluarga, bagi seorang pemimpin pada tugas-tugasnya, amanah-amanhnya.

"Jika begitu, Allah lah yang akan menjaga kami."

Ya, Allah lah yang akan menjaga keluarga kita saat kita menjalankan amanahNya dengan baik, penuh kesungguhan, dan serius. Seperti Allah menjaga Ismail dan Hajar. Sebab wala kita kepada Allah harus lebih besar daripada wala kita pada yang lainnya. Sebab atas amanah yang diberikan, kita telah menjadi karyawannya Allah.

Tentu, atas setiap masalah, jika kita menolong agama Allah, maka Allah juga akan menolong kita.

Wallahu 'alam bisshawaf.

Inayah Natsir, Makassar, 26 Juli 2019











Pengabulan Allah

Kita tidak pernah tahu, bisik hati mana yang akan Allah kabulkan. Kita tidak pernah tahu doa dari siapa yang akan Allah indahkan. Dan kit...